Oleh : Ja’far Umar*

ja'farKetika Dunia Barat mulai menaburkan benih-benih Kolonialisme, dan sebelum Dinasti Qajar berkuasa, filsafat Muta’aliyah terus dikembangkan oleh para filsuf Muslim Persia. Misalnya pada awal abad XIX M ada Mulla Isma’il Khajui (w. 1173 H/1760 M) di Isfahan yang menulis kitab Risalah fi Ibtha’ Ibathal az-Zaman al-Mauhum dan kitab Jami’ Asyitat; ada Mulla Ali Zunuzi (w. 1307 H/1890 M) di Teheran, menulis kitab Badayi’ al-Hikam; dan Mulla Hadi Sabzewari (w. 1878 M) di Masyhad yang banyak menulis kitab Syarh Mandzumah, Asrar al-Hikam, Hasyiyah al-Asfar al-Arba’ah, dan lainnya. Sabzewari disebut-sebut sebagai komentator ulung atas filsafat Muta’aliyah. Selain menulis karya-karya filsafat, Sabzewari pun berhasil mendidik sejumlah filsuf sebagai pewaris tradisi filsafatnya.[1]

Sejak dinasti Qajar berkuasa pada tahun 1779 M di Persia, kota Teheran (Iran) secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat. Sejumlah guru besar filsafat terkenal menghiasi dunia pemikiran Islam. Sebut saja misalnya Mirza Mahdi Asytiyani (1306-1372 H), penulis kitab Ta’liqah ‘ala al-Manzumah, Ta’liqah ‘ala Asfar al-Arba’ah, Ta’liqah’ ala a-Isyarat, Ta’liqah’ ala Fusush al-Hikam. Selain itu ada juga Sayyed Muhammad Kazim ‘Assar (1305-1394 H), penulis kitab Risalah dar Wahdat-e Wujud; Agha Fadhil Tuni (1309 -1380 H), penulis kitab Risalah dar Ilahiyat dan Hasyiyah Syarh al-Qaishari ala Fushush al-Hikam; Agha Muhammad Taqi’ Amoli (w. 1391 H), penulis kitab Hasyiyah Syarh Mandhumah; dan Mirza Rafi’i Qazwini (w. 1394 H). Semua mereka menjadi mercusuar pemikiran Islam modern.

thabathabai.thumbnailPada priode dinasti Pahlevi (1925-1979 M) dikenal sejumlah filsuf penerus tradisi filsafat Islam. Dalam hal ini dapat dikutip nama-nama seperti Thabathaba’i (1892-1981 M), penulis kitab Usul-i Falsafah wa Rawisy-i Ri’alism, Hasyiyah ba Asfar, Bidayah al-Hikmah dan Nihayah al-Hikmah; Imam Khomeini (1902-1989 M), penulis kitab Hasyiyah ‘ala Syarh Fushush al-Hikam dan Hasyiyah ‘ala al-Asfar; dan Murtadha Muthahhari (1920-1979 M), penulis kitab Adl-e Ilahi dan Syarh Usul-i Falsafah wa Rawisy-i Ri’alism.[2] Ketiga filsuf ini dikenal sebagai ahli waris ajaran filsafat Hikmah Muta’aliyah di kawasan Persia Modern.

Ketika dinasti Pahlevi berakhir pada tahun 1979 M, maka Republik Islam Iran berdiri. Pada masa ini banyak para filsuf terkenal. Selain sebagai filsuf, mereka pun menduduki sejumlah jabatan penting di pelbagai lembaga kenegaraan Republik Islam Iran. Pada priode ini dikenal filsuf seperti Muhammad Husein Behesyti (1928-1982 M), penulis kitab Allah min Wijhah Nazhar Islam; Ja’far Subhani (1347-? H), penulis kitab al-Ilahiyat; Jalaluddin Asytiyani (w. 2005 M), penulis kitab Tahafut-e Tahafut, Seh Rasail Falsafi ye Mulla Shadra, dan Syarh Manzhumah Sabzewari; Mehdi Ha’eri Yazdi, penulis kitab Heram-e Hasti, Ilm-e Huzhuri, Agahi wa Guwahi, dan Kawushyha-ye Aql-e Amali..

Selain itu ada Muhammad Taqi Misbah Yazdi, penulis kitab al Manhaj al-Jadid fi Ta’lim al-Falsafah, Syarh al-Asfar al-Arba’ah, Syarh Burhan al-Syifa’, Ta’liqah ‘ala Nihayat al-Hikmah serta Ta’liqah ‘ala Bidayah al-Hikmah; Mustafa Khomeini, penulis kitab Hasyiyah bar Syarh al-Hidayah, dan Hasyiyah bar Mabda’ wa Ma’ad; Ali Khamene’i,penulis kitab Honar; Hasan Zadeh Amoli, penulis kitab Syarh al-Manzhumah; Jawadi Amoli, penulis kitab Rahiq Makhtum, Asrar-e Namaz, dan Zan dar Ayeneh-ye Jamal va Jalal; Mohammad Mofatteh, penulis kitab Hasyiyah ‘ala Asfar al-Arba’ah; Gholam Husein Dinani, penulis kitab Wujud Rabith wa Mustaqil dar Falsafeh-ye Eslam, Qawa’id-e Kulli Falsafeh, dan Ma’ad az-Didgah-e Hakim Modarres Zunuzi; Seyyed Yahya Yathrebi, penulis kitab Philosophy of Mysticism. Keberadaan para filsuf Muslim Iran ini terus menyemarakkan kajian-kajian filsafat kontemporer, khususnya di Hawzah[3] Qom dan Hawzah Masyhad, dua buah lembaga pendidikan Islam tradisional Syi’ah terbesar di negeri Mullah ini. (hd/liputanislam.com)

*Ja’far Umar adalah kandidat doktor filsafat dan agama UIN SU Medan

Catatan

[1] Mehdi Aminrazavi,Persia”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (Ed.), History of Islamic Philosophy, (London-NY: Routledge, 2007), hlm. 1037; Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Lentera, 2005), hlm. 56.

[2] Aminrazavi,“Persia”, hlm. 1039.

[3] Hawzah dalam tinjauan bahasa berarti ‘wilayah’. Dalam konteks ini, berarti Hawzah bermakna wilayah yang dijadikan sebagai pusat pendidikan agama Islam bagi masyarakat Syi’ah Imamiyah, misalnya kota Qom dan kota Masyhad di Iran serta kota Najaf dan kota Karbala di Iraq. Di Dunia Syi’ah, Hawzah berfungsi sebagai lembaga pendidikan pengkaderan ‘ulama masa depan yang mirip dengan pesantren di Indonesia. Lembaga pendidikan ini mengajarkan ilmu-ilmu tekstual dan rasional, sehingga para pelajar dididik untuk menjadi mujtahid masa depan, tidak hanya di bidang hukum Islam, melainkan pula di bidang filsafat, irfan, teologi, tafsir, hadits, sastra, sejarah, dan lainnya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL