Oleh Dr Zainuddin

(Dosen UIN Malang)

kerukunan-beragamaDalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, kita mengidealkan sebuah tatanan masyarakat baru. Gambaran “Masyarakat Baru” dimaksud adalah masyarakat yang tumbuh dan berkembang dalam suasana demokratis dan keterbukaan dengan asas penegakan terhadap harkat dan martabat setiap manusia.

Harapan dan cita-cita untuk mewujudkan “Indonesia Baru” yang demokratis dan terbuka dimakasud memang sekarang belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh bangsa ini, bahkan yang tampak adalah maraknya kerusuhan, konflik dan teror bom di berbagai daerah tanpa mengindahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketegangan dan kerusuhan yang bernuansa agama di beberapa daerah yang mengakibatkan hancurnya tempat-tempat ibadah seperti masjid, mushalla dan gereja juga pernah menghiasi negeri kita. Fenomena di atas menunjukkan adanya kesenjangan (gap) antara idealitas agama (das sollen) sebagai ajaran dan pesan-pesan suci Tuhan dengan realitas empirik yang terjadi dalam masyarakat (das sein). Padahal secara historis, bangsa Indonesia telah memiliki modal nasionalitas yang amat berharga untuk menjunjung tinggi nilai kesatuan dan persatuan bangsa, seperti: kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa (agama), keutuhan wilayah negara, bahasa kesatuan, konstitusi dan falsafah negara, sistem pemerintahan yang meliputi seluruh tanah air, jajaran militer sebagai tulang punggung ketertiban dan keamanan nasional.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai umat beragama? Bagaimana peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana pendidikan agama kita? Persoalan ini mesti segera dicarikan jalan keluarnya, sehingga doktrin-doktrin agama menjadi semakin bermakna bagi terciptanya kehidupan yang harmonis antarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimaksud.

 

Relativitas dalam Doktrin

Acapkali orang menganggap bahwa pendapatnya sebagai satu-satunya yang benar, sementara yang lain salah. Konsekuensi dari anggapan ini kemudian melebar sampai kepada claim kebenaran (truth claim) terhadap persoalan agama. Padahal apa yang dianggap sebagai “agama” itu tidak lain adalah penafsiran terhadap agama itu sendiri.

Kita memang sepakat bahwa agama memiliki kebenaran yang absolut, mutlak. Konsekuensi dari keyakinan ini kemudian kita wajib mengikuti ajaran agama tersebut. Hanya persoalannya, aspek manakah agama yang dianggap sebagai memiliki kebenaran mutlak itu? Seberapa banyak porsi ajaran absolut dalam agama itu?

Dalam konteks Islam, kebanyakan ulama’ berpendapat, bahwa absolutisitas agama ada pada wilayah ijma’ ulama’, atau pada wilayah dalil muhkamat, seperti: tentang keesaan Tuhan, kebenaran al-Qur’an dan kebenaran perintah shalat dst. Sementara pada wilayah dalil musytarak dan mutasyabihat yang masih menjadi ikhtilaf ulama’ (karena perbedaan penafsiran, interpretasi), maka bersifat relatif.[1]

Pertanyaan yang mungkin muncul lagi, adakah ijma’ ulama’ itu? Dalam khazanah Ushul Fiqh, bahwa ijma’ ulama’ itu memang  ada, hanya  porsinya sangat sedikit dan terbatas. Hal ini sejalan dengan absolutisitas ajaran agama itu sendiri. Dengan demikian, yang perlu dipahami adalah, bahwa relativitas dalam ajaran agama itu sangat dominan. Al-Qur’an memang memberikan porsi “berbeda pendapat”, porsi ber-ijtihad lebih banyak ketimbang porsi untuk ijma’. Apa hikmahnya? Supaya umat Islam kreatif dan dinamis. Sebab kondisi dan setting sosial setiap kurun memiliki perbedaan sesuai dengan wilayah di mana mereka tinggal. Itulah yang kemudian melahirkan “warna-warni” Islam: ada Islam Arab, ada Islam Persi, Islam Indonesia dan seterusnya. Ada hukum Islam ‘ala al-mazahib al-arba’ah, ada qaul qadim dan qaul jadid Imam As-Syafi’i dan seterusnya. Inil pulalah  yang kemudian melahirkan pluralitas umat, firqah-firqah dan jama’ah-jama’ah dalam Islam dan pluralitas itu sendiri merupakan sunnatullah. Tetapi yang perlu dipahami, bahwa warna-warni Islam itu secara substansial tidak memiliki  perbedaan. Hanya sayang, selama ini  yang terjadi justru perbedaan itu dipahami sebagai sesuatu yang aneh sehingga melahirkan pertentangan dan permusuhan, bahkan sampai pada konflik yang memprihatinkan. Padahal Nabi sendiri menegaskan, bahwa ikhtilaf yang ada pada umatnya sebagai sesuatu yang membawa rahmat.

Para ulama’ sepakat bahwa sumber yang memiliki kebenaran yang mutlak adalah al-Qur’an dan Hadis mutawatir. Hanya yang perlu diketahui, bahwa dalam Hadis pun yang dianggap mutawatir itu amat sedikit jumlahnya. Bahkan Imam As-Syatibi berpendapat, bahwa sedikit sekali, bahkan hampir dikatakan tidak ada satu teks keagamaan baik yang ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadis yang secara berdiri sendiri memiliki interpretasi tunggal, sehingga menjadikan ia absolut. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL