Oleh : Dr. Umer Chapra

chapraFakta bahwa Islam bukanlah penyebab kemunduran umat Muslim bukan berarti meniadakan perlunya reformasi pemahaman Islam dewasa ini. Penekanan Islam pada aspek keadilan, persaudaraan, dan toleransi serasa semakin melemah di berbagai belahan masyarakat Muslim, demikan halnya penekanan pada aspek pembangunan karakter. Hal ini bisa jadi disebabkan karena faktor sejarah yang selama berabad-abad diwarnai dengan ilegetimasi politik, kurangnya fasilitas pendidikan, kemerosotan sosio-ekonomi, dan diskriminasi yang berpadu dengan praktik korupsi. Maka tidak mungkin mengoreksi seluruh kondisi ini tanpa membentuk pemahaman yang benar tentang Islam. Hal inilah yang menuntut adanya perombakan kurikulum lembaga pendidikan, terutama pada madrasah (sekolah-sekolah agama). Revisi kurikulum tersebut harus memberikan penekanan yang lebih besar pada aspek maqashid asy-syariah (tujuan syariat) dan khulq hasan (pembinaan akhlak yang baik).

Meskipun maqashid mencakup filosofi dari ajaran Islam, namun ia telah terbelakangkan dalam beberapa abad terakhir. Oleh karena itu, ia perlu dikedepankan kembali untuk merumuskan langkah dalam memahami Alquran dan sunnah dengan lebih baik. Langkah ini akan membebaskan fikih (perundangan Islam) dari belenggu kejumudan (taqlid) penganutnya dimasa lalu kepada kondisi yang berbeda di saat sekarang, dan juga memungkinkan ia untuk meraih kembali dinamismenya yang merefleksikan abad awal Islam. Tanpa hal ini, akan sangat sulit baginya untuk menjawab tantangan yang dihadapi dunia Islam hari ini, di mana kondisinya sangat berbeda dengan yang dihadapi oleh ulama fikih klasik. Langkah ini juga akan membantu mengembalikan cahaya ajaran Islam dengan mereduksi perbedaan-perbedaan pendapat dan konflik, fanatisme, sikap tidak toleran, dan sikap pamer yang banyak muncul sebagai akibat dari pengabaian terhadap maqashid dalam penafsiran teks. Imam al-Haramain, Abul Ma’ali al-Juwaini (w.478 H/1085 M) dengan tepat menekankan, “Barangsiapa yang tidak memahami peran maqashid dalam perintah dan larangan syariah, maka ia kurang pas dalam penerapannya”.

Kemerosotan penekanan pada maqshid telah mendorong meningkatnya pemakaian hiyal (muslihat hukum) dalam penafsiran teks, selain juga penolakan terhadap ulama-ulama yang masyhur. Meskipun penggunaan hiyal diperbolehkan untuk mereduksi ketegangan keadaan dalam menyelaraskan dengan tujuan syariah, upaya berlebihan terhadapnya bisa menimbulkan efek yang tidak diharapkan, yakni mengacaukan realisasi maqashid. Syaikh Muhammad at-Thahir ibnu Ashur, seorang ulama fikih kenamaan, menyayangkan fakta ini bahwa sebagian besar persoalan dalam ushul fiqh (prinsip-prinsip perundangan Islam) telah melahirkan derivasi hukum dari Pembuat-nya (Allah) dibanding dipergunakan untuk mewujudkan tujuan syariah. Hasil tidak sehat dari penyandaran berlebihan terhadap hiyal adalah banyaknya ilmu keagamaan (ulumuddin), termasuk ushul fiqh, telah kehilangan semangat masa lalunya. Maka kebangkitan dari semangat ini merupakan syarat pokok bagi pencerahan ilmu keagamaan.

Penekanan pada maqashid perlu diiringi dengan pembangunan karakter, yang sejalan dengan sabda Rasul saw, “Orang Muslim yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R. al-Baihaqi). Ini akan menanamkan sifat baik dari karakter Muslim yang ditekankan Islam, di mana pada hari ia telah makin melemah dalam masyarakat Muslim. Kiranya perlu juga menghadirkan kembali sejumlah sabda Nabi saw, “Umat manusia adalah keluarga Tuhan, dan yang paling dicintai oleh Allah dari mereka adalah yang paling bermanfaat terhadap keluarganya” (H.R. al-Baihaqi), dan “Janganlah kalian bicara sebagaimana orang-orang yang tidak berakhlak (imma’ah), yang jika orang berbuat baik kepada kita maka kita akan berlaku baik kepadanya, maka biasakanlah diri kalian untuk berbuat baik kepada mereka ketika mereka berbuat baik kepadamu, bukan untuk menyakitinya manakala mereka berbuat jahat kepadamu” (H.R. at-Tirmidzi). Hal ini akan mengubah perilaku terhadap nonmuslim, yang juga merupakan khalifah Tuhan di muka bumi sebagaimana halnya orang Muslim, yang perlu diperlakukan secara adil dan baik (Q.S. al-Mumtahanah (60): 8). Di samping itu, juga akan membentuk sikap toleransi dan kerja sama yang lebih erat dengan mereka. Reformasi karakter dengan acuan ini dan dengan ajaran-ajaran Alquran dan sunnah lainnya mendorong kaum Muslimin memenuhi misi Rasulullah saw untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Reformasi pemahaman Islam bisa dilakukan melalui jalan dialog antara kaum rasionalis moderat dengan kaum moderat konservatif, mereka sama-sama mengakui peran wahyu dan juga akal dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun, jika pemerintah mencoba memasukkan sekularisme melalui jalan pemaksaan, maka dampaknya tidak lain hanya menimbulkan perilaku kekerasan. Dan tentunya hal ini akan mengganggu proses dialog dan menghambat jalannya reformasi. Peran pemerintah seharusnya hanya terbatas pada penciptaan iklim yang kondusif bagi proses dialog. Hal ini akan menciptakan hubungan baik antara pemerintah dan ulama serta rakyat. Hasilnya adalah adanya penurunan atas aksi penolakan terhadap perubahan. Hal ini tidak hanya mempermudah pengenalan perubahan atas putusan fikih, tetapi juga menciptakan suasana yang kondusif bagi pembangunan. (hd./liputanislam.com)

 

*Sumber : Buku Peradaban Muslim : Penyebab Keruntuhan & Perlunya Reformasi karya Dr. Umer Chapra, Jakarta : Amzah, 2010.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*