kematian 2Baru-baru ini beredar di internet sebagian wawancara semasa hidup Chiang Wei-kuo (1916-1997), putra mantan Presiden Republic of China (Taiwan) Chiang Kai-shek (1887-1975), dalam wawancara tersebut, ia menceritakan tentang pengalaman menjelang ajalnya, dimana dalam keadaan ajal menjemput itu, ia bertemu dengan ayahandanya, Chiang Kai-shek.

Berikut gambaran Chiang Wei-kuo, “Saya melihat ayah duduk di sebelah saya, saya berkata kepadanya, bahwa saya sangat gembira, karena bisa kembali lagi ke sisi ayah untuk melakukan sesuatu”.  Lalu ayah saya bilang, “Nak, jangan bodoh,kamu harus kembali!”

Tidak lama kemudian, beliau melanjutkan, “Masih ada misi yang harus kamu selesaikan, kamu harus kembali.” Dua tiga hari kemudian, beliau kembali mengatakan, “Jangan khawatir, kamu pasti akan kembali (ke dunia), ayah akan menemanimu sampai kamu selamat, jadi tidak perlu cemas, kamu pasti akan kembali lagi”.

Benar saja, Chiang Wei-kuo yang menjalani beberapa kali operasi besar akhirnya lolos dari maut, dan yang mengejutkan para dokter ia (Chiang Wei-kuo) tidak meninggalkan sequela apapun (efek samping sebagai konsekuensi dari penyakit). Hal itu membuat tim dokter yang menanganinya tidak bisa tidak dengan takjub mengatakan, “Jika bukan karena karunia Sang Ilahi, hal itu benar-benar sulit untuk dijelaskan.”

Tentu saja, Chiang Wei-kuo bukan satu-satunya tokoh dan orang biasa yang mengalami pengalaman menjelang ajal. Mantan Presiden AS Bill Clinton juga pernah mengalami pengalaman menjelang ajalnya. Pada suatu hari di bulan September 2005 silam, saat Clinton menjalani operasi bypassjantung dan berjalan sukses.

Ketika ia berjalan di antara hidup dan mati selama proses pembedahan itu, suatu fenomena aneh yang tidak pernah dialaminya itu pun muncul. Belakangan, Clinton menceritakan kepada reporter Diane Sawyer dari American Broadcasting Corporation yang mewawancarainya, “Dalam kegelapan itu, saya melihat topeng hitam pekat menghampiri saya, itu seperti sebuah topeng kematian yang ingin menutupi wajah saya saat itu.”

“Pada saat itu, saya juga melihat banyak dinding penyekat yang besar, dan di dalam dinding penyekat itu saya melihat bayangan Hillary, dan sepertinya juga ada Chelsea, putri saya. Dan seperi itulah, topeng kematian itu diusir, diikuti oleh dua bayangannya yang perlahan-lahan menjauh, hingga akhirnya lenyap dalam kegelapan,” tambahnya.

Pada usia 19 tahun ketika itu, Ernest Hemingway, peraih hadiah Nobel Sastra dan penulis terkenal Amerika sedang menjalani tugas dalam armada ambulans di front pertempuran Italiapada Perang Dunia I . Pada 8 Juli 1918 tengah malam, sekeping pecahan peluru menghantam sepasang kaki Hemingway.

Belakangan, ia menceritakan kepada Guy Hickory, temannya dengan mengatakan, “Saya merasa roh saya keluar dari tubuh, menariknya keluar seperti menarik ujung sapu tangan dari dalam saku celana. Sapu tangan itu terombang ambing kemana-mana, hingga akhirnya kembali ke tempat semula, masuk lagi ke dalam saku celana.”

Selain Clinton, Hemingway, penyair Jerman Johann Wolfgang von Goethe, Guy de Maupassant (1850-1893) sang “Raja novel” dari Prancis, Fyodor Dostoevsky (1821-1881) penulis terkenal Rusia, novelis terkenal Amerika Edgar Allan Poe Awards  (disingkat Edgar Awards), penulis terkenal Inggris David Herbert Lawrence  dan sebagainya juga memiliki “pengalaman menjelang ajal” seperti itu.

Dan makalah terkait penelitian menjelang ajal terus dipublikasikan dalam jurnal medis internasional “The Lancet” dan “The Journal of Near Death Studies”. Hasil studi terkait menyebutkan bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman menjelang ajal itu tersebar di berbagai daerah dengan ras, agama, keyakinan dan latar belakang budaya yang tidak sama di seluruh dunia.

Menurut survey The Gallup Organization sebuah perusahaan statistic yang terkenal asal Amerika memperkirakan, bahwa hanya di Amerika Serikat saja setidaknya ada 13 juta orang dewasa yang masih hidup saat ini memiliki pengalaman menjelang ajal, jika termasuk anak-anak, maka angka itu akan lebih mengesankan. Sebagian besar mereka yang mengalami pengalaman menjelang ajal itu merasakan ketenangan dan bahagia, bukan merasa tersiksa dan menderita.

Orang yang pernah mengalami “pengalaman roh keluar dari tubuh” yang paling terkenal dalam sejarah mungkin adalah Emanuel Swedenborg, seorang ilmuwan, filsuf dan teolog terkenal asal Swedia yang hidup pada abad ke-18.

Pemandangan yang disaksikannya di dunia roh berdasarkan perjalanan rohnya sendiri yang keluar dari tubuhnya itu, meninggalkan “singkapan pencerahan” atas karya abadi, yang secara rinci menggambarkan suasana yang disaksikan di dunia roh serta pengetahuan tentang dunia roh yang diperoleh dari komunikasi makhluk hidup lainnya. Maha karyanya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap generasi kemudian, bahkan hingga detik ini juga masih mempengaruhi banyak orang.

Jika memang pengalaman menjelang ajal itu bukanlah omong kosong, namun, satu pertanyaan yang menarik perhatian orang-orang dari pengalaman menjelang ajal itu adalah : sebenarnya manusia itu punya roh atau tidak ?

Lisa Rundall dari Harvard University, seorang fisikawan dimensi ekstra (dimensi ke-5) paling bergengsi di dunia yang diakui saat ini, dimana setelah melakukan penelitian yang cermat selama 9 tahun dan berbagai tes, lalu pada 2010 lalu mengumumkan kepada media : Roh itu benar-benar ada!

Menurut teori Rundall, jika ruang dimensi kelima itu benar-benar ada, maka kemungkinan besar masih ada sebuah dunia dimensi ketiga lain yang luar biasa. Artinya, kita hidup di dalam sebuah ruang dimensi kelima yang besarnya tak terbatas, namun, kita hanya bisa mempersepsi ruang dimensi keempat di antaranya—-ruang dan waktu, ada satu ruang dimensi lain yang kita tidak bisa melihatnya.

Sam Parnia, dokter asal Inggris adalah orang pertama di dunia yang membuktikan eksistensi “roh” dengan percobaan ilmiah.

Berikut adalah program percobaannya : pasien yang sudah meninggal “roh”-nya bisa mengambang, bisa melihat badannya, melihat para dokter yang sedang berupaya menyelamatkannya, melihat lampu di langit-langit, namun, jika di bawah langit-langit itu diletakkan selembar papan, kemudian diatasnya diletakkan beberapa benda kecil (hanya Sam yang tahu, orang lain tidak tahu), maka “roh” itu akan dapat melihat benda-benda kecil tersebut.

Jika pasien itu dapat diselamatkan, dan dapat melihat benda-benda kecil yang diletakkan di atas papan tersebut, maka kita akan dapat membedakan apakah “roh” itu hanya ilusi semata-mata atau sebuah objek nyata yang eksis objektif.

Sam telah melakukan penelitian terhadap lebih dari 100 pasien, dan ia menemukan bahwa 7 pasien di antaranya yang diselamatkan itu, dimana setelah sadar/siuman dapat menceritakan pemandangan yang disaksikannya ketika “roh”-nya meninggalkan tubuhnya, terutama benda-benda kecil di atas papan tersebut, dan semuanya yang dijabarkannya itu benar.

Percobaan Sam berjalan sukses, dan ia menegaskan akan eksistensi “roh” secara objektif. “Roh” adalah sebuah objek nyata yang eksis objektif, ada ukuran tertentu, bisa mengambang atau bergerak, adalah suatu bentuk lain dari eksistensi kehidupan, bukan ilusi semata-mata.

Jika memang roh itu ada, maka itu berarti bahwa roh itu tidak akan hilang seiring dengan binasanya jasad kita, segala sesuatu dan hal-hal kecil atau besar, perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan semasa hidup seseorang, semuanya itu akan dibawa ke sepanjang hidupnya mengikuti roh-nya.

Dan jika kita percaya dengan keberadaan roh, maka kita akan memahami arti sebenarnya dari kehidupan, sehingga kita bisa dengan tenang dalam menghadapi hidup dan mati (hd/liputanislam)

*Sumber http://erabaru.net/detailpost/percobaan-membuktikan-keberadaan-roh-di-ruang-dimensi-kelima

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL