Oleh : Ja’far Umar*

ja'farSelain di Persia, filsafat Islam juga berkembang pula secara pesat di Iraq, terutama di Hawzah Najaf dan Hawzah Karbala, dua lembaga pendidikan Islam tradisional terbesar di negeri Seribu Satu Malam ini. Di kawasan ini dikenal tokoh semacam Agha Husein Badkuba’i (w. 1358 H); Syekh Muhammad Husein Gharawi Isfahani (w. 1361 H), yang menulis kitab Tuhfah al-‘Alim; dan Muhammad Baqir Shadr (1931-1980 M) yang menulis sejumlah kitab filsafat seperti kitab Ta’liqat ‘Ala al-Asfar, dan Falsafatuna. Para filsuf ini dikenal sebagai filsuf pembangkit tradisi filsafat di kawasan Iraq.

Para filsuf sebagaimana disebut di atas, telah berjasa mengembangkan tradisi intelektual di Dunia Islam, khususnya di Persia dan Iraq. Pemikiran para filsuf di atas banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Mulla Shadra. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Mulla Shadra memberikan pengaruh besar bagi dinamika intelektual pasca kekuasaan dinasti Safawi di Persia dan Iraq.

Meskipun dinamika tradisi intelektual era Modern telah didominasi oleh aliran filsafat Hikmah Muta’aliyah, namun aliran-aliran filsafat Islam lainnya seperti teologi, Parepatetisme, Gnosisme, dan Illuminasionisme, sebenarnya masih terus dikembangkan secara signifikan. Pernyataan ini didasarkan pada alasan bahwa filsafat Hikmah Muta’aliyah lahir sebagai aliran gabungan antara pelbagai aliran filsafat di atas. Pendiri aliran ini, yakni Mulla Shadra, berhasil mensintesiskan ajaran-ajaran pelbagai aliran filsafat tersebut. Oleh karena pelbagai aliran filsafat Islam di atas menjadi komponen pembentuk aliran Hikmah Muta’aliyah, maka jika seorang pemikir hendak mengkaji aliran filsafat Hikmah Muta’aliyah, tidak bisa tidak, pemikir tersebut harus memahami aliran-aliran pra-Hikmah Muta’aliyah.

Demikian pula halnya dengan para filsuf Persia, sebelum mereka mengkaji filsafat Hikmah Muta’aliyah, maka mereka harus mendalami aliran-aliran filsafat seperti Teologi, Parepatetisme, Gnosisme, dan Illuminasionisme. Walhasil, pelbagai aliran filsafat Islam di atas tetap terus dilestarikan sebagai jalan untuk memahami ajaran-ajaran Mulla Shadra. Alasan lain, banyak para filsuf Persia menulis karya-karya yang bercorak syarahan atas pelbagai karya para pendiri aliran-aliran filsafat tersebut, sebagaimana terlihat pada paparan di atas.

Selain berkembang di Persia dan Iraq, tradisi filsafat berkembang pula di luar dua kawasan ini. Akan tetapi kajian-kajian filsafat di luar kawasan Persia dan Iraq tersebut tidak sederas seperti kajian-kajian filsafat di kawasan Persia dan Iraq. Kebangkitan filsafat di Mesir dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani (w. 1315/1897 M). Al-Afghani dikenal sebagai filsuf penerus ajaran filsafat Hikmah Muta’aliyah di Universitas al-Azhar Kairo (Mesir). Al-Afghani disinyalir pernah mendalami filsafat secara serius di kota Teheran, Persia. Pada abad ke-14 H/20 M, dikenal seorang filsuf penting bernama Abdul Halim Mahmud, yang selain seorang sufi dan filosof Islam, dikenal pula sebagai seorang Syaikh di Universitas Al-Azhar. Sebagai pembangkit kajian filsafat, Syekh al-Azhar ini banyak melahirkan karya-karya penting di bidang tasawuf dan filsafat.[1] Pada priode Modern, para pengkaji filsafat semakin bermunculan seperti Muhammad Abduh, ‘Ali Abdurraziq, Ahmad Sanhuri, Taha Husain, Ahmad Lutfi al-Sayyid, Fuad Zakariya, Zaki Najib, Hasan Hanafi, Abdurrahman Badawi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan ‘Atif al-‘Iraqi.[2] Keberadaan para pemikir Muslim tersebut semakin menambah semarak kajian-kajian filsafat di kawasan Mesir.

Di Anak Benua India, filsafat Islam berhasil dikembangkan oleh Syah Waliyullah (1703-1762 M) dari Delhi. Syah Waliyullah dianggap sebagai penyemai ajaran filsafat Hikmah Muta’aliyah di kawasan India. Di samping itu, dikenal pula filsuf/sufi lain bernama Mulla ‘Abdul Hakim Siyalkoti (w. 1656 M); Mulla Mahmud Junpuri (w. 1652 M); Mirza Muhammad Zahid Harawi (w. 1707 M); Muhammad Ibnu Fadhillah Burhanpuri (w. 1620 M), Muhibbullah Ilahabadi; Dara Syikoh (w. 1659 M); dan Mirza Abdul Qadir Bidil (w. 1721 M). Pada priode India Modern, dikenal seorang komentator dan penerjemah karya-karya Mulla Shadra, yakni Abul A’la al-Maududi. Selain al-Maududi, dikenal pula tokoh-tokoh semacam Maula Muhammad Qasim Nanotwi; Maulana Rashid Ahmad Gangohi; Maula Muhammad Ya’qub dan Hajji ‘Abid Husayn, sebagai tokoh-tokoh pengkaji filsafat Islam di kawasan India.[3]

iqbalDi Pakistan, tradisi filsafat Islam pun mendapat angin di tangan para pemikirnya. Para priode Modern dikenal sejumlah pengkaji filsafat seperti Muhammad Iqbal (1877-1938 M), seorang filosof dan penyair asal Pakistan. Selain Iqbal, dikenal pula pengkaji filsafat seperti M.M. Sharif, C.A. Qadir, dan Zafar al-Hasan. Ketiga tokoh ini banyak menulis karya-karya sejarah dan pemikiran filsafat Islam. Pada priode ini pula dikenal para komentator ulung atas kitab-kitab Ibn ‘Arabi, yakni Dhahin Shah Taji, Muhammad Hasan Askari, dan Saleem Ahmed.[4]

Di Dunia Arab secara umum, kajian filsafat mendapat perhatian dari sejumlah pemikirnya. Pada priode Modern dikenal para pemikir Muslim seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Syekh Musthafa Abdul Raziq, Muhammad Azis Lahbabi, Ibrahim Madkour, Utsman Amin, Ali Sami al-Nashshar, ‘Abdurrahman Badawi, Zaki Najib Mahmud, dan Muhammad ‘Abid al-Jabiri.[5] Kesemua tokoh Muslim Arab ini banyak melakukan kajian terhadap filsafat, baik filsafat Islam maupun filsafat Barat. (hd/liputanislam.com)

*Ja’far Umar adalah kandidat doktor filsafat dan agama UIN SU Medan

Catatan

[1] Seyyed Hossein Nasr,“Pengantar ke Tradisi Mistis”, dalam Al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, Vol. 2, No. 4, 2001, hlm. 58.

[2] Lihat, Massimo Campanini, “Egypt”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1115-1128.

[3] Hafiz A. Ghaffar Khan,India”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1051-1070.

[4] M. Suheyl Umar,“Pakistan”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1076-1081.

[5] Lihat, Ibrahim M. Abu Rabi’,“The Arab World”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1082-1114.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL