Oleh : Ja’far Umar*

ja'farKetika bangsa Barat mulai menancapkan kekuasaannya di Dunia Islam, tradisi intelektual di Dunia Islam tetap terus dilestarikan oleh para ahli warisnya. Hanya saja, tingkat intensitasnya tidak sederas sebagaimana dinamika tradisi intelektual pada masa keemasan Islam, yaitu pada abad-abad VIII hingga abad XII M.

Dalam konteks perkembangan filsafat, jika pada priode keemasan Islam tradisi filsafat merentang luas di berbagai kawasan Dunia Islam, mulai dari Timur hingga Barat, namun pada priode Kolonialisme Barat, tradisi filsafat hanya berkembang di sejumlah kecil kawasan Dunia Islam. Kantong-kantong kajian filsafat hanya berada di sekitar wilayah Persia, Iraq, dan Anak Benua India yang didominasi oleh masyarakat Muslim Syi’ah. Karena itulah sementara ahli menyatakan bahwa tradisi filsafat hanya lestari di Dunia Islam Syi’ah. Kenyataan ini cukup kontras di Dunia Islam Sunni, karena tradisi filsafat kurang memperoleh apresiasi.[1]

Ada lima jenis aliran filsafat Islam yang berkembang pada priode Islam modern. Pertama Teologi Dialektik. Kedua, Filsafat Parepatetisme. Ketiga, Sufisme/Teosofisme. Keempat, Filsafat Illuminisme. Dan kelima, Filsafat Hikmah Muta’aliyah.[2] Kelima jenis aliran ini terus tumbuh subur bak jamur di musim penghujan, bahkan ketika Dunia Barat mulai ‘hengkang’ dari Dunia Islam. Namun kelima jenis aliran filsafat tersebut hanya berkembang secara signifikan di sebagian dunia Islam, seperti dinyatakan di atas.

Para ahli sejarah pemikiran Islam menyatakan bahwa tradisi filsafat Islam mencapai titik klimaks atas usaha Shadruddin Syirazi, yang populer sebagai Mulla Shadra (979-1050 H/1571-1640 M) yang hidup masa dinasti Safawi (1501-1736 M)[3] dan menjadi bapak filsafat Hikmah Muta’aliyah. Mulla Shadra dipandang telah berhasil mensistesiskan aneka macam aliran pemikiran sebelumnya, yakni Teologi, parepatetik, Illuminasi, dan Gnosis, serta ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Al-Quran, Sunnah, dan ‘Hikmah’ dari Nabi dan 12 Imam Syi’ah. Pemikiran filsafat Shadra ini tertuang di dalam magnum opus-nya, kitab Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah. Ketika sains dan teknologi mencapai puncaknya di tangan bangsa Barat mulai abad XV M, maka pada masa yang sama, filsafat Islam mencapai puncaknya berkat usaha Mulla Shadra ini.

muta'aliyahHikmah Muta’aliyah ini memberikan pengaruh besar bagi dinamika tradisi intelektual Islam modern, ketika Dunia Barat menjajah Dunia Islam. Kendati Mulla Shadra telah wafat, tetapi pemikiran-pemikirannya terus dikembangkan oleh para penerusnya seperti Mulla Muhsin Faidz Kasyani (1007-1091 H), Mulla Abdul Razaq Lahiji (w. 1071 H), Mulla Husayn Tankobani (w. 1105 H), Qadhi Said Al-Qommi (w. 1090 H) Agha Muhammad Beyd Abadi (w. 1097 H), Ummu Kaltsum (1019-1097 H), Muhammad Ibrahim (1021-1070 H), Zabidah Khatun (1023-1097 H), Nizhamuddin Ahmad (w. 1074 H), dan Ma’shumah Khatun (1033-1093 H). Pada penghujung kekuasaan dinasti Safawi, dikenal filsuf seperti Mulla Muhammad Shadiq Ardistani (w. 1134/1721 M) dan Mulla Hamzah Ghilani (w. 1134 H). [4] Selain sebagai pewaris filsafat Hikmah Muta’aliyah ini, sejumlah filsuf tersebut juga berfungsi sebagai ‘pelapang jalan’ bagi kajian-kajian filsafat pada priode kekuasaan dinasti Qajar (1779-1924 M) yang berpusat di Teheran. (hd/liputanislam.com)

*Ja’far Umar adalah kandidat doktor filsafat dan agama UIN SU Medan

Catatan

[1] Lihat: Seyyed Hossein Nasr, “Haji Mulla Hadi Sabzewari”, dalam, M.M. Syarif (Ed.), A History of Muslim Philosophy, (Weisbaden: Otto Harrassowitz, 1966), hlm. 1556. Idem, Theology, Philosophy, and Spirituality, Terj. Suharsono dan Djamaluddin MZ, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 87; Idem, Three Muslim Sages, Terj. Ach. Maimun Syamsudin, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005), hlm. 103; Toshihiko Izutsu, The Fundamental Structure of Sabzaweri’s Metaphysics; Introduction to the Arabic Text of Sabzaweri’s Sharh-i Manzumah, (McGill: Mcgill University Tehran Branch, 1969), hlm. 3; Fazlur Rahman, Islam, (Chicago: Chicago University Press, 1984), hlm. 181; Muhammad Abed al-Jabiri, Arab-Islamic Philosophy: a Contemporary Critique, (Yogyakarta: Islamica, 2003), hlm. 87; Mulyadhi Kartanegara, Pengantar, dalam Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Lentera, 2005), hlm. 18; Jalaluddin Rakhmat,Hikmah Muta’aliyah: Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam, Hasan Bakti Nasution, Hikmah Muta’aliyah; Pengantar Filsafat Islam Kontemporer, (Bandung: Citapustaka Media, 2006), hlm. x-xiv; Harun Nasution,Filsafat Islam”, dalam Budhy Munawar-Rachman (Ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 159.

[2] Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, hlm. 83; Bandingkan, Murtadha Muthahhari, Asyna’i ba ‘Ulum-e Islami, terj. Ibrahim Husein al-Habsy, dkk, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hlm. 325-329.

[3] Tentang dinasti Safawi ini lihat, Carl Brockelmann,hlm. 317-327; Masudu Hasan, History of Islam, (New Delhi: Adam Publishers & Distribution, 2007), hlm. 278-285, 391-394, 439-443; Maulana Akbar Shah Najeebabadi, History of Islam, vol. 3, (New Delhi: Adam Publishers & Distribution, 2007), hlm. 526-531; Muhammad Sohail, Administrative and Cultural History of Islam, (New Delhi: Adam Publishers & Distribution, 2002), hlm. 534-560.

[4] Nasr, Intelektual Islam., hlm. 84; Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Bagian I & II, Terj. Ghufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 463-464.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL