Oleh :Salahudin Harahap

solahudinIslam memberikan penghargaan yang cukup tinggi terhadap seni dan estetika, bahkan dalam rentang perjalan sejarah sempat menjai salah satu aspek kebudayaan yang cukup membanggakan. Karenanya sangat pantas jika kita menunjukkan rasa salut kepada generasi terdahulu atas peninggalan karya arsitektur, kaligrafi serta berbagai karya sastra lainnya yang cukup mengagumkan.

Ketika menjelaskan konsep ilmu pengetahuan dalam Islam Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa seni merupakan suatu hal yang inheren dalam ilmu pengetahuan dan bahkan setiap aktifitas yang dilakukan manusia merupakan manifestasi keindahan dan kasih sayang Allah Swt (Traditional Islam in Modern World, 1981).

Hal ini berarti tidak ada satu tindakan pun dan tidak ada satu wujud pun yang terlahir tanpa di dalamnya termanifestasi keindahan Allah Swt. Dalam salah satu hadis ar-Rasul Saw, menyatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah sesuatu yang indah dan senang akan keindahan.

Tanpa ingin menelusuri keshahihan sanadnya, namun hadis ini dapat dilihat sebagai sebuah isyarat betapa keindahan atau seni memiliki hubungan yang amat erat dengan ketuhanan. Bahkan dalam khazanah filsafat memperhatikan nilai seni, keindahan dan keteraturan penciptaan alam semesta merupakan salah satu jalan menuju mepenganalan kepada Allah Swt yang disebut dengan jalan teleologi.

Keindahan adalah sesuatu yang abstrak merupakan nilai yang hendak dicapai dari sebuah karya seni, ia memiliki nilai universal, suci dan mandiri sehingga dijadikan sebagai salah satu sifat Allah yang maha Agung. Karenanya memberikan lebel indah “al-jamil” kepada Allah menunjukkan kemadirian dan universalitasnya sebagai salah satu sifat Allah sekaligus penegasan absoluditas kepemilikan Allah terhadapnya.

Karena ia merupakan sifat absolut, maka sebenarnya tidak ada suatu nilai pun yang dapat disetarakan dengannya dan tentu saja tidak ada yang dapat memahaminya secara paripurna. Dengan demikian persepsi manusia yang beragam terhadap keindahan adalah sesuatu yang rapuh dan leralif jika yang dimaksud adalah keindahan sejati. Sebab selama keindahan masih berada pada wilayah ketuhanan maka ia senantiasa identik dengan kebenaran dan memiliki karakter objektifitas yang lepas dari persepsi personality manusia.

Namun bersamaan dengan keniscayaan degradasi wujud menuju level terendah yakni materi atau fisik, keindahan pun mengalami proses desakralisasi, hingga kemudian memasuki ruang-ruang subjektifikasi di alam material. Pada saat inilah keindahan menjadi sangat rentan terhadap subjektifitas manusia selanjutnya budaya, geografis bahkan pada akhirnya ideologi masing-masing golongan manusia.

Ketika keindahan sudah terkungkung dalam persepsi subjektifitas setiap manusia, maka keindahan menjadi sangat plural dan bahkan relatif. Hal ini kemudian  berakibat pada munculnya kesimpangsiuran atau bahkan kekeliruan dalam mempersepsikan seni dan keindahan yang dicapainya.

Apa yang kita hadapi saat ini, sehubungan dengan kasus porno-aksi dan porno-grafi tidak lebih dari sebuah perbedaan dalam mempersepsikan sebuah keindahan atau seni yang sudah merasuki relung-relung subjektifikasi budaya, ideologi dan bahkan pemahaman keagamaan masing-masing. Disebabkan oleh ketidak jujuran dan pengingkaran atas kebenaran selanjutnya didasarkan pada keinginan mempertentangkan peradaban Timur-Barat, Islami-sekuler, theis-atheis, seniman-nonseniman akhirnya kita dihadapkan pada kesulitan dalam menentukan batasan seni dari non seni, keindahan dari keburukan, susila dari asusila.

Untuk dapat keluar dari persoalan ini kita harus kembali kepada ranah objektifitas dimana keindahan belum terpecah belah, seni masih memiliki konsep universalitas sebagai esensi-esensi yang melekat dalam keindahan Allah Swt, tentu dengan menelusuri jalan agama yang benar. Agama Islam adalah jalan yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui mana setiap orang dapat bergerak menuju-Nya.

Jalan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip ilahiyat; kebenaran, keindahan, keadilan, kasih sayang dan kesempurnaan. Berdasarkan hal ini Islam merupakan mizan  atau timbangan setiap persoalan yang dengan sengaja diberikan Allah sebagai pengawal setiap gerakan dan aktivitas manusia yang sedang berjalan menuju-Nya. Jika hal ini dapat diterima, maka setiap persolan mestinya dirujuk kepada prinsip-prinsip universal agama Islam, agar tidak terjebak dalam relatifitas dan subjektifikasi manusia, egotisme budaya dan hegemoni ideologis.

Berkat kasih sayang dan kekuasaan Allah Swt, setiap sifat-Nya turut bertajalli pada setiap tingkatan gradasi wujud alam material yaitu bentuk tubuh manusia termasuk tubuh seorang wanita. Keindahan atau nilai seni yang pada mulanya bernilai universal dalam bingkai keadilan dan kebenaran serta kasih sayang Allah, seolah telah menjadi relatif dan subjektif ketika ia memasuki keterbatasan ruang dan waktu.

Dalam kondisi ini lahirlah berbagai persepsi tentang keindahan ataupun seni yang terkadang lepas dari sifat-sifat kesejatian yang semestinya melekat. Padahal keindahan ataupun nilai seni yang teraktus di alam materi pada hakikatnya merupakan lambang atau manifestasi sifat-sifat Allah yang Abadi dan Maha Sempurna. Itulah sebabnya persepsi terhadap keindahan mesti didasarkan pada pengenalan terhadap karakteristik yang mendasarinya yakni; kebenaran, kasih sayang, keadilan dan kelembutan. Dengan demikian ia tidak dapat dinilai berdasarkan subjektifitas, egotisme, nafsu setan, kecurangan dan kesombongan apalagi dengan pengingkaran terhadap keberadaan sang pencipta.

Imam Ali ra berkata: “Allah Swt memulai penciptaan pada masa awal tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. Setelah mencipta ia memberikan waktunya kepada segala sesuatu yang tercipta, mengumpulkan variasi-variasi dan memberikan sifat-sifat kepada masing-masing. Allah  menetapkan corak wajah dimana ia mengetahui-Nya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batas dan kesudahannya” (Nahjul Balagah). Ucapan Imam Ali ra ini menggambarkan betapa Allah senantiasa menyertai setiap ciptan-Nya.

Karena setiap ciptaan disertai dengan tajalli keindahan Allah, maka tidak ada satu makhluk pun yang tercipta tanpa di dalamnya terdapat nilai keindahan. Para penyair abad pertengahan dan bahkan sebagian sufi menyatakan bahwa Allah Swt telah memanifestasikan keindahan-Nya jauh lebih banyak dalam penciptaan manusia terlebih perempuan dibanding makhluk lainnya.

Karenanya sangat pantas jika, tubuh perempuan diidentifikasi sebagai karya seni Tuhan yang paling sempurna. Karena setiap keindahan adalah anugerah Tuhan dan merupakan manifestasi kesempurnaan-Nya, maka ia harus tetap diposisikan dan dinikmati sebagai karya yang Maha Indah, tentu dengan cara-cara yang diizinkan oleh sang desainer. Hal tersebut sebenarnya sangat masuk akal, sebab yang paling berhak atas setiap karya seni adalah desainernya dalam hal ini Allah Swt.

Jika hal ini dapat diterima maka untuk dapat menimati keindahan karya seni ilahi secara paripurna, ikutilah petunjuk yang diberikan untuk menikmatinya. Karena itu, perintah menutup aurat dan menjaga kehormatan yang diwajibkan kepada wanita dalam konteks ini merupakan wujud dari keinginan Allah untuk menjaga kesempurnaan dan kesejatian karya seni-Nya tersebut.

Meskipun mereka manusia berusaha memberikan persepsi terhadap keindahan karya seni ini, namun usaha ini jangan dilakukan dengan kecurangan dan pelanggaran hak veto Sang Desainer, apalagi berusaha mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil dengan mengedepankan hawan nafsu, lalu memberikan nilai seni atau keindahan berdasarkan kecurangan-kecurangan ini dengan dalih kepentingan orang banyak, politik, sosial, dan bahkan ekonomis.

Pernyataan ini merupakan petunjuk betapa penilaian manusia terhadap hasil karya seni Allah dalam hal ini keindahan tubuh manusia sangat rapuh dan tidak beralasan. Karenanya persoalan batas wilayah porno dari seni dan keindahan tidak dapat dikembalikan pada ukuran hawa nafsu dan kesepakatan manusia yang tidak profesional, melainkan harus dikembalikan kepada sang desainer pemilik keindahan atau berdasarkan petunjuk-Nya yakni agama.                        

*Salahuddin Harahap adalah dosen fakultas ushuluddin IAIN SU

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL