Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

(Guru Besar UIN Malang)

imamBagi orang yang pernah datang dan melihat sendiri negeri Yaman, maka mungkin akan sulit mengerti, mengapa mereka mau terlibat konflik dan bahkan perang. Daerahnya yang berhawa panas, terdiri atas gurun pasir, di sana sini gunung berwarna kuning sebagai tanda terbatasnya tanah subur yang memungkinkan ditanami, maka siapapun tidak akan mudah memahami, mengapa mereka harus konflik segala. Tidak terlibat perang saja, rakyat Yaman, secara ekonomi, tidak mudah menjalani hidup sehari-hari.

Kesederhanaan kehidupan rakyat Yaman kiranya sangat mudah dirasakan oleh siapapun yang berkunjung ke negeri itu. Siapa saja yang menginjakkan kaki ke bandara internasional di Yaman, akan segera merasakan betapa beratnya kehidupan di negeri itu. Jika diandingkan antara Bandara Udara di Yaman dengan bandara Udara di Dhoha, Dubai, Abu Dabi, dan bahkan juga di Indonesia sendiri amatlah jauh. Bandara udara Internasional di Yaman amat sederhana, yang hal itu menggambarkan tingkat kehidupan masyarakat di negara itu, baik dari aspek ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain.

Beberapa kali saya lewat Airport Iternasional di Yaman, baik dalam kunjungan ke negara itu sendiri maupun ketika transit dalam perjalanan pulang dan atau pergi dari Saudi Arabia. Sudah selang beberapa tahun, airport di Yaman keadaannya tidak berubah. Padahal keadaannya amat sederhana dan sudah sangat jauh bila dibandingkan dengan airport di negara-negara lainnya. Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa lapangan terbang internasional di Yaman tersebut sudah di bom, maka tidak terbayang, bagaimana keadaannya yang sekarang ini.

Namun ada hal yang aneh, sekalipun Yaman belum disebut maju, tetapi banyak santri atau mahasiswa dari beberapa negara Islam belajar di negara itu, terutama di Tarim, Hadramaut. Ratusan santri dan atau mahasiswa Indonesia belajar ke negara yang dikenal memiliki lebih dari 10 ribu wali itu. Memperhatikan keadaan lembaga pendidikan Islam di tanah air yang sudah sedemikian berkembang dan maju, namun kemudian pada kenyataannya banyak anak-anak Indonesia sendiri belajar ke Yaman, rasanya tidak mudah memahaminya. Pertanyaan yang segera muncul adalah bahwa apa sebenarnya daya tarik pendidikan di negeri yang sekarang dilanda perang itu.

Dilihat dari fasilitas pendidikan Islam yang tersedia, di Indonesia jika dibanding dengan di Yaman, maka sebenarnya sudah jauh lebih baik. Selain terdapat pesantren besar dan diasuh oleh para ulama yang tidak diragukan lagi kualitas kealimannya, di Indonesia juga sudah berkembang banyak perguruan tinggi Islam baik yang berstatus negeri maupun swasta. Sekedar belajar tentang Islam, di Indonesia sudah tidak kalah dalam berbagai halnya bila dibanding dengan di negara Islam, semisal Yaman.

Sebagai bukti keunggulan kualitas pendidikan Islam di Indonesia, di antaranya sekarang ini sudah mulai banyak pelajar dan mahasiswa dari negara-negara Islam untuk belajar di kampus dan pesantren di negeri ini. Di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang misalnya, mahasiswa asing sudah tidak kurang berasal dari 30 negara. Mereka itu datang dari Yaman, Sudan, Libia, Pakistan, Iran, Saudi Arabia, Rusia, Madagaskar, dan lain-lain. Itu semua membuktikan bahwa sebenarnya, pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk belajar tentang Islam tidak harus ke Timur Tengah. Bahkan seharusnya sudah waktunya dibalik, yakni calon satri dan mahasiswa dari Yaman, Sudan, Saudi Arabia, Mesir, dan lain-lain belajar ke Indonesia.

Terkait dengan perang di Yaman pada akhir-akhir ini, tidak sedikit orang menyangka, bahwa konflik itu terkait dengan faham keagamaan. Yaitu antara kelompok Sunny dan Syi’ah. Memang dua pengikut madzhab yang berbeda itu, sejak zaman dulu, rupanya tidak mudah didamaikan. Saling menyalahkan, menyebut-nyebut kekurangan, dan pertikaian atau permusuhan, selalu dibesar-besarkan. Persoalan yang sudah melewati sejarah yang sedemikian panjangnya itu seolah-olah tidak mungkin ditemukan cara untuk menyatukannya. Bahkan, sekedar keinginan untuk bersatu, sekalipun ajaran Islam sendiri sebenarnya menganjurkannya, ternyata belum memperoleh perhatian yang memadai. Seakan-akan mereka lebih menikmati berpisah daripada bersatu.

Suasana saling menyalahkan, menyebut kekurangan, atau juga saling menganggap atau memandang bahwa yang lain sesat sebenarnya adalah amat berbahaya. Perpecahan di antara umat Islam sendiri itu akan memberi peluang orang lain untuk masuk dan mengadu domba sebagai cara mengambil keuntungan. Perbedaan madzhab yang dibesar-besarkan itu akhirnya dijadikan alasan agar mereka berperang. Umpama saja, umat Islam itu, ——apapun madzhabnya, mampu bersatu secara kokoh, maka tidak akan mungkin pihak luar ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan di dalam negeri itu. Bibit-bibit pertikaian dari perbedaan pemahaman agama itulah yang sebenarnya membuka kemungkinan orang lain masuk untuk mendapatkan keuntungan yang digambarkan sedemikian besar yang sudah mulai jelas dilihatnya.

Sumber minyak yang cukup besar yang belum lama ini ditemukan di Aden, sesungguhnya perlu dikritisi secara lebih saksama. Perang itu bisa jadi sebenarnya bukan bersumber dari perbedaan pemahaman keagamaan, tetapi sangat mungkin adalah justru karena ditemukannya sumber kemakmuran negara itu, ialah minyak di Aden. Isu perbedaan paham keagamaan sebenarnya sekedar sebagai pemicu belaka. Jika demikian itu halnya, maka pelajaran penting yang seharusnya di ambil dari perang di Yaman sekarang ini adalah, bahwa perpecahan di antara umat Islam itu ternyata harus dibayar mahal, yaitu negara dan rakyatnya menjadi korban dan bahkan tidak terkecuali, kekayaan alamnya juga sekalian akan diambil orang lain. Wallau a’lam.

*Sumber http://www.imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=2560

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL