pluralisme

Islam dan Penghormatannya Pada Non Muslim

Visi kebebasan beragama merupakan hal yang sangat jelas dalam ajaran Islam (Q.S. al-Baqarah: 256, al-Maidah: 48). Manusia bebas untuk memiliki keyakinan apapun yang dipilihnya.

Tidak seorangpun berhak untuk menghina keyakinan orang lain, atau mengutuk, menuntut, dan menghukumnya. Firman Tuhan, “Tiada paksaan dalam beragama” (Q.S. al-Baqarah: 256), menunjukkan bahwa agama sangat berhubungan dengan akal dan hati.

Ini berarti keyakinan dikonstruksi di atas dasar argumentasi akal dan penerimaan hati. Akal dan hati, keduanya hanya bisa ditundukkan dengan argumentasi dan sentuhan kasih, bukan tekanan yang dipaksakan. Begitu pula, selama berkaitan dengan akal dan hati, keyakinan tidak dikategorikan sebagai masalah hukum, sehingga kita tidak dapat mengatakannya sebagai legal atau ilegal.

Keyakinan harus berpijak pada dalil. Sepanjang terdapat dalil yang mendukungnya, keyakinan akan tetap eksis. Jika dalil yang mendukungnya berubah, maka keyakinan juga akan menghilang. Jika dalil terbukti keliru, keyakinan juga akan mati. Jadi selama keberagamaan masih berhubungan dengan keyakinan hati dan jiwa, maka tidak ada hukum positif yang dapat menghakiminya. Namun, bila diekspresikan dalam tindakan sosial maka hukum legal dapat diterapkan.

Kebebasan beragama ini selaras dengan prinsip penting lainnya seperti kebebasan manusia (ikhtiari), prinsip tanggung jawab (taklif), prinsip keadilan (al-adl), dan prinsip kebijaksanaan (al-hikmah). Dengan semua prinsip ini, manusia mendapatkan keluasan dan keleluasaan untuk mengkaji, meneliti, dan memahami, hingga akhirnya menentukan pilihan yang sesuai dengan akal dan hati nuraninya. Visi kebebasan beragama, memberikan tempat yang terbuka bagi setiap orang untuk mengemukakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran tanpa manipulasi atau tekanan situasi. Hal ini diperoleh dengan kebebasan teologis dan kekondusifan sosiologis.

Dengan begitu, kebebasan beragama mestilah dipandang sebagai suatu perspektif yang memahami dan menerima keragaman agama serta menghargainya dengan penuh kesadaran. Untuk itu, kebebasan beragama sebagai landasan bernalar, bersikap dan bertindak berbasis, harus dilihat pada tiga model keberagamaan manusia.

Pertama, agama sebagai keyakinan personal, ketika agama sebagai tuntutan pribadi demi memperoleh keyakinan dan akidah yang benar sebagai hamba Tuhan. Kedua, agama sebagai aktivitas intelektual, ketika agama dipandang sebagai paradigma dan studi ilmiah dalam memandang kehidupan. Ketiga, agama sebagai aktivitas sosial, ketika agama dijajakan di pasar publik. Pada bagian ketiga inilah yang selalu menjadi persoalan, sebab meyangkut hubungan antar agama, dan hubungan agama dengan pemerintah serta aspek-aspek sosial lainnya. Tentu saja kita menginginkan, hubungan tersebut adalah hubungan yang harmonis dan penuh kerukunan, sehingga tidak ada saling curiga apalagi saling serang.

Alquran misalnya memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada non Muslim, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Kata al-birr, memiliki arti yag luas, yag mecakup segala perbuatan baik dalam segala aspeknya. Kitab-kitab para ulama telah mejelaskan berbagai hal hubungan antara Muslim dan non Muslim. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.

Positive SSL