sahabat-nabiSegelintir ulama mendefinisikan kata ‘sahabat’ secara sempit dan khusus. Misalnya, seperti dilaporkan oleh Syahrazuri dan ‘Ajaj al-Khatib, Anas bin Malik menyatakan bahwa sekedar melihat Nabi saw tidak cukup menjadikan seseorang masuk dalam kategori sahabat. Pandangannya ini berdasarkan riwayat dari Syu’bah dari Musa al-Subulani, katanya “Saya bertanya kepada Anas bin Malik, Apakah masih ada sahabat nabi Muhammad saw selain tuan?. Beliau menjawab “Orang-orang pedalaman Arab melihat beliau, tetapi yang berstatus sahabat tidak ada lagi”.

Al-Baqillany menyatakan bahwa tidak disebut sahabat kecuali untuk orang yang banyak bergaul dan sering bertemu dengan orang lain. Tidak digunakan kata sahabat untuk orang yang bertemu hanya sesaat dengan orang lain atau berjalan satu langkah dengannya serta mendengar satu pembicaraan saja darinya”. Para ahli Ushul Fiqh menulis bahwa “Sahabat adalah orang yang lama bergaul bersama Nabi Muhammad saw”. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan bahwa “tidak dianggap sebagai seorang sahabat kecuali orang yang bertemu Nabi saw selama satu atau dua tahun. Atau ia pernah berperang bersama Nabi dalam satu atau dua kali peperangan”.

Sedangkan para ulama Syi’ah Imamiyah memberikan defenisi yang luas sekaligus sempit pada sahabat Nabi. Artinya, kalau mau diluaskan, maka defenisi sahabat Nabi saw dapat diterapkan kepada semua yang bertemu dengan Nabi saw, termasuk yang munafik sekalipun,,, Namun dengan makna sempit dan khusus, sahabat Nabi hanya dapat diterapkan pada orang-orang pilihan tertentu yang setia pada Nabi saw dan Ahlul Baitnya dalam menegakkan daulah Islam, ini adalah sahabat istimewa

Ahmad Husein Ya’kub, mengatakan bahwa sahabat adalah setiap orang yang semasa dengan nabi yang mereka mematuhi Rasulullah, melindungi, memberikan pertolongan, dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepada beliau. Mereka adalah orang-orang pilihan yang turut berjasa menegakkan daulah Islam dan selalu bersabar terhadap berbagai bentuk cerca dan hinaan orang-orang kafir, hingga Allah memberikan kemenangan. Mereka selalu berpegang teguh kepada kepada Allah, dan menampakkan kesetiaan kepada Rasulullah saw dan kepada orang yang ditunjuk sebagai wali (yakni Ali bin Abi Thalib) oleh beliau, hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan berpegang teguh kepada agama Allah.

Orang-orang yang masuk dalam definisi ini sangat sedikit, antara lain ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Miqdad bin Amr, Malik al-Asytar, Maitsam al-Tammar, Kumail bin Ziyad, Said bin Jubair, al-Mukhtar al-Thaqafi, Abu Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Hamzah, Mus’ab al-Khair, Ammar bin Yassir, dan Habib bin Mazhahir. Kesemuanya adalah sahabat-sahabat istimewa Nabi saw, sementara orang-orang seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah, Zubair, Amr bin Ash, dan Muawiyah dianggap sebagai orang yang kurang istimewa. Mereka, seperti diungkap Ya’kub, adalah orang-orang yang memiliki bermacam-macam watak di mana hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya. Bahkan di antara para sahabat yang banyak dan luas itu terdapat kaum munafik, yang menampakkan keislaman mereka dengan lahir. Mereka pada dasarnya tidak layak disebut sebagai sahabat nabi, dan jika mereka tetap ingin disebut sebagai sahabat, mereka hanya bisa disebut sebagai sahabat yang tidak istimewa. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL