Oleh Ahmad Hifni*

persatuan islamSunni dan Syiah merupakan dua mazhab yang paling penting dalam Islam, dengan sebagian besar umat Islam di dunia menggunakan keduanya sebagai pijakan utama.

Dalam perspektif historis, sesungguhnya para imam Syiah dan ulama Sunni pada masa lampau tidak mempertentangkan perbedaan ijtihad mereka. Setiap orang saling menghargai dan tidak ada yang saling melecehkan ijtihad masing-masing. Mereka memahami bahwa mereka bagian dari keluarga umat Islam. Faktanya, mereka hidup berbaur dan tidak sedikit pun menyalakan api perpecahan.

Hubungan harmonis tersebut terlihat dari hubungan para pemuka mazhab, seperti Zayd bin Ali, imam Syiah Zaidiyah yang belajar fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah, salah satu imam Sunni. Sedangkan Abu Hanifah belajar hadis dan ilmu-ilmu lainnya dari imam Ja’far Shadiq, imam Syiah. Mereka tidak berbeda pendapat perihal fundamen agama, perbedaan terjadi dalam memahami hukum-hukum yang bersifat partikular (al-ahkam al-far’iyyah). Karena itu, perbedaan mereka dalam hal-hal yang parsial, sejatinya merupakan rahmat, berkah, potensi, dan keluasan.

Kondisi tersebut terus bertahan hingga pertengahan abad IV Hijriah dan mulai melemah pada masa dinasti Abbasiah. Mereka kemudian terpetakan dalam polarisasi akibat faksionalisasi politik. Konsekuensinya, lahirlah fanatisme mazhab sebagai cikal-bakal munculnya permusuhan antara Sunni dan Syiah. Ulama dari kedua mazhab tersebut mempersempit kajiannya pada apa yang dipelajari dari imam dan syekhnya (baca: ulama besar), lalu fanatik, kemudian menyerang dengan keras pandangan yang tidak sejalan dengan dirinya.

Sektarianisme Sunni-Syiah terus berkembang akibat pengaruh politik. Kolonialisme memecah belah persatuan umat Islam, khususnya Zionisme yang menggunakan kekuatan militer dan segala tipu daya lainnya. Sungguh yang lebih memprihatinkan, politik friksionis yang dilakukan oleh kolonialisme Zionis sangat aktif dan dinamis di sejumlah dunia Islam hingga saat ini. Mereka memperjualbelikan konflik dengan mengatasnamakan agama.

Padahal, konflik yang terjadi di antara kalangan Sunni dan Syiah sungguh merupakan konflik politik dan bukan konflik keagamaan. Konflik politik akan mengakibatkan luka yang sangat mendalam, sedangkan konflik keagamaan menjadi rahmat.

Perbedaan mendasar dalam kedua konflik tersebut adalah,

Pertama, konflik sektarian dan bernuansa politik. Konflik ini menanam kebencian di dalam hati sanubari umat, sehingga memporak-porandakan persatuan umat. Maka, meluruskan konflik yang bernuansa sektarian dan politis merupakan sebuah keniscayaan, karena konflik itu dapat menumbuhkan nalar dan sikap diskriminatif di kalangan umat Islam.

Kedua, konflik bernuansa keagamaan, khususnya fikih dan mazhab. Konflik pada ranah ini bukanlah persoalan, karena membuktikan dinamika dan revitalisasi. Konflik tersebut dibangun atas dasar perdebatan dengan menggunakan berbagai perspektif, analisis, dan tradisi keagamaan. Sejauh perdebatan menggunakan sumber yang sama, yaitu Al-Quran, sunah, dan tidak mengingkari dasar-dasar yang sudah mapan.

Tidak ada perbedaan perihal fundamen agama antara Sunni dan Syiah. Sebagaimana para imam mazhab Sunni yang sangat populer, yaitu imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Ahmad bin Hanbal, dan imam Syafi’i, adalah para ulama yang mempunyai tempat terhormat di mata para ulama fikih Syiah. Sebaliknya, para ulama fikih Sunni tidak mengabaikan keberadaan ulama fikih ahlul bait, mereka menganggap imam Ja’far Shadiq sebagai ulama fikih yang paling cemerlang pada zamannya.

Adapun ulama-ulama Sunni menerima lebih seratus orang perawi hadis dari kalangan Syiah. Sebaliknya, kalangan Syiah juga menerima hadis dari kalangan sunni seperti dikatakan Syekh Muhammad Hasan Shadar dalam kitabnya Al-Syiah, “Syiah selalu menerima hadis dari kalangan Sunni, apabila diketahui perawinya jujur dan kuat hafalannya.” Di sinilah dapat kita temui fakta historis titik temu Sunni-Syiah.

Ketika konflik Sunni-Syiah terus terjadi akibat friksi politik, justru di seantero dunia umat manusia membangun aliansi dalam komunitas. Mereka berbondong-bondong membangun kesepakatan bisnis dan politik, meskipun berbeda keyakinan, prinsip, ideologi, dan pandangan. Pertanyaannya, mengapa umat Islam, baik Sunni maupun Syiah, tidak membangun kekuatan besar? Bukankah Tuhan kita satu, nabi kita satu, kitab suci kita satu, dan kiblat ibadah kita juga satu?

Tidak dimungkiri lagi, faktor utama yang menyebabkan jatuhnya umat Islam adalah keterbelahan dalam berbagai golongan, aliran, dan partai. Padahal Islam merupakan agama yang mempunyai tujuan mulia untuk melanjutkan tonggak pilar kemanusiaan sebagai landasan bagi tegaknya kebenaran, keadilan, dan kesetaraan, khususnya dalam membangun masyarakat yang humanis, aman, tenteram, dan sejahtera.

Kenyataannya, sangat ironis, penganut mazhab Sunni dan Syiah mudah terjerumus dalam konspirasi pihak ketiga. Sikap kita selama ini seolah-olah memberikan angin segar bagi misi yang dilancarkan mereka untuk memecah belah persatuan umat Islam.

* Peneliti Moderate Muslim Society (MMS) sumber tulisan http://www.tempo.co/read/kolom/2015/03/20/2009/titik-temu-sunni-syiah

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL