Oleh Subagyo*

nyepi 2Mari kita kembali kepada suatu waktu silam, ketika alam ini sepi, sunyi, suwung. Ketika itu Allah adalah Wujud yang sendiri tak ada apa-apa atau siapa-siapa kecuali Dia. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (QS Fushshilat: 41). Tuhan menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan sedikitpun tidak ditimpa keletihan (QS: Qaaf: 38). Dia berkata: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.” (QS-Ad-Dukhaan: 38). Lalu sekarang kita tanya diri kita: “Apakah aku sedang bermain-main dalam hidup ini? Apakah aku telah mempermainkan nasib manusia lain atau makhluk lain?”

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”, kata Tuhan (QS: Al-Mu’min: 40). Jadi, jangan buru-buru mengira kita ini makhluk terhebat, sebab ada rahasia yang tak terbatas yang tak kita ketahui.

Alam semesta terwujud dan Tuhan menyinarinya. Allah adalah Cahaya langit dan bumi. (QS An-Nur: 35). Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Baqarah: 29).

Ke mana kita bisa menjumpai Tuhan yang Awal eksistensi itu? Dia menjawab, “Di manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.” (QS: Al-Baqarah: 115). Sudah pernah melihat Tuhan? Nabi Musa meminta Tuhan memperlihatkan diriNya kepada Musa. Tapi Allah memberi contoh, Dia memperlihatkan diriNya kepada bukit, lalu bukit itu hancur. Tapi mengapa Allah mengatakan “di manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah”? Allah berkata dalam hadits qudsi, “Manusia adalah rahasiaKu dan aku adalah rahasianya.” Tapi Nabi Muhammad berkata, “Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.” Mengapa manusia bisa tidak mengenal Tuhannya? Nabi Muhammad bersabda, “Jika setan-setan itu tidak berkeliling di dalam hati anak Adam maka anak-anak Adam itu mampu melihat ke alam malakut yang tinggi.”

Setan tak selalu jadi kambing hitam sebab Allah mengatakan bahwa yang menjadi setan itu bisa dari golongan jin (lelembut) dan manusia (QS: An-Naas: 4-6). Manusia bisa menjadi setan bagi dirinya sendiri dan bagi manusia lainnya. Bahkan di jaman kemajuan ini setan kelihatannya sudah bisa duduk-duduk santai sebab para manusia semakin canggih untuk berbuat kejahatan dengan sains dan teknologi, menipu atau membohongi dengan analisis-analisis keahlian. Setan tak perlu bersusah-payah menggoda manusia untuk menemani para setan di neraka kelak.

Manusia semakin terlelap dalam mimpi kegaduhan dunia, dirasuki hawa hedonisme, tak peduli harus menyuap, menerima suap, korupsi, melacurkan intelektualitas, bisnis haram, melakukan persaingan bisnis curang, mengkhianati kawan atau bahkan masyarakat kecil yang dibela, membajak karya cipta orang lain, dan lain-lain. Semakin lama semakin larut dalam kegaduhan itu, dan semakin jauh dari Tuhan yang dikiranya hanya dapat didekatkan dengan shalatnya yang ditumpuki perilaku gaduh itu. Tuhan dikiranya bisa didekati dengan harta haram yang disumbangkan kepada kaum lemah.

Maka umat Islam jika ingin melacak jejak Tuhan tempat kembalinya harus ‘nyepi’ dari kegaduhan itu dengan cara tapa ngrame (bertapa dalam keramaian). Dalam keramaian itu bekerja untuk memberi makan, pakaian dan menjenguk Tuhan yang sedang dalam penderitaan. Tuhan dalam derita (menurut hadits qudsi) adalah mereka yang miskin dan kekurangan, membutuhkan pembelaan. Tuhan tak perlu dibela, kata Gus Dur, jika konteksnya adalah menyerang atau membunuh sesama karena perbedaan gagasan atau keyakinan. Tapi Tuhan harus dibela dalam konteks membela mereka yang lemah (kaum mustadh’afin). Tuhan akan menggunakan hak prerogratif untuk menolak kaum rajin ibadah ritual yang mengesampingkan ibadah sosial, sehingga tak akan memasuki surgaNya yang bahkan malaikat pun terheran-heran. Sebab Tuhan dalam hal khusus telah mengidentikkan diriNya dengan kaum lemah. Maksudnya, Tuhan sendiri Maha Segalanya yang tak butuh apa-apa dari manusia. Dalam menyembahNya yang terpenting adalah memahami manunggaling sapada kang cinipta, peduli sesama. Itulah salah satu rahasiaNya.

Jika nyepi itu sempurna dilakukan, manusia akan mampu masuk ke alam malakut, manunggal dengan Allah, dalam keindahan sejati yang seperti mimpi tapi bukan mimpi. Seperti Ali bin Abi Thalib yang hatinya selalu bergetar melihat Allah ada di dedaunan, pepohonan, gunung-gunung, kerumunan manusia, dan lain-lain, bukan hanya di dalam masjid. Masjid bisa saja menjadi musuh Allah jika menjadi bagian kegaduhan yang mencoba mempermainkan penciptaan Tuhan.

Shanti, shanti, shanti... dalam keesaanMu ya Allah aku adalah sunyi, senyap, lenyap, kosong dan hanya Diri-Mu. Kembali kepada yang Sejati…”

 *Pengamat sosial, Sumber http://masbagio.blogspot.com/2008/03/nyepi-dalam-islam.html

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL