Oleh : Sayid Muhammad Alawi al-Malikiy

sayyid-muhammad-bin-alwi-al-maliki1Telah berlaku dalam adat kita, untuk berkumpul demi memperingati hari-hari yang mengandung nilai sejarah, misalnya hari Maulid Nabi Saw, malam Isra’ dan Mi’raj, malam Nishfu Sya’ban, Tahun Baru Hijriah, malam Nuzul Alquran, hari Perang Badar dan sebagainya. Ini semua termasuk adat (custom) tidak bertalian dengan urusan agama. Jangan sampai diyakini bahwa seremonial atau ritual itu termasuk urusan syariat atau sunnah, namun pada kenyataannya memang tidak bertentangan dengan pokok-pokok agama. Dari itulah perlu dijaga jangan sampai aktivitas yang tidak termasuk syariat dimasukkan pula dalam urusan syariat. Dan menurut pengamatan kami, perkara itu hanyalah termasuk adat yang mengandung kecintaan atau mungkin kebencian di sisi Allah. Sinyalemen begini ini mungkin terdapat kesepakatan.

Sebagian orang mengatakan bahwa kumpul-kumpul semacam itu akan mengurangi jam kerja yang telah ditetapkan hingga kalau berlarut-larut dibiarkan akan berulang-berulang mengadakan resepsi, padahal ulama masih berselisih atas ketentuan waktunya, misalnya mengenai hari Maulid Nabi dan sebagainya. Dalam sisi ini, kami berpendapat bahwa perselisihan menentukan hari terjadinya peristiwa itu tidak menimbulkan akibat yang buruk karena kita tidak meyakini atas disyariatkannya aktivitas tersebut terbatas dalam waktu tertentu, namun hanya berjalan menurut adat. Kemudian yang penting bagi kita, bagaimana kita dapat mempergunakan kesempatan itu untuk memperoleh kebajikan yang sebanyak-banyaknya, kita isi dengan berbagai macam aktivitas ketika banyak orang berkumpul, baik bertepatan dengan hari terjadinya apa yang diperingati atau tidak, itu tidak menjadi soal, karena aktivitas mereka tidak akan terlepas dari ingat Allah dan Rasul-Nya. Aktivitas semacam ini telah cukup mendatangkan rahmat Allah.

Kemudian kami yakin seyakin-yakinnya bahwa perkumpulan yang ditujukan untuk mencari ridha Allah itu akan diterima di sisi Allah, walaupun tidak tepat dengan hari terjadinya peristiwa. Sebagai paradigma saja, jika ada seseorang hadir ke resepsi di rumahnya, lantas sebagian orang datang menyalahi waktu yang ditentukan, mungkinkah yang punya gawe itu akan menolak tamu dengan kasar atau menghalaunya dengan menyuruh pulang. Ataukah dia mempersilakan masuk dengan segala hormat dan menganjurkan untuk datang lagi pada waktu yang ditentukan? Ini hanya ilustrasi kami ketika kami melihat sisi karunia dan rahmat Allah.

Dengan demikian jika kita mengadakan perkumpulan di malam peringatan Isra’ dan Mi’raj atau peringatan yang mengandung nilai sejarah lainnya, jangan kita lantas terpancang menentukan waktunya, karena jika bertepatan dengan hari peristiwa yang kita peringati, kita ucapkan saja alhamdulillah, dan jika tidak tepat, sesungguhnya Allah tidak akan menutup pintu rahmat-Nya.

Mendulang kesempatan berkumpul dengan aktivitas yang bermanfaat, misalnya berdoa, bertawajjuh kepada Allah, berusaha mendapat rahmat, berkah dan nikmat dari Allah, itu lebih besar faedahnya ketimbang hanya memperingati suatu peristiwa sejarah. Begitu pula memberi pengarahan dan nasihat pada publik yang telah berkumpul, itu lebih utama daripada menghalangi dan mengingkari aktivitas mereka, di mana kemungkinan besar malah mengundang kebencian. Sebaliknya, mereka sendiri kadang semakin kuat mempertahankan pendapatnya hingga berbalik, seakan suatu larangan menyentak mereka melakukan apa yang dilarang, ini jelas merugikan kita, di samping tidak mengandung manfaat, padahal para aktivis dakwah dan ahli pikir Islam begitu sibuk mengupas trik-trik, bagaimana manusia itu dapat berkumpul demi mendengarkan lecutan-lecutan dakwah. Dari itu kita lihat, bukan aktivis dakwah Islam saja, para misionaris begitu getol mondar-mandir di berbagai belahan dunia, mereka sanggup menuruni lembah dan mendaki perbukitan demi mendatangi jemaat-jemaat untuk berbuat atau memberi advis pada mereka. Dan pada sekali kesempatan kita melihat dengan mata kepala, sekelompok umat berkumpul dengan penuh keceriaan dan keakraban. Melihat kenyataan seperti itu, mestinya kita berpikir keras, jasa apa, santunan apa yang akan kita berikan pada jamaah kita sendiri.

Setelah kita mencermati uraian ini, dengan jelas, menyibukkan diri dengan mengingkari atau membahas hukum perkumpulan mereka akan menyia-nyiakan waktu, bodoh pula ketika kita membuang kesempatan yang sulit ditemukan melainkan dalam even-even ini. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Buku “Membela Sunnah Nabi Saw : Paham-Paham yang Harus Dibenahi” karya Sayyid Muhammad Alawi al-Malikiy.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL