JAMAL 2Bagaimana sesungguhnya fiqih baru ini diterapkan di Indonesia? Di antara berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian adalah implementasi syariat Islam.  Syariat Islam yang dimaksud bukanlah hukum yang berkaitan dengan pidana (Al-Hudud). Syariat adalah keadilan. Dimana ada keadilan, di situlah syariat sudah ditegakkan. Jadi, bila ada yang memandang bahwa syariat adalah hukum potong tangan, maka pendapat tersebut perlu disoroti secara kritis. Karena hukum potong tangan merupakan hukum yang tidak berdiri sendiri dan bukan inti syariat. Spirit yang tersembunyi di balik hukum potong tangan adalah keadilan. Di sini, bila kita melihat khazanah klasik, akan ditemukan sejumlah pandangan tentang kedudukan hukum potong tangan, bahkan syarat-syaratnya pun sangat ketat dan tidak semudah yang dibayangkan. Oleh karena itu, syariat Islam harus dipahami sebagai keadilan sosial, bukan hukum-hukum yang bersifat parsial, seperti potong tangan. Artinya, hukum potong tangan tidak wajib ditegakkan. Yang wajib ditegakkan adalah keadilan sosial.

Masalah fiqih yang perlu mendapatkan perhatian adalah fiqih yang berkaitan dengan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Pada umumnya, hal yang berkaitan dengan perempuan seringkali dipandang dengan sebelah mata dan tidak bernuansa keadilan. Hal yang paling elementer misalnya tentang hijab/kerudung. Ada yang beranggapan bahwa kerudung merupakan sebuah kewajiban bagi perempuan. Bila tidak menggunakan dianggap sebagai penyimpangan dari agama. Nah, fiqih seperti ini harus ditinjau ulang, karena kalau kita teliti secara cermat, kewajiban berjilbab berasal dari satu sumber, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Pertanyaannya, apakah kita percaya membuta kepada hadits Ibnu Abbas atau justru mencoba memahami kandungan ayat di dalam Al-Quran? Hemat saya, sesuai dengan paradigma fiqih baru di atas, maka Al-Quran harus dijadikan landasan, bukan hadits yang dimungkinkan riwayatnya palsu.

Dalam kaitannya dengan liberarlisme, pluralisme, dan sekularisme, sebenarnya fiqih harus terbuka terhadap ketiga paradigma tersebut. Memfatwa haram terhadap ketiga paradigma tersebut merupakan sebuah sikap yang tidak bijaksana. Inti dari liberalisme adalah kebebasan. Dalam hal ini, Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan, karena kebebasan bisa diibaratkan seperti udara. Seluruh makhluk Tuhan membutuhkan udara, membutuhkan kebebasan. Karena itu, Islam memberikan perhatian tentang kebebasan berpendapat, berpolitik, bahkan beragama sekalipun, tidak mungkin umat Muslim maju dan berkembang tanpa adanya angin segar kebebasan, yang merupakan ruh utama dalam liberalisme.

Perihal liberalisme, dalam buku At-Ta’addudiyyah Fi Al-Mujtama’ Al-Islami (Pluralisme dalam masyarakat Islam) dijelaskan Tuhan telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tuhan sendiri mampu menciptakan manusia dalam satu rumpun dan kelompok, tetapi Tuhan memilih untuk menciptakan keragaman. Di dalam Al-Quran disebutkan, bahwa orang-orang Muslim, Yahudi, Kristen, Shabian dan Majusi, mereka yang beriman kepada Tuhan, hari akhir dan beramal saleh akan mendapatkan pahala, tidak bersedih dan tidak pula takut. Di sini, pluralisme merupakan ajaran penting dalam Islam. Pluralisme tidak hanya kebutuhan manusia, tetapi juga takdir Tuhan. Karena itu, agak aneh bila ada institusi keagamaan yang memfatwa haram atas agama.

Sedangkan perihal sekularisme, kita harus memahami sekularisme dari tempat kelahirannya. Sekularisme hadir untuk melawan kekuasaan gereja, terutama hegemoni gereja atas politik. Sementara itu, di dalam Islam tidak ada kekuasaan gereja, karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Sebagai contoh, setiap orang Muslim mempunyai kebebasan untuk menjadi imam shalat. Ini merupakan contoh kecil dari sekularisme, yang mana tidak ada dominasi dalam ranah keagamaan.

Hal yang paling mendasar perihal kesamaan antara Islam dan sekularisme adalah tidak adanya negara Islam. Di dalam Islam, negara Islam bisa merusak ideologi Islam itu sendiri. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman panjang tentang pergulatan agama dan negara yang cenderung berakhir dengan tragedi, seperti pengafiran dan penghalalan darah yang berlandaskan agama. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada pertentangan antara Islam dan sekularisme. Bahkan, Islam merupakan agama yang sejalan dengan spirit sekularisme.

Di Indonesia sekarang sedang muncul polemik tentang poligami. Hemat saya, untuk menjawab masalah ini kita harus menggunakan paradigma Al-Quran. Allah berfirman, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan terbaik, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat agar kalian tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa’: 3).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa poligami secara jelas disyaratkan dengan syarat-syarat yang ketat, yaitu dalam rangka membatasi jumlah istri sebelum Islam tanpa batas. Dulu, sebelum Islam datang, orang-orang Arab ada yang mempunyai 7 sampai dengan 8 istri. Tapi, setelah Islam datang, jumlah istri dibatasi menjadi 4. Kendati pun demikian, mengacu pada ayat tersebut, dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya.

Akhirnya, setiap upaya perubahan bukanlah sebuah proses yang instan, langsung jadi. Perubahan dan pembaruan adalah proses yang berlangsung selama bertahun-tahun. Nah, pemikiran ini barangkali tidak terwujud sekarang, tapi mungkin saja terwujud pada tahun-tahun yang akan datang oleh generasi Muslim yang mempunyai ghirah untuk melakukan pembaruan ke arah pemahaman keagamaan yang dinamis, kreatif dan memberikan harapan bagi umat Muslim. Kita berharap masyarakat Muslim Indonesia mendapatkan hal itu. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Disadur dari buku “Manifesto Fiqih” karya Jamal al-banna.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL