JAMAL 2Dalam kaitannya dengan paradigma fiqih baru, sebenarnya terdapat sejumlah ulama dan pemikir kontemporer yang meramaikan pentingnya pembaruan fiqih. Antara lain, Salim ‘Awwa, Abdul Halim ‘Athiyya, Yusuf Al-Qardhawi, Thariq Al-Bisyri, dan lain-lain. Tetapi dapat dikatakan bahwa di samping kecerdasan mereka yang luar biasa, mereka adalah para pemikir yang berpikir sebagaimana kaum salafi. Paradigma yang mereka gunakan adalah paradigma kaum salafi, dan mereka belum mampu melampauinya. Mereka juga tidak mempunyai keberanian untuk melakukan terobosan-terobosan dalam ranah fiqih. Di antara alasan lain, yang harus diungkap di sini, karena mereka masih terikat dengan sistem kekuasaan politik yang ada. Mereka tidak mempunyai keberanian untuk melakukan pembaruan fiqih, karena mereka takut kehilangan posisinya di kekuasaan.

Nah, karena yang lebih mempunyai kesempatan untuk melakukan pembaruan daripada mereka, adalah orang yang tidak mempunyai keterikatan dengan kekuasaan mana pun, baik kekuasaan politik maupun kekuasaan agama. Yang lebih mempunyai independensi untuk melakukan pembaruan fiqih. adalah yang juga mempunyai sumber pencaharian hidup sendiri. Dari sini, rahim pembaruan fiqih sesungguhnya dimulai dari mereka yang mempunyai keinginan kuat untuk melakukan pembaruan dari luar.

Karena itu, pembaruan fiqih harus segera dideklarasikan dengan cara memadukan antara keinginan kuat dengan perangkat-perangkat modernitas yang ada. Harus diakui, dengan spirit inilah negara-negara Barat mampu menghasilkan pembaruan. Misalnya dalam tema feminisme, kita tidak banyak mempunyai pandangan fiqih yang mampu menyoroti dan menyikapi feminisme. Berbeda dengan Barat yang mempunyai pandangan dari paradigma Barat yang kaya. Begitu pula tentang perlawanan kalangan sosialis, sebagaimana dipelopori oleh Lenin, sebenarnya dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk melakukan pembaruan pada ranah sosial. Fiqih Islam dapat belajar dari pengalaman Lenin untuk mendorong  keadilan sosial. Dari sini, pembaruan fiqih tidak mesti dilakukan dari dalam. Pembaruan fiqih juga bisa dilakukan dari luar, dengan cara mempelajari berbagai pengalaman lain dalam transformasi sosial.

Lalu, apa saja karakter fiqih baru?

Pertama, fiqih baru mempercayai Al-Quran sebagai pedoman utama dalam mengambil kesimpulan hukum. Namun, dalam menyikapi Al-Quran, berbeda dengan para ulama tafsir terdahulu. Bahkan tidak akan menjadikan tafsir mereka sebagai sumber utama, karena tidak ada keharusan untuk taklid buta terhadap karya mereka. Disini, salafisme muncul karena mereka berkutat dan berpegang teguh pada tafsir klasik. Sederhananya, pandangan kalangan salafi tersebut merupakan salah satu bentuk penyimpangan terhadap upaya menyelami kandungan makna Al-Quran yang semestinya.

Kedua, fiqih baru mempunyai perhatian pada sunnah. Hanya saja, sunnah yang dikodifikasi oleh ulama terdahulu pada umumnya adalah sunnah yang masuk dalam kategori palsu. Ada yang mengatakan jumlah hadits sebanyak satu juta. Imam Ibnu Hanbal meriwayatkan 25.000 hadits. Dan imam Bukhari dikatakan meriwayatkan 5.000 hingga 7.000 hadits. Imam Syafi’i berkata bahwa sunnah merupakan kitab yang paling absah setelah Al-Quran.

Pendapat ini tidak bisa dibenarkan, karena Al-Quran merupakan satu-satunya sumber kebenaran yang bersifat otoritatif. Sedangkan sunnah masih menimbulkan pertentangan di kalangan ulama tentang kedudukannya. Oleh karena itu, diperlukan cara pandang baru terhadap sunnah. Sejatinya cara pandang tentang sunnah adalah dengan menggunakan paradigma Al-Quran, bukan paradigma para perawi hadits. Seluruh hadits yang sejalan dengan paradigma Al-Quran harus kita terima sebagai sunnah. Sedangkan yang tidak sejalan, kita tidak harus menerimanya. Di samping itu, kita bisa mengguakan matan/kandungan hadits sebagai barometer kesahihan sebuah hadits.

Ketiga, fiqih baru mempunyai perhatian terhadap hikmah. Di luar Al-Quran dan sunnah, sebenarnya Tuhan juga menurunkan hikmah. Tuhan sendiri yang menunuk siapa yang berhak mendapat hikmah. Hikmah merupakan harta karun umat Muslim di dunia, dan tugas umat Muslim untuk menggali dan menggunakan hikmah sebagai upaya untuk melakukan pembaruan fiqih. Dalam hal ini, menyingkap hikmah sebagai upaya untuk melakukan pembaruan fiqih, dan berarti pula menjadikan kemaslahatan sebagai landasan filosofis atas fiqih. Di dalam tradisi klasik, Imam Najmuddin Ath-Thufi merupakan salah satu tokoh yang memberikan perhatian terhadap paradigma kemaslahatan, maka kemaslahatan harus didahulukan. Dan teks tersebut harus ditakwil agar mempunyai visi kemaslahatan.

Oleh karena itu, fiqih baru mempunyai visi dan misi untuk memajukan umat. Fiqih harus mempunyai landasan yang kuat di dalam Al-Quran dan sunnah, tetapi di sisi lain harus mampu menjawab masalah kekinian. Disini, fiqih harus mampu berinteraksi dengan dinamika kontemporer dan kekinian. Negara-negara lain, seperi Jepang, dengan cepat bangkit dari keterpurukan karena mempunyai visi yang kukuh tentang upaya kemajuan umat, yang juga terkait dengan upaya penerjemahan buku-buku asing yang bernuansa kemajuan. Fiqih yang baru harus menggunakan modernitas sebagai pijakan untuk kebangkitan umat. Di tengah tersedianya fasilitas modern, upaya membangun fiqih baru merupakan sebuah keniscayaan. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL