pluralisme

Konsepsi Islam Tentang Ahl al-Dzimmah

Memang ada kosepsi Alquran yang secara lahir “memaksa” non Muslim agar memeluk Islam bahkan berpeluang untuk diperangi jika menolak untuk masuk Islam. Namun Islam juga memberikan alternatif untuk membayar uang jaminan keamanan (jizyah) dan mereka tetap pada agamannya. Orang-orang non Muslim yag mengikat perjanjian ini disebut dengan ahl al-dzimmah. Hal ini disebutkan Alquran,

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”(Q.S. at-Taubah : 29).

Dalam hal ini Rasul saw dalam memberi instruksi kepada para komandan perangnya memberikan petunjuk yang sangat relevan dengan ayat di atas :

“Apabila kamu bertemu musuhmu dari orang-orang musyrik, ajaklah mereka kepada tiga pilihan. Kalau mereka memilih salah satunya, terimalah dan jangan perangi. Ajaklah mereka masuk Islam, kalau mereka mau, terimalah dan jangan kau perangi. Lalu ajaklah untuk berpindah dari tempat tinggalnya, ke tempat tinggal kaum muhajirin.

Beritahukan kepada mereka, jika mereka lakukan itu niscaya mereka memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan kaum muhajirin. Jika mereka menolak untuk pindah dan tetap memilih tinggal di daerahya, maka beritahukan bahwa mereka diperlakukan seperti orang-orang Arab Islam, yang bagi mereka diberlakukan hukum Islam seperti halnya orang mukmin lainnya. Tetapi mereka tidak mendapatkan harta rampasan perang kecuali jika mereka berjihad bersama dengan kaum muslim. Jika mereka tetap menolaknya, maka mintalah mereka untuk membayar jizyah. Dan jika mereka memenuhinya maka terimalah, kemudian jaminlah keamanan mereka. Dan jika mereka menolak ajakan-ajakan tersebut, maka mohonlah pertologan Allah, dan perangilah mereka”  (H.R. Ahmad)

Kalau kita perhatikan, ayat dan hadis di atas berhubungan dengan peperangan (penaklukan). Dan peperangan itu adalah solusi terakhir, jika masalahnya menemui jalan buntu. Selama masih ada peluang damai, maka pilihlah perdamaian. Jadi, pada dasarnya ayat dan hadis tersebut mengindikasikan tiga pilihan, yaitu : siap berperang dengan non Muslim jika diperlukan, mengajak mereka masuk Islam, atau meminta mereka membayar jizyah (uang jaminan). Salah satu dari tiga pilihan tersebut berlaku dalam Islam. Pilihan ketiga itulah yang diberlakukan kepada para ahl al-dzimmah, yang secara literlek bermakna kaum yag diikat perjanjian, dan perjanjian itu diyakini berasal dari Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin untuk memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya tanpa rasa cemas, khawatir dan ketakutan. Itulah perjanjian yang diikat oleh kesepakatan insani dan restu ilahi.

Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa Khilafah Islamiyyah harus memperlakukan seluruh manusia secara adil, termasuk bagi mereka yang non muslim, selama mereka tunduk pada sistem pemeritahan Islam, tidak menunjukkan permusuhan, tidak memerangi, dan tidak menzalimi kaum Muslimin.

Islam membolehkan makan bersama Ahlul Kitab, membolehkan hubungan perkawinan dengan mereka, membolehkan mengawini wanita-wanita mereka yang menjaga kehormatannya, meskipun Islam menegaskan pentingnya cita ada kasih sayang dalam pernikahan. Hal ini merupakan toleransi yang luar biasa. Begitu pula dengan hak-hak non-Muslim sebagai warga negara dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial, dan lain-lain sama posisinya dengan kaum muslimin. Merekalah ahlul dzimmah, yang berarti terikat perjanjian, jaminan, dan keamanan. Demikian itu, karena mereka terikat perjanjian (‘ahd) dengan Allah, Rasul-Nya serta kaum muslimin untuk dapat hidup dengan aman di bawah perlindungan pemerintahan dan masyarakat yang diatur oleh syariat Islam (lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni jilid V, hal. 516).

Karena itulah Rasul saw juga menjelaskan bahwa bagi ahl al-dzimmah tetap mesti diperlakukan secara baik dan layak seperti halnya juga kaum muslimin. Rasul saw bersabda, “Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka sungguh ia menggangguku dan barangsiapa menggangguku, maka sungguh ia mengganggu Allah.”(HR. Thabrani)

Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka aku adalah musuhnya, dan barangsiapa memusuhiku, maka aku akan memusuhinya nanti di hari kiamat.”(HR. al-Khatib)

Sekarang perhatikan bagaimana sikap kita kepada non-Muslim. Apakah melarang mereka beribadah atau merubuhkan tempat peribadatan mereka bukan termasuk mengganggu mereka? Ingatlah, bahwa mengganggu mereka sama dengan mengganggu Rasul saw.

Perlakuan diskriminatif terhadap ahl al-dzimmah sama sekali tidak dibenarkan. Apalagi jika diterapkan di negara Islam yang mencintai keadilan, yang mana setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Kaum dzimmah memiliki hak yang sama dengan kaum Muslim sesuai dengan perjanjian yang disepakati bersama.

Masalahnya, di beberapa media, terdapat tulisan yang bernada tendensius terhadap kebebasan beragama bahkan cenderung mengebiri kelompok agama lain. Misalnya, menyatakan bahwa non-Muslim, seperti Yahudi, Nasrani, dan lainnya, dilarang mendirikan tempat peribadatan mereka seperti kuil atau gereja di Negara Islam. Tentu saja hal ini membangun image negatif terhadap hubungan antara muslim dan non muslim, bahkan prinsip kebebasan beragama yang selama ini digaungkan Islam. Terlebih lagi, masih banyak persoalan yang belum jelas dalam konteks ini. Seperti misalnya, Adakah negara Islam? Bagaimana dan negara mana yang disebut Negara Islam saat ini? Apa batasan non-Muslim? Islam dan Hak Azasi Manusia? Jika Islam memang menghargai non-Muslim, lantas mengapa ada larangan untuk beribadah di tempat mereka sendiri? dan  masih banyak pertanyaan lainnya.

Memang secara umum, di kalangan para fukaha (ahli fikih) terdapat dua pembagian untuk non-Muslim (kafir), yakni Kafir harbi dan kafir dzimmi. Kafir harbi adalah orang kafir yang memerangi kaum muslim, sedagkan kafir dzimmi adalah orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian atau di bawah pengamanan kaum muslim.

Kafir dzimmi inilah yang memiliki hak yang sama sebagaimana kaum muslim lainnya di negeri Islam, baik hak profesi, hak berserikat, hak politik, sampai hak-hak kegamaannya. Hanya saja, kaum dzimmi ini memiliki kewajiban membayar jizyah (kompensasi perlindungan) sebagai loyalitas perjanjian hidup di negeri Muslim. Kitab-kitab fikih telah mengulas panjang lebar tentang hal ini. Dan salah satu pembahasannya adalah tentang hak-hak kaum dzimmi ini setelah mereka membayar jizyah, apakah mereka boleh berkeyakinan dan beribadah secara bebas, serta mendirikan pusat-pusat peribadatan mereka, seperti gereja?

Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa kaum dzimmi, seperti Kristen misalnya, dilarang membangun gereja baru bahkan jika ada gereja yang sudah buruk atau runtuh, tidak boleh direnovasi. Bagaimana senyatanya pendapat para ahli tentang hal ini? (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL