sains

“Dalam pandangan saya, sains menawarkan jalan yang lebih pasti menuju Tuhan ketimbang agama. Benar atau salah, fakta bahwa sains benar-benar maju ke titik di mana apa yang sebelumnya merupakan pertanyaan-pertanyaan religius dapat ditangani sendiri secara serius, mengindikasikan konsekuensi-konsekuensi fisika baru yang merentang jauh.” (Davies,2002: v)

Ungkapan Paul Davies di atas telah mewakili juru bicara sains abad ini, dimana sains dianggap menjadi ukuran satu-satunya kehidupan manusia. Apa yang dinilai sains sebagai benar, maka diterimalah hal itu oleh manusia, dan yang dinilai sains sebagai mitos maka dipercaya manusia sebagai mitos pula. Sains bukan hanya telah menjadi kendali pikiran, tetapi juga pengontrol perilaku. Sains menjadikan para saintis sebagai pemandu utama manusia menuju kebahagiaan dibandingkan para saint (santo/orang suci).

Posisi sains yang begitu sentral didukung pula oleh perkembangan teknologi dari sisi praktisnya. Hal ini membuat takjub sebagian orang, tetapi membuat khawatir sebagian lainnya. Bagi yang takjub, sains dan teknologi adalah puncak kreativitas manusia dalam menaklukkan alam, sedangkan bagi yang khawatir, sains dan teknologi akan merusak alam semesta. Bagi yang takjub, sains dan teknologi akan memberikan berkah, tetapi bagi yang khawatir, sains dan teknologi berpotensi mendatangkan bencana. Bagi yang takjub, sains dan teknologi membantu mengatasi penyakit yang ada, namun bagi yang khawatir, sains dan teknologi akan mendatangkan penyakit-penyakit baru yang lebih berbahaya. Bagi yang takjub, sains dan teknologi memudahkan pekerjaan, tapi juga memperbanyak pengangguran. Sains dan teknologi telah menciptakan mesin-mesin raksasa yang mengolah alam untuk kepentingan manusia, tetapi juga telah mengakibatkan manusia menjadi mesin-mesin mekanis yang kehilangan kemanusiaannya.

Ketika seorang ilmuwan menemukan teori gelombang dan cahaya serta bisa membuat alat perekam gambar dan suara, maka, manusia bisa merekam berbagai kegiatannya, mulai dari pelajaran sampai acara keluarga. Namun, alat itu juga bisa digunakan untuk memuaskan nafsu manusia dengan menampilkan gambar dan film-film cabul yang merusak jiwa dan kehidupan masyarakat. Dalam kondisi ini, kita dihadapkan pada persoalan moralitas (etika) yang mana sains dan moral bertanding untuk menjadi pengelola kehidupan.

Inilah yang menimpa dunia kita saat ini yaitu kehampaan nilai-nilai moralitas. Hal ini merupakan dampak sekularisme yang memisahkan jasad dan ruh, materi dan immateri, rasio dan iman, sains dan moral. Pengagungan ekstrim pada kebebasan ilmiah mengubah manusia menjadi  ‘binatang-binatang buas yang berilmu,” yang hidup dalam kepalsuan dan keterasingan. Terasing dari alam semesta, dan terasing pula dari kemanusiaannya. Akibatnya beragam krisispun melanda.J. Donald Walters (2003: 3-4) dengan baik melukiskan hal ini :

“Kita sekarang ini hidup di zaman krisis. Tanda-tandanya dapat dilihat di mana-mana: dalam pertentangan global yang kuat dari ideologi-ideologi sosial yang tak sepaham; dalam kebingungan spiritual yang dipicu oleh pengetahuan modern; dalam tantangan terhadap konsep-konsep moral kuno tentang amoralitas yang sinis dan terus berkembang; dalam pola hidup serba cepat dan kacau yang sungguh-sungguh menyerang kesehatan jiwa kita. Kita berbicara tentang perdamaian, meskipun tahu dalam hati bahwa perdamaian bukanlah hasil dari kegelisahan, ketakutan, dan keraguan. Kita berbicara tentang kemakmuran, namun menyeret diri kita sendiri ke dalam utang yang mencemaskan. Kita meneriakkan ‘kemerdekaan’, namun menyamakan cita-cita ini dengan kebebasan orang lain untuk menjadi persis seperti diri kita sendiri. Kita memuji-muji persamaan hak, meskipun kata itu sering kali dibuat menjadi hukuman bagi keunggulan, dan ‘kebersamaan’ menjadi slogan yang membelenggu inisiatif… Sains memberikan begitu banyak berkah, juga mendatangkan ujian terbesar yang pernah dihadapi umat manusia. Masalahnya bukan apakah kemajuan ilmu pengetahuan akan menjadi sebab kehancuran manusia. Tetapi, yang dipertaruhkan adalah kemampuan kita untuk menyeimbangkan prestasi lahiriah dengan pencerahan batiniah.

Lantas, apakah kita harus pasrah dengan keadaan ini? Tentu saja tidak. Dibalik krisis selalu ada yang berpikir kritis. Senantiasa ada hikmah di samping bencana, yang mana masih banyak manusia mengakui dan memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupannya seperti diungkap Walters dalam optimismenya berikut :

“Namun demikian, dari sudut pandang manusia, mungkin di sini ada harapan untuk menemukan nilai-nilai yang tetap, dan oleh karena itu mengalahkan pandangan menyedihkan dari ilmu pengetahuan bahwa nilai-nilai itu tidak ada. Dari sudut pandang kita, bagaimanapun juga, ada hal-hal seperti kerjasama, kehormatan, dan kejujuran. Ada juga kualitas-kualitas yang berlawanan, ketidaksetiaan, kelemahan karakter, dan ketidakjujuran, yang merupakan sifat-sifat yang tidak disetujui semua orang.”

Begitulah, kita harus menjaga dinamika sains dan moralitas dalam suatu persandingan bukan pertandingan. Persandingan antara semesta makro dan manusia mikro. Sebab, sains berpijak pada fenomena semesta, dan moral berdasar pada kebajikan manusia. Sains membawa kita pada beragam penemuan teoritis, sedangkan moral mengarahkan kita dalam penggunaan praktis. Sains membicarakan salah dan benar, maka moral membahas baik dan buruk. Sains bekerja melalui data-data ilmiah, maka moral mengabdi dalam perbuatan-perbuatan amaliah. Karena itu, sains dan moralitas adalah dua hal yang tak boleh dipisahkan. Memisahkan sains dan moralitas, sama dengan memisahkan manusia dari kemanusiaannya. Sebab berkah atau kutuk yang diberikan sains, tergantung pada sendi-sendi moralitas yang kita pegang.

Karena itu mempersandingkan sains dan moral adalah proyek besar abad ini. Di saat dunia dilanda manusia-manusia yang menyalurkan hasratnya yang hedonis, maka sudah selayaknya, moral kembali menduduki fungsi mahkota yang mengarahkan kerjanya para saintis. Saat jasad dimanjakan oleh kaum materialis, sudah sewajarnya, moral membuktikan bahwa manusia butuh cinta dan kasih yang harmonis. Saat kebebasan diagungkan oleh kaum liberalis, sudah semestinya moral menunjukan bahwa ‘keteraturan’ adalah pilihan sejati yang humanis. Saat sains membanggakan diri atas beragam penemuan, maka moral mengingatkannya dalam ragam pengunaan.Sebab terkadang temuan-temuan itu merupakan produk syahwat manusia rendahan. Saat sains menjadikan “manusia dipertuhankan”, maka sudah semestinya moral memandu kita untuk menghadirkan “Tuhan dalam kemanusiaan.” (hd/liputanislam.com)

Ref.

Paul Davies. Tuhan, Doktrin dan Rasionalitas. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002.

J. Donald Walters. Crises in Modern Thought. Jakarta, Gramedia, 2003.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL