kalilaPatut disebutkan bahwa seni lukis Islam kurang berkembang sejak awal-awal pemerintahan khalifah-khalifah penguasa Islam, baik di tanah Arab maupun di negara-negara Islam lainnya. Sungguhpun menurut penelitian sejarah, ada beberapa karya seni lukis dalam bentuk lukisan dinding, ditemukan pada masa pemerintahan daulat Umayyah dan daulat Abbasiyah di Syria dan Mesopotamia. Tetapi karya lukis ini tidak memberikan suatu alternatif tentang siapa pelukisnya; apakah seniman Islam atau seniman non-Islam yang sengaja dipekerjakan oleh khalifah-khalifah tersebut, untuk memenuhi selera keindahan penguasa Islam.

Lantas bagaimana perkembangan seni lukis Islam berikutnya?

Di samping sebagian para ulama yang memberatkan atau mengharamkan pelukisan atau penggambaran makhluk-makhluk bernyawa, sesuai dengan bunyi hadis-hadis yang telah disebutkan, ada juga sebagian ulama yang membolehkan (menghalalkan) penciptaan dengan lukisan dan gambar setiap makhluk bernyawa; asalkan para pencipta (seniman) itu tidak mempunyai niat atau maksud untuk menyelewengkan hasil lukisan atau gambar itu kepada hal-hal yang merusak akidah atau keimanan umat Islam terhadap keesaan Allah sebagai yang Maha Pencipta. Hasil ciptaan itu semata-mata hanyalah untuk hiasan saja. Jadi, kebolehan mencipta lukisan dan gambar makhluk bernyawa didasarkan pada niat baik serta tujuan hasilnya.

Alasan para pakar dan ulama Islam untuk membolehkan setiap orang melukis dan menggambarkan makhluk bernyawa, di dasarkan pada keadaan zaman atau masa sekarang ini, di mana umat Islam telah memiliki akidah yang kuat terhadap keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Maha Pencipta, dengan segala konsekwen tunduk dan patuh terhadap ajaran-ajaran Islam yang telah dianutnya. Yang tentunya, setiap karya cipta lukisan dengan objek-objek makhluk bernyawa itu dianggap hanyalah sebagai pengungkapan rasa seni dan keindahan belaka tanpa pretensi terhadap apa yang dikhawatirkan oleh para kaum ulama sebagai orang yang menganggap dirinya sebagai maha pencipta.

Ternyata dugaan para kaum ulama serta para pakar-pakar Islam yang membolehkan pelukisan atau penggambaran makhluk bernyawa, telah lama dipikirkan oleh para penguasa-penguasa Islam sejak zaman awal pemerintahan Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah, dengan segala sikap moderatnya turut mendorong dalam pertumbuhan serta pengembangan seni lukis Islam dengan objek lukisan makhluk-makhluk bernyawa. Sikap ini dibuktikan dengan memerintahkan orang-orang seniman membuat lukisan di dinding istananya yang indah dan megah yakni istana Qusayr Amra (724 M), istana Qashr al-Hair (728 M), maupun istana Jausaq al-Khagani (833 M).

Demikian pula para penguasa-penguasa Islam Persia maupun di India serta di Mesopotamia, banyak mendorong para ahli seni untuk lebih banyak mencipta lukisan-lukisan yang berbobot, sehingga dengan adanya dorongan para penguasa Islam di tempat-tempat tersebut banyak melahirkan karya-karya seni lukis yang memiliki kualitas yang tinggi, baik dari segi teknik, ungkapan tema serta isi lukisan dan hsil karya cipta lukisan ini banyak mendapat pujian yang tinggi dari kalangan pakar-pakar seni yang berkecimpung dalam dunia seni rupa. Corak lukisan inilah yang disebut seni lukis miniatur, dimana corak lukisan ini satu-satunya yang dimiliki serta diwariskan oleh dunia seni rupa Islam.

Seni lukis miniatur tidak ubahnya seperti bentuk gambar ilustrasi pada buku-buku yang sering kita temukan sebagai bahan bacaan menarik. Dalam suatu naskah atau buku-buku bacaan; baik buku yang bersifat dongeng atau cerita, ilmu pengetahuan, sejarah dan sebagainya, sering pada lembaran-lembaran tertentu dalam buku tersebut termuat gambar-gambar sebagai penjelasan uraian. Dan hal seperti inilah yang kita temukan dalam buku-buku naskah di Mesopotamia dan Persia; di mana penggunaan seni lukis miniatur ini dipakai untuk menghiasi buku-buku tentang sejarah kepahlawanan, cerita dongeng atau legenda, ilmu pengetahuan dan seni.

Buku-buku atau naskah yang banyak memuat gambar-gambar miniatur di antaranya adalah : Maqamat dan Kalila wa Dimmah, di mana kedua buku ini dianggap merupakan karya seni lukis miniatur terbesar dalam sejarah kesenian Islam. Maqamat (pertemuan) merupakan buku yang mengandung cerita legenda dan syair-syair yang disertai dengan lukisan-lukisan bianatang dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan buku Kalila wa Dimmah adalah merupakan buku yang mengandung cerita dongeng yang memuat 92 buah lukisan miniatur yang memiliki daya ekspresi luar biasa. Dalam buku ini diceritakan peran binatang yang tingkah laku seperti manusia, yang dengan segala pembawaan dan tingkahnya mampu memberi suatu suri tauladan kepada manusia.

maqamat

Kemudian buku-buku yang memuat gambar-gambar miniatur yang tidak kalah pentingnya adalah Kitab al-Aghani (buku pengetahuan tentang seni musik dan seni suara), Kitab Manafi al-Hayawan (buku pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan), Dawat al-Athibba (buku pengetahuan tentang pengobatan). Demikian beberapa buah buku yang dihasilkan oleh kesenian Islam yang memuat gambar-gambar miniatur sebagai ilustrasi buku yang ditemukan di Mesopotamia, Persia, Syria, maupun Turki dan India. Beberapa di antara buku-buku tersebut masih dapat ditemukan dibeberapa museum, misalnya Kitab al-Aghani yang terdiri dari 20 jilid (sekrang hanya tinggal 6 jilid) tersimpan di Museum Kairo (2 jilid), museum Istanbul (3 jilid), dan Museum Copenhagen (1 jilid).

Dengan munculnya seni lukis miniatur di Mesopotamia, Persia, Turki, dan India, yang membawa pengaruh positip dalam pertumbuhan dan perkembangan seni lukis Islam, di mana ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh seniman pelukis miniatur yang terkenal seperti al-Hariri, Diyarbakir, Ahmad Musa, Mahmud Syah Kalim, Ibnu Bakhtisyu, Rashiduddin, Muhammad Husain, Mir Sayid Ali, Abdusshamad, dan lain-lain.

Kalau kita menyimak dari semua hasil seni lukis miniatur ini, yang menjadi objek dan tema lukisan adalah gambar-gambar manusia dan jenis-jenis hewan yang diramu sedemikian rupa dengan pola-pola hias hingga melahirkan suatu karya seni lukis yang memiliki ciri khas seni lukis Islam. Dan hasilnya masih banyak diketemukan serta tersimpan baik di beberapa museum di Eropa dan beberapa negara Asia, seperti Turki, Persia dan India.

Ini membuktikan bahwa para penguasa Islam seperti di Persia, India (zaman Moghul) serta beberapa negara-negara Arab yang berpikiran moderat, tidak keberatan dengan usaha mencipta lukisan dengan objek makhluk-makhluk bernyawa. Jelas, keadaan ini adalah suatu kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri faktanya, dan juga merupakan suatu tolok ukur terhadap kebudayaan dan kesenian Islam, di mana ajaran agama Islam menganjurkan kepada setiap pemeluknya agar mencintai keindahan; karena keindahan itu adalah sebagian daripada iman. (hd/liputanislam.com)

*Disadur dari buku Seni Rupa Islam : Pertumbuhan dan Perkembangannya karya Oloan Situmorang.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*