Oleh : Ja’far Umar*

ja'farJika menggunakan makna filsafat Islam secara luas, maka sebenarnya tradisi filsafat Islam pun pernah tumbuh subur di Nusantara. Sejumlah filsuf-sufi muncul di Aceh pada masa kekuasaan kerajaan Aceh Raya Darussalam (1511-1937 M), sebuah priode di mana Dunia Barat mulai menyemai benih-benih Kolonialisme di Nusantara. Dalam konteks ini dapat diambil tokoh-tokoh seperti Hamzah Fanshuri (w. 1607 M); Syamsuddin Sumatrani (w. 1630 M); Nuruddin al-Raniri (w. 1658 M); Abdur Rauf Singkel (w. 1694 M); Muhammad Yusuf Makassari (w. 1699 M); Abdul Samad Palimbani (w. 1789 M); Muhammad Nafis al-Banjari. Kesemua pemikir sebagaimana disebut ini, selain dikenal sebagai para pembaharu Islam di Nusantara pada abad XVII-XVIII M,[1] juga banyak dipengaruhi ajaran-ajaran filsafat Gnostik Ibn ‘Arabi, baik secara langsung maupun tidak.[2]

Di kawasan Aceh, tradisi filsafat Islam hanya berlangsung di Aceh selama dua abad, yakni pada abad XVI hingga abad XVII M. Pada masa ini, tasawuf/‘Irfan (Gnosis), sebagai salah satu aliran filsafat Islam, telah memainkan peran yang tidak kecil bagi proses Islamisasi Kepulauan Melayu pada abad ke-10 H/16 M dan ke-11 H/17 M, meskipun Islam telah muncul di kawasan ini sejak abad I Hijriah.[3] Tasawuf/’Irfan telah berkontribusi besar bagi pembentukan pandangan religius, spiritual, dan intelektual masyarakat Muslim Asia Tenggara.[4]

Beragam tariqat sufi muncul di kawasan Negeri-Negeri Bawah Angin ini, seperti tariqat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, Rifa’iyyah, dan lainnya. Yang tak kalah penting, filsafat Ibn ‘Arabi dan para komentatornya telah memasuki negeri Aceh sejak abad ke-9 H/15 M. Sejak saat itulah, ajaran-ajaran tasawuf/‘Irfan, khususnya filsafat Gnosis Ibn ‘Arabi telah dikenal di Dunia Melayu. Seterusnya tradisi ‘Arabian’ tersebut berhasil memikat hati para putra daerah Asia Tenggara, khususnya Aceh. Buktinya, sejak abad 11 H/17 M, komunitas intelektual Melayu menghasilkan karya-karya yang serupa dengan filsafat Ibn ‘Arabi. Adalah Hamzah Fanshuri dikenal sebagai ilmuan setempat pertama yang mengekspos ajaran filsafat Ibn ‘Arabi ke Dunia Islam Melayu, yang dikomunikasikannya melalui bahasa Melayu secara sistematik dan integral.[5]

Puncak dari keberlangsungan tradisi filsafat Islam di negeri Aceh ini terjadi pada masa kerajaan Aceh Raya Darussalam berkuasa, sebuah Kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara yang didirikan oleh Sultan Ali Mughaiyat Syah (916-936 H/1511-1530 M). Perkembangan intelektual dan spiritual di negeri Aceh tampak lebih terlihat nyata ketika sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah (997-1013H/1589-1604 M) dan Sultan Iskandar Muda (1016-1046 H/1607-1636 M) dinobatkan sebagai sultan Aceh. Perkembangan tradisi filsafat Islam pada era kerajaan ini memiliki karakteristik yang khas, bahkan mampu membentuk sebuah madzhab pemikiran, yang bisa disebut sebagai “madzhab Banda Aceh Darussalam”.

abdurrauf-al-singkli1a 787878Menilik historisitas ini, maka terlihat pada periode kebangkitan filsafat Islam di Persia yang ditandai dengan munculnya para pemikir “madzhab Isfahan” seperti Mir Damad dan Mulla Shadra, ternyata di Aceh juga muncul para komentator filsafat Gnosis Ibn ‘Arabi, seperti Syekh Hamzah Fanshuri (w. 1016 H/1607 M), dan Syamsuddin Sumatrani (w.1040 H/1630 M). Aliran pemikiran Hamzah Fanshuri dan pengikutnya dikenal dengan aliran Wujudiyyah. Para penulis sejarah Islam di Negeri-Negeri Bawah Angin (Asia Tenggara) mengakui bahwa Hamzah Fanshuri adalah salah seorang komentator utama terhadap filsafat Ibn ‘Arabi di kepulauan Melayu, khususnya di Aceh. Buktinya adalah bahwa tema-tema utama tulisan Hamzah, seperti halnya tema-tema filsafat Ibn ‘Arabi, berkenaan dengan konsep seperti Wahdatul Wujud dan Insan Kamil.[6](hd/liputanislam.com)

*Ja’far Umar adalah kandidat doktor filsafat dan agama UIN SU Medan

Catatan :

[1] Baca: Azyumardi Azra, Jaringan ‘Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII; Akar Pembaruan Islam Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005).

[2] Lihat, Zailan Moris,South-East Asia”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1134-1138. Kajian mendalam tentang perkembangan pemikiran Islam di Asia Tenggara, khususnya di kawasan Aceh pada abad XVI-XVII M, dapat dilihat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Raniri and the Wujudiyah of 17th Century Aceh, (Singapura: MBRAS, 1966); Idem, The Mysticism of Hamzah Fanshuri, (Kuala Lumpur: Universitas Malaya, 1970).

[3] Lihat: A. Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 351-353.

[4] Osman Bakar,Tasawuf di Dunia Melayu-Indonesia”, dalam Seyyed Hossein Nasr (Ed.), Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam; Manifestasi, terj. M. Solihin Arianto, dkk, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 339.

[5] Baharuddin Ahmad,Sastra Melayu”, dalam, Seyyed Hossein Nasr (Ed.), Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam; Manifestasi, Terj. M. Solihin Arianto, dkk, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 477. Bandingkan, John Bousfield, “Filsafat Islam di Asia Tenggara”, dalam, Azyumardi Azra, Perspektif Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), hlm. 181-224; Idem, Islam Nusantara; Jaringan Global dan Lokal, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 118-133; Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1977), hlm 40, 68-69, 94.

[6] Ahmad,Sastra Melayu”, hlm. 477. Bandingkan, Kautsar Azhari Noer,“Tasawuf Filosofis”, dalam, Nurcholish Madjid dan Budhy Munawar-Rachman (Ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2002), hlm. 174.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL