natalIslam tidak menjadikan perbedaan agama untuk membuat diskriminasi dalam interaksi sosial. Karena  menurut ajarannya, kebebasan merupakan hak asasi yang tidak boleh diganggugugat (QS. Al-Baqarah:256). Karena itu, interaksi sosial dengan pemeluk agama lain, hanya mungkin terwujud apabila terjalin sikap saling pengertian dan saling menghormati dengan sesama pemeluk agama, walaupun terdapat perbedaan mendasar dalam hal akidah dan syariat. Salah satu hal yang menjadi ciri dalam interaksi sosial di kalangan intern umat Islam ialah ucapan salam. Namun, hal tersebut menjadi salah satu perbedaan ulama ketika ia ditujukan kepada pemeluk agama lain, termasuk kepada ahl-al-kitab.

Al-Quran tidak secara tegas berbicara mengenai salam dalam kaitannya dengan ahl al-kitab. Pembahasan mengenai salam ditemukan dalam hadits Rasulullah saw:

Telah menceritakan kepada kami Qutaybah, telah menceritakan kepada kami ‘Abd Al-‘Aziz ibn Muhammad, dari Suhail ibn Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah kamu memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani, dan apabila kamu menemukan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah mereka ke pinggir.” (H.R. at-Tirmidzi)

Agaknya, hadits tersebut ditujukan kepada kaum ahl al-kitab yang menunjukkan permusuhan kepada umat Islam dan tidak berlaku umum kepada semua ahl al-kitab. Karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memulai salam kepada ahl al-kitab. Menurut An-Nawawi, mendahului mengucapkan salam kepada ahl al-kitab hukumnya makruh. Sementara Al-Mubarakfuri menyatakan bahwa larangan dalam hadits tersebut menunjukkan haram. Sedangkan Al-Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa mendahului ahl al-kitab mengucapkan salam hukumnya boleh apabila hal seperti itu dibutuhkan. Akan halnya jika kaum ahl al-kitab mendahului umat Islam mengucapkan salam, maka ulama sepakat, wajib hukumnya bagi umat Islam untuk menjawab salam tersebut. Dalam masalah ini, Rasulullah saw bersabda:

Telah menceritakan kepada kami Utsman Ibn Abi Syaybah, telah menceritakan kepada kami Husayn, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah ibn Abi Bakr ibn Anas, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik ra. Dia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: apabila ahl kitab mengucapkan salam kepadamu, katakanlah wa ‘alaikum”.

Hal yang terkait dengan salam, ialah ucapan selamat untuk menghormati pemeluk agama lain dalam hubungannya dengan peringatan hari besar keagamaan, seperti mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani dan memperingati kelahiran Nabi Isa as. Meskipun umat Islam dan kaum Nasrani sama-sama mempercayai bahwa Nabi Isa as. Tetapi tingkat kepercayaan dan keyakinan antara keduanya sangat berbeda. Umat Islam mempercayai Nabi Isa as. Sebagai Nabi dan Rasul Allah, sedang kaum Nasrani mempercayainya sebagai Allah. Karena itu, ucapan selamat Natal kepada kaum Nasrani seolah memberikan kesan bahwa umat Islam telah membenarkan keyakinan mereka tentang Nabi isa as. Dalam masalah ini, M. Quraish Shihab mengatakan:

“Natalan, walaupun berkaitan dengan Nabi Isa as. Al-Masih, manusia agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantar kepada pengaburan ‘aqidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan ‘aqidah Islam.”

Ucapan selamat Natal memang dapat menjadi kontroversial jika hal tersebut dikaitkan dengan konteks ‘aqidah, maka wajar jika lahir fatwa yang melarangnya. Akan tetapi hal tersebut akan menjadi lain jika dikaitkan dengan konteks hubungan sosial kemasyarakatan dalam rangka menjalin hubungan harmonis antarsesama pemeluk agama. Selanjutnya, M. Quraish Shihab menjelaskan:

“… Jika ada seseorang yang ketika mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan situasi di mana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan ‘aqidah bagi dirinya maupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu.”

Dari keterangan tersebut dapat dinyatakan bahwa ucapan selamat Natal yang disampaikan kepada kaum Nasrani pada dasarnya boleh apabila dalam konteks memelihara hubungan yang harmonis dalam interaksi sosial. Walaupun perlu segera dinyatakan bahwa ucapan selamat Natal tersebut tidak boleh dipahami sebagai pernyataan membenarkan dan menyetujui kepercayaan kaum Nasrani. Ucapan selamat Natal sebatas dimaksudkan sebagai ungkapan penghormatan dan pendamaian dalam kehidupan bermasyarakat sebagai sesama umat beragama.

*Disadur dari buku Ahl al-Kitab : Makna dan Cakupannya karya Dr. Muhammad Galib M.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL