WANITA 1Seorang anak gadis datang kepada Rasulullah dalam keadaan bingung dan cemas, lalu mengatakan: “Ya Rasulullah! Bebaskan saya dari tangan ayah ini…”

“Tetapi, apa yang telah dilakukan ayahmu terhadapmu?” tanya Nabi.

“Ia mempunyai seorang kemanakan lelaki,” jawab gadis itu, “dan ia telah mengawinkan saya dengan lelaki kemanakannya itu sebelum menanyakan pendapat saya tentang hal itu.”

“Karena ia telah melakukannya,” kata Nabi: “Hendaklah engkau jangan menentangnya. Setujuilah hal itu, dan jadilah engkau istri saudara sepupumu itu.”

“Ya Rasulullah! Saya tidak suka pada sepupu saya itu. Bagaimana mungkin saya menjadi istri dari laki-laki yang tidak saya sukai?”.

“Apabila engkau menyukainya, ini memang pokok masalah. Engkau mempunyai hak penuh. Pergilah dan pilihlah laki-laki yang engkau sukai.”

“Kebetulan, gadis itu akhirnya mengakui, “saya sangat suka akan sepupu saya itu dan saya tidak menyukai siapa pun lainnya. Tetapi karena ayah saya melakukan hal ini tanpa meminta persetujuan saya maka dengan sengaja saya telah datang kemari untuk mengajukan pertanyaan tentang hal ini dan mendapatkan jawaban dan mendengarkan keputusan Anda. Saya akan memberitahukan semua wanita bahwa mulai sekarang para ayah tidak berhak mengambil keputusan mereka sendiri atau mengawinkan anak perempuan mereka dengan siapa saja yang mereka kehendaki.”

Pada masa sebelum Islam, orang-orang Arab maupun bukan Arab menganggap para ayah mempunyai wewenang penuh atas anak perempuan mereka, saudara perempuan mereka, bahkan dalam kasus-kasus tertentu, atas ibu mereka, dan dalam memilih suami untuk wanita-wanita tersebut, mereka tidak berpendapat bahwa wanita-wanita itu harus membuat keputusan sendiri dan menentukan pilihan sendiri. Hak dan wewenang itu hanya ada pada ayah atau saudara laki-laki, atau apabila si wanita tidak berayah atau bersaudara laki-laki lagi, maka adalah hak pamannya untuk mengawinkannya dengan siapa saja yang disukai pamannya itu. Hal ini telah dipraktikkan sedemikian jauhnya sehingga para ayah menyatakan bahwa dalam masalah ini mereka berhak mengawinkan anak perempuan mereka bahkan sebelum anak itu dilahirkan, dan apabila ia telah lahir dan dibesarkan, laki-laki kepada siapa ia telah dikawinkan hak untuk mengambil gadis itu.

Pada suatu hari, dalam perjalanan ibadah haji wada’ (haji perpisahan terakhir), ketika Nabi sedang menunggang kuda dengan memegang cambuk, datanglah seorang laki-laki yang mengatakan bahwa ia hendak menyampaikan pengaduan. Nabi menanyakan apa pengaduan itu. “Bertahun-tahun yang lalu,” kata lelaki itu, “pada masa jahiliah, saya dan Thariq ibn Marqa’ menyertai suatu peperangan. Dalam peperangan itu, Thariq sangat memerlukan sebilah tombak dan ia berseru, adakah seseorang yang mau memberikan kepada saya sebilah tombak dan menerima imbalannya untuk itu? Saya maju ke depan dan menanyakan apakah imbalan yang akan diberikannya itu. Ia mengatakan: “Saya berjanji bahwa anak perempuan saya yang pertama lahir akan saya besarkan untukmu.” Saya menerima tawarannya dan menyerahkan tombak saya kepadanya.

“Demikianlah urusan itu diputuskan, dan tahun-tahun pun berlalu. Akhirnya saya ingat akan perjanjian itu dan saya mengetahui bahwa istri Thariq telah melahirkan seorang anak perempuan dan bahwa anak perempuan itu telah aqil baligh dan ada di rumahnya. saya pergi kepadanya dan mengingatkan dia akan peristiwa dahulu itu dan menuntutnya agar memenuhi janinya. Tetapi Thariq mengingkari janjinya dan mulai menanyakan soal mahar kepada saya. Sekarang saya datang kepada Anda untuk mendapatkan keputusan siapa yang benar diantara kami.”

“Berapa umur gadis itu?” tanya Nabi.

“Dia telah baligh dan rambut putih telah muncul di kepalanya.”

“Sesuai dengan apa yang kau tanyakan kepada saya, baik Thariq ataupun engkau tidaklah benar. Kembalilah dan uruslah urusanmu sendiri dan biarkanlah gadis yang malang itu mengurus dirinya sendiri.”

Laki-laki itu tercengang mendengar jawaban Nabi itu. Sesaat ia termangu dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, keputusan macam apa ini. Apakah seorang ayah tidak berkuasa penuh atas anak perempuannya? Apabila ia membayar mahar kepada ayah dari anak gadis itu, dan apabila si ayah dengan sukarela menyerahkan anak gadis itu kepadanya, apakah itu pun salah juga?

Ketika melihat laki-laki itu tercengang dan bingung, Nabi mengerti akan pikiran orang itu, lalu beliau berkata: “Yakinlah bahwa bila kau turuti apa yang telah kukatakan, baik engkau maupun sahabatmu Thariq tidak akan menjadi orang yang berdosa.”

Nabi sendiri telah mengawinkan beberapa orang anak perempuan beliau. Beliau tidak pernah mengambil hak mereka untuk memilih suami. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib ra datang menghadap Nabi saw dan melamar Fathimah, Nabi berkata: “Beberapa orang telah datang kepadaku untuk melamar Az-Zahra, tetapi dengan ketidaksenangan pada wajahnya ia telah menolak lamaran mereka. Sekarang aku akan menyampaikan lamaranmu kepadanya.”

Nabi menemui putri beliau dan menyampaikan lamaran ‘Ali. Kali ini Fathimah tidak menggelengkan kepala tanda tidak suka, dan dengan bersikap diam dan tidak terganggu itu ia menyatakan persetujuannya. Nabi keluar dengan mengucapkan takbir, Allahu Akbar.(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL