Ruh manusiaSufi besar Islam, Imam Al-Ghazali membahas tentang ruh secara sufistik sekaligus mengutip Alquran dan hadits. Saat menjelaskan tentang Q.S. An-Nur : 35, Al-Ghazali memisalkan Wujud Murni dengan matahari dan ruh manusia dengan cahaya dasar.  Wujud Murniberhubungan dengan ruh seperti matahari berhubungan dengan cahaya dasar. Sinar mentari ini termasuk urusan Tuhan (QS. Al-Isra’: 85).

Al-Ghazali juga berbicara tentang ruh dalam konteks suatu energi kehidupan yang memberikan kekuatan pada raga yang membandingkannya dengan radiasi cahaya lampu yang menerangi raga. Jadi, ruh adalah sebuah sumber spiritual yang menghidupkan raga dan mengendalikannya. Al-Ghazali menggolongkan jiwa manusia ke dalam empat tingkat: (1) jiwa indrawi, (2) jiwa imajinatif, (3) jiwa rasional, (4) jiwa transendental.

Para pemikir Muslim maupun doktrin Alquran, meyebutkan bahwa eksistensi dan pengetahuan menyatu dalam ruh. Ia adalah ‘aql dan eksistensi. Sedangkan pada tingkat realitas berikutnya (yang lebih rendah), pengetahuan dinisbahkan pada jiwa dan eksistensi para raga. Al-Razi memercayai ruh abadi, dan akal manusia diciptakan dari substansi Ilahi. Ide-ide Ibn Miskawaih memperlihatkan pengaruh Plato. Dia menyatakan bahwa esensi jiwa adalah gerak. Gerak ini ada dua jenis: satu menuju akal dan yang lain menuju materi. Gerak pertama membawa manusia semakin dekat pada sumber akal dan karena itu tercerahkan serta pada gilirannya menerangi materi. Hal ini menunjukkan aspek transendental diri manusia yaitu ruh dan aspek indrawi yaitu nafs.

Setiap bahasan tentang ruh tidak akan sempurna tanpa menyebutkan filosof Shadrudin as-Syirazi atau Mulla Shadra. Dia berpendapat bahwa hubungan jiwa dan raga tidak sama dengan hubungan bentuk fisis biasa dan materinya.Semua bentuk fisis inheren dalam materi-materinya sedemikian rupa sehingga keduanya tidak membentuk suatu susunan (murakkab) dua unsur yang secara eksistensi dapat dibedakan, tetapi menyatu secara total untuk membentuk sebuah kesatuan sempurna (ittihad), dalam eksistensi dan, karenanya, bentuk itu berfungsi secara langsung dalam materi tersebut. Namun, jiwa berfungsi pada materinya melalui perantaraan bentuk-bentuk atau kemampuan yang lebih rendah.  Shadra, karena itu, mengatakan bahwa jiwa adalah sifat esensial raga materi sejauh ia berfungsi melalui ‘organ-organnya’.

Meskipun demikian, dia berpendirian bahwa kata ‘organ-organ’ tidak bermakna organ-organ fisis, seperti tungkai dan lengan, hati, atau perut, tetapi fakultas atau kemampuan yang melaluinya jiwa berfungsi, seperti nafsu makan, nutrisi, dan pencernaan. Karena percaya pada kesatuan Wujud, dia melihat ruh sebagai realitas tunggal yang dimanifestasikan dalam tingkat yang berbeda-beda.

Ruh, yaitu sebuah manifestasi Ilahi, yang pada gilirannya dimanifestasikan dalam nafs dan fakultas-fakultasnya. Ruh adalah tingkat eksistensi yang lebih tinggi dan lebih sederhana daripada nafs (jiwa). Ia berada pada tingkat paling sederhana dan paling tinggi, lalu muncul sebagai manifestasi esensi yang meresap dalam jiwa dan dimanifestasikan dalam tingkat-tingkat eksistensi yang lebih rendah, yakni binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda lain-lain. Karenanya, dapat disimpulkan ruh adalah sebuah kesatuan yang dimansifestasikan berbeda-beda dalam setiap tingkatannya.

Ide-ide yang dikemukakan sejauh ini membuktikan bahwa pandangan Islam tentang diri manusia pada dasarnya mencakup unsur nonfisik dan transendental yang gaib dan abadi yang dipercaya berasal dari, atau telah diciptakan, Tuhan atau Diri Ilahi. Ia diidentifikasi sebagai ruh atau kecerdasan pertama. Jiwa atau nafs adalah sebuah dimensi atau manifestasi Ruh ini pada tingkat eksistensi yang lebih rendah atau, dari sudut pandang kehadiran Ilahi, Ruh lebih dekat dengan Diri Ilahi daripada jiwa dan raga dan lain-lainnya. Diri paling sering hadir dalam Ruh dan paling jarang hadir dalam raga atau materi. Jadi, sekarang kita akan mengkaji langkah berikutnya dalam hierarki eksistensi, yakni nafs.

Adapun tentang peciptaan ruh manusia, terdapat dua pendapat. Pertama, ruh diciptakan terlebih dahulu sebelum jasad dicipta. Pendapat ini meyakini bahwa ruh itu telah ada di alam ruh atau di alam gaib sebelum jasad ada, dan setelah jasad seorang bayi di dalam rahim sempurna yaitu diperkirakan  berusia empat bulan, maka Allah swt meniupkan ruh yang telah ada di alam gaib itu ke dalamnya. Kedua, jasad terlebih dahulu diciptakan barulah ruh tercipta. Yaitu, jasad bayi dalam kandungan berkembang sesuai tahap-tahap perkembangannya dan kemudian setelah ia sempurna, barulah diciptakan ruh untuknya. (hd/liputaislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL