mu'jizatPernahkan anda mendengar kisah tentang berubahnya tongkat menjadi ular? Atau kisah menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang buta, atau menciptakan burung dari tanah? Atau cerita tentang seorang yang tidak terbakar api? Dan keluarnya unta dari sebuah batu? Dan masih banyak kisah lainnya yang semua itu mendatangkan keheranan dan ketakjuban manusia.

Umumnya kita menyebut hal-hal diatas sebagai aneh, ajaib, hebat, dahsyat, tidak biasa, supranatural, mistik, atau luar biasa. Namun, dalam terminologi agama, hal-hal tersebut disebut dengan mukjizat (jika dilakukan Nabi) dan keramat (jika dilakukan orang saleh selain nabi).

Jadi, mukjizat adalah kekuatan luar biasa dan tidak dapat ditandingi yang berasal dari para Nabi dengan izin dan kehendak Allah swt serta selaras dengan hukum sebab-akibat sebagai dalil akan kebenaran pengakuan kenabiannya. Dengan demikian ciri khas mukjizat adalah :

  1. Peristiwa yang terjadi itu keluar dari kebiasaan dan keluar dari sebab-sebab yang wajar. Mukjizat merupakan kejadian yang berawal dari sejumlah faktor yang tidak wajar.
  2. Peristiwa yang keluar dari adat kebiasaan itu timbulnya dari para nabi dengan kehendak ilahiah dan izin dari-Nya secara khusus. Kejadian luar biasa itu dapat dibagi menjadi dua. Pertama, kejadian yang sebab-sebabnya tidak wajar, tetapi masih dapat diusahakan oleh manusia, misalnya melalui pelatihan seperti para pertapa. Kedua, perbuatan luar biasa yang tidak akan terwujud kecuali dengan izin dan kehendak Allah secara khusus, dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah swt. Berbeda dengan yang pertama, perbuatan kedua ini memiliki dua keistimewaan, yaitu: tidak dapat dipelajari; dan tidak tunduk pada kekuatan lain yang lebih tinggi, bahkan tidak ada faktor apapun yang dapat mengalahkannya. Mukjizat merupakan perbuatan yang kedua, yang merupakan perbuatan ilahi melalui diri nabi.
  3. Mukjizat terjaditetap berdasarkan pada hukum sebab-akibat sebagai hukum universal alam semesta. Akan tetapi, kausalitas dalam peristiwa mukjizat memang berada di luar sebab-sebab umum (alami) yang dikenal manusia. Artinya, kita mengetahui beberapa sebab untuk mewujudkan sesuatu, tetapi, kita tidak dapat membatasi sebab hanya pada segelintir sebab itu saja.
  4. Perkara yang luar biasa itu dapat dijadikan dalil atas kebenaran klaim seorang nabi. Perlu diketahui bahwa perbuatan luar biasa itu dapat dilakukan oleh setiap hamba yang dekat dengan Allah swt, baik dia adalah nabi maupun bukan nabi seperti para imam atau wali Allah. Karenanya, mukjizat hanya berhubungan dengan klaim dan pembuktian kenabian secara langsung, sedangkan untuk orang yang bukan nabi disebut dengan karamah.

Adapun tujuan dan fungsi ditampakkanya mukjizat oleh para Nabi terkadang terjadi demi memenuhi tuntutan permintaan manusia (seperti peristiwa unta Nabi Saleh as) atau terjadi tanpa permintaan mereka (seperti mukjizat Nabi Isa as) dengan tujuan untuk memperkenalkan para Nabi dan menyempurnakan hujjah Allah Swt atas manusia, bukan untuk memaksa mereka agar menerima dakwah, tunduk dan taat secara terpaksa kepada para Nabi, juga bukan untuk menghibur mereka mereka dengan mempermainkan tata hukum kausalitas.

Dengan demikian, mukjizat kenabian berfungsi diantaranya untuk :

  1. Membuktikan dan mengukuhkan kebenaran kenabian. Hal ini sesuai dengan defenisi di atas, di mana setiap pengakuan kenabian mestilah disertai dengan kemampuan melakukan mukjizat. Artinya, jika seseorang menyatakan dirinya Nabi, maka jika ia diminta—dengan sungguh-sungguh—oleh umat untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia umumnya, maka ia harus siap dan mampu melakukannya, “Fir’aun menjawab, ‘Jika benar kamu membawa bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya.” (Q.S. al-A’raf: 106-108). Lihat juga Q.S. Ali Imran: 49; al-Maidah: 110.
  2. Melemahkan musuh-musuh nabi. Maksudnya, jika ada seorang yang bukan Nabi tetapi memiliki kekuatan luar biasa (mungkin berasal dari setan) yang digunakan untuk menyesatkan manusia, maka sesuai dengan rahmat dan kebijaksanaan Allah, maka Dia mesti mengutus seorang Nabi untuk melemahkan kemampuan orang tersebut, sehingga kejahatan tidak akan bisa bertahan selamanya,“Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘lemparkanlah tongkatmu!’ Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Q.S. al-A’raf: 117); “Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Q.S. al-Anbiya: 68-69).
  3. Mengatasi kesulitan Nabi dan kaumnya, sesuai kebutuhan saat itu.: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air…” (Q.S. al-Baqarah: 60); “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar…” (Q.S. al-Syu’ara: 63-64) (hd/liputanislam)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL