sahabat-nabiSatu hal yang mesti dipahami pula bahwa para sahabat itu bertingkat-tingkat kedudukannya. Mengenai jumlah peringkat (Thabaqah) di kalangan sahabat sampai saat ini memang masih diperselisihkan. Al-Hakim mengkualifikasikan mereka menjadi 12 peringkat. Kedua belas peringkat sahabat itu, adalah sebagai berikut:

  1. Mereka yang mula-mula masuk Islam seperti 10 orang sahabat yang mendapat kabar akan masuk surga, yakni para Khulafaurrasyidin, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah, plus Khadijah dan Bilal.
  2. Mereka yang masuk Islam sebelum musyawarah ahli Makkah di Dar al-Nadwah.
  3. Mereka yang berhijrah ke Habasyah. Mereka seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Ja’far bin Abi Thalib, Ruqayyah, istri Utsman dan puteri nabi Muhammad SAW, Sahlah binti Sahl, istri Abu Huzaifah.
  4. Mereka yang mengikuti al-‘Aqabah al-Ula seperti Jabir bin Abdullah, Uqbah bin Amir, As’ad bin Zurarah, dan Ubadah bin al-Shamit.
  5. Mereka yang mengikuti al-‘Aqabah al-Tsaniah (mayoritas kaum Anshor) seperti al-Barra bin Ma’rur, Sa’ad bin Ubadah, dan Ka’ab bin Malik.
  6. Kaum Muhajirin yang mula-mula bertemu dengan nabi Muhammad SAW di Quba sebelum beliau memasuki Madinah.
  7. Ahli Badr.
  8. Mereka yang berhijrah di antara Badar dan al-Hudaibiyah.
  9. Para peserta Bai’at al-Ridwan di Hudaibiyah.
  10. Mereka yang berhijrah antara Hudaibiyah dan Fath al-Makkah, seperti Khalid bin Walid, Ibn al-‘Ash, dan Abu Hurairah.
  11. Orang-orang yang masuk Islam saat Fath al-Makkah seperti Mu’awiyah bin Harb dan Hakim bin Hizam.

Dan kedua belas. Kalangan anak-anak yang menyaksikan Nabi Muhammad SAW saat Fath al-Makkah, Haji Wada’, dan lainnya seperti Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, As-Sa’ib bin Yazid al-Kalabi dan Abdullah al-Zubair.

Adapun menurut Ibn Sa’ad, para sahabat dibagi menjadi lima kategori yakni

1)               sahabat Muhajirin yang ikut Perang Badar,

2)            sahabat Anshar yang ikut Perang Badar,

3)            sahabat yang lebih dulu masuk Islam, yang hijrah ke Habasyah atau mengikuti Perang Uhud tetapi tidak mengikuti Perang Badar,

4)            sahabat yang memeluk Islam sebelum penaklukan Mekah

5)            sahabat yang memeluk Islam sesudah penaklukan Mekah.

Selain bertingkat-tingkat, baik bagi sunni maupun syiah, para sahabat pun memiliki keutamaan yang tidak sama. Mayoritas ulama Sunni sepakat bahwa khulafa al-rayidin, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, adalah sahabat paling utama sesuai urutannya. Setelah mereka itu, barulah sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, ahli Badar, ahli Uhud, peserta bai’ah al-ridwan, kaum Anshar yang mengikuti dua ‘aqabah, al-sabiqun al-awwalun, dan mereka yang pernah melakukan shalat menghadap dua kiblat.

Adapun menurut ulama Syi’ah Imamiyah sepakat bahwa sahabat yang paling utama adalah Ali bin Abi Thalib. Di susul dengan para sahabat yang setia dan berwilayah kepada Ali bin Abi Thalib, Abu Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Hamzah, Mus’ab al-Khair, Abu Dzar, Miqdad, Salman al-Farisi, Ammar bin Yassir, Malik al-Asytar, Habib bin Madzahir, Maitsam al-Tammar, al-Mukhtar, Kumayl bin Ziyad, Said bin Jubair, dan masih banyak lagi. (hd/liputanislam)

Referensi

Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin (Beirut: Dar al-Fikr, 1981)

Muhammad Ajaj al-Khatib, Ushul Al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1989)

Ahmad Husein Ya’qub, Nazhariyyah ‘Adalah Ash-Shahabah (Qom: Ansariyan Publication, 1996)

Al-Syahrazuri, Muqaddimah Ibn Shalah fi ‘Ulum al-Hadits (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Ilmiyah, 1995).

Ibn Hajar Al-‘Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (Beirut: T.p, 1992).

Imam Al-Nawawi, Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifati Sunan al-Basyir al-Nadzir (Beirut: Dra al-Fikr, 1988)

Kamal al-Sayyid, The Companions of the Prophet and Their Followers (Qom: Ansariyan Publications, 2000).

Al-Hakim Al-Naisaburi, Kitab Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits, (Madinah: al-Maktabah al-‘Ilmiyah bi al-Madinah al-Munawwarah, 1977)

Subhi As-Shalih, Ulum Hadits wa Musthalahuhu (Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1977).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL