pluralisme

Non Muslim dalam Kekuasaan Islam

Saat Islam mejamin kebebasan beragama dan berkeyakinan konsekuensi tentu saja, setiap orang bebas juga melaksanakan keyakinannya yakni beribadah menurut keyakinannya itu. Dan tentu saja, setiap agama memiliki waktu, benda dan tempat peribadatannya sendiri, maka tidak tepat pula rasanya jika terdapat larangan total untuk non Muslim menggunakan fasilitas keagamaan mereka tersebut. Kalaupun ada batasan, maka prinsip kebaikan (al-birr) dan keadilan (al-adl) harus menjadi acuannya, sebagaimana Alquran menyatakan, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. al-Mumtahanah: 8)dalam ayat lain ditegaskan “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, membuat kamu berlaku tidak adil”.

Kalau kita membaca sejarah, maka kita akan menyaksikan bahwa dalam setiap penaklukan yag dilakukan oleh umat Islam, selalu mengedepankan penghormatan pada agama setempat. Tidak ada pemaksaan untuk masuk Islam dan tidak ada penghancuran tempat-tempat peribadatan. Kalau pun ada itu hanya beberapa kasus saja. Karena itulah sampai kini kita masih bisa menyaksikan tempat-tempat peribadatan berbagai agama seperti kuil, gereja, dan lainnya di daerah-daerah yang dulunya dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Hal ini jelas karena konsepsi Islam menegaskan dalam peperangan sekalipun, tidak boleh menyerang orang-orang yang berada atau berlindung di tempat-tempat peribadatan mereka.

Ibnu Rusyd saat membahas jihad dan peperangan dalam Bidayatul Mujtahid menyatakan bahwa berdasarkan ijma’, dibolehkan memperbudak segala jenis kaum musyrik baik laki-laki, perempuan, dewasa, remaja, anak-anak, kecuali para pendeta dan rahib mereka. Menurut sebagian ulama, para pendeta atau rahib ini harus dilepaskan, tidak boleh ditawan, dibunuh atau dijadikan budak sebagaimana disebutkan oleh hadis, Biarkanlah mereka dalam tempat-tempat ibadah mereka” (H.R. Malik)… Dalam hadis lain dari Ibnu Abbas, “Bahwa Nabi saw ketika mengutus tentaranya beliau bersabda, ‘janganlah kamu sekalian membunuh para penghuni gereja’ (H.R. ad-Darimi dan Ahmad).

Hal ini juga dilakukan oleh khalifah pertama, Sayidina Abu Bakar Shiddiq ra, yang mana ketika beliau mengutus pasukan, beliau berpesan, “Kalian akan menemukan orang-orang yang mereka megabdikan diri kepada Allah, maka biarkanlah mereka dan tempat ibadah mereka. Sungguh, janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak dan orang tua bangka” (H.R. Malik).

Philip K. Hitti menceritakan penaklukan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid ke Damaskus bahwa pada bulan september tahun 635, Damaskus menyerah setelah dikepung selama enam bulan. Syarat-syarat penyerahan diri dilakukan melalui suatu perjanjian yag kemudian juga diterapkan ke kota-kota Suriah-Palestina lainnya. Mengutip dari al-Baladzuri, Hitti menuliskan bahwa, perjanjian yang dibuat oleh Khalid bin Walid itu berbunyi sebagai berikut :

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Peyayang. Berikut ini beberapa jaminan dari Khalid bin Waalid kepada semua penduduk Damaskus jika ia masuk ke kota, : “ia berjanji akan menjamin keamanan hidup, harta benda, da gereja mereka. Dinding kota tidak akan dihancurkan, pasukan Islam juga tidak akan memasuki rumah-rumah mereka. Kemudian kami akan memberi mereka janji Allah da perlidungan nabi-Nya, khalifah da semua orag erima. Selama mereka berkenan membayar pajak, tidak akan ada yang memimpin mereka kecuali kebaikan.” (Hitti, History of the Arab, 2005,hal. 188-189)

Begitu pula, perilaku ini diperlihatkan oleh Khalifah kedua Sayidina Umar ra saat menaklukkan Palestina. Berikut keterangan Nurcholish Madjid dengan mengutip Ibnu Khaldun dalam Tarikh-nya :

“Umar ibn al-Khattab datag ke Syam, dan mengikat perjanjian perdamaian dengan penduduk Ramalla atas syarat mereka membayar jizyah. Kemudian ia perintahkan Amr (ibn al-Ash) dan Syarahbil untuk mengepung Bayt al-Maqdis, dan mereka lakukan. Setelah pengepungan itu membuat mereka (penduduk Bayt al-Maqdis) sangat menderita, mereka meminta perdamaian dengan syarat bahwa keamanan mereka ditanggung oleh Umar sendiri. Maka Umar pun datang kepada mereka dan ditulisnya perjanjian keamanan untuk mereka yang teksnya (sebagian) adalah : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn al-Khattab kepada penduduk Aelia (Iliya, yakni Bayt al-Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.”

Umar ibn al-Khattab masuk Bayt al-Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (Qiyamah)… Waktu sembahyang pun datang, maka ia katakan kepada Patriak, “Aku hendak sembahyang.” Jawab Patriak, “Sembahyanglah di tempat Anda.” Umar menolak, kemudian sembahyang pada anak tangga yang ada pada gerbang gereja, sendirian. Setelah selesai dengan salatnya itu ia berkata kepada Patriak, “Kalau seandainya aku sembahyang di dalam gereja, maka tentu kaum Muslim kelak sesudahku akan mengambilnya dan berkata, ‘di sini dahulu Umar sembahyang’.” (Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun jil 2, Beirut: dar al-Fikr, 1401 H/1981 M, hal.268; lihat juga al-Thabari, Tarikh at-Thabari vol III, 1384 H, hal. 608-609).

Meskipun dalam beberapa kasus pemerintahan juga terjadi diskriminasi yang berlebihan pada non Muslim, tetapi secara umum, pada masa kekhalifaha dan dinasti Islam kaum non Muslim tetap mendapat kebebasan beragama. Hitti memberikan gambaran berikut :

“Sebagian besar penduduk Kristen pada masa Dinasti Abbasiyah adalah pengikut Gereja Suriah yang kebanyakan tinggal di Irak. Patrik sekte Nestor atau Katolik memiliki kewarganegaraan di Baghdad, satu hak istimewa yang tidak dimiliki oleh sekte Yakobus. Di sekeliling Asrama Patrik yang disebut Dayr al-Rum (biara orang Romawi Kristen) di Baghdad, terdapat sebuah kawasan Kristen yang disebut Dar al-Rum. Yurisdiksi orag Katolik meliputi tujuh kota esar meliputi Basrah, Mosul, dan Nasibis, yang masing-masing dikepalai oleh dua atau tiga orang uskup…adapun sekte Yakobus memiliki sebuah biara di Baghdad dan Tikrit, tidak jauh dari ibukota kerajaan. Secara keseluruhan, Yaqut menulis terdapat setengah lusin biara di Baghdad Timur, belum lagi biara yang ada di sebelah barat…terdapat juga Gereja Nubia yang menganut sekte Yakobus dan mengakui kekuasaa Patrik Iskandariyah.” (Hitti, History of the Arabs, 2005, hal. 445)

Senada degan Hitti, Joel L. Kraemer juga menjelaskan bagaimana kondisi umat Kristen di Baghdad masa kekuasaan Islam dengan leih detil. Kraemer menyatakan :

“Ada delapan biara dan enam gereja di sebelah Barat, dan tiga biara serta lima gereja di sebelah Timur. Di Qathiah al-Nashara (pemukiman Kristen) di sebelah barat terdapat banyak tempat peribadatan termasuk Dair al-Adzara (biara para gadis) dan Gereja Mar Tuma kaum Jakobi, tempat Yahya ibn Adiy dikuburkan (975 M). Gereja ini akhirnya hancur ketika terjadi pemberontakan rakyat pada 1002 M. Dar al-Rum merupakan tempat kediaman “Catholicos”, pimpinan Gereja Nestorian, dan tempat biara yang terkenal yang diseut Daiyr al-Rum (biara Romawi). Gerejaya yang utama adalah Notre Dame, yang disebut al-Kursi, yang di dalamnya banyak kepala keluarga dikuburkan, dan yang dikelilingi oleh rumah-rumah para biarawan dan biarawati…di perkampungan al-Karkh terdapat banyak Gereja yang terpenting diantaranya adalah yang didedikasikan kepada dua orang ilmuwan, Mar Sarjis dan Mar Bakhus, sebagaimana Notre Dame di al-Uqba (disebut juga Gereja al-Atiqah), yag dibangun sekitar 960 M” (Kraemer, Renaisans Islam, 2003, hal.118)

Adapun tentang Yahudi, Hitti menjelaskan bahwa orang Yahudi membentuk koloni yang cukup besar di Baghdad. Benjamin dari Tuleda, yang mengunjungi koloni itu sekitar 1169 M, menemukan adanya sepuluh sekolah agama Yahudi dan dua puluh tiga Sinagog, yang paling besar dihiasi dengan beragam batu marmer, juga hiasann emas dan perak (Hitti, History of the Arabs, 2005, hal. 446).Sedikit berbedaKraemer menjelaskan terdapat 40.000 orang Yahudi, 28 Sinagog, dan sepuluh akademi pengetahuan. Di perkampungan Atiqah sebelah barat, tedapat juga komunitas Yahudi yang besar, tempat rabbi tinggal dan sinnagog penting didirikan. Sebuah sinagog di Baghdad Timur, dekat pintu Syammasiyah, dibangun pada masa Khalifah al-Makmun (Kraemer, Renaisans Islam, 2003, hal.120-121)

Keterangan dan bukti-bukti sejarah di atas cukup menunjukkan bahwa kaum non Muslim menikmati kebebasan beragama, berkeyakian, dan beribadah di dalam kekuasaan Islam, termasuk memelihara dan mendirikan perkampungan dan tempat-tempat peribadatan mereka seperti biara dan gereja atau sinagog. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.

Positive SSL