sahabat-nabiIstilah ‘sahabat’ berasal dari bahasa Arab, yakni Al-Ashhab, Ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Suhbatan, Shahabatan, dan Shahibun, yang artinya ‘teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong, dan pengikut. Ash-Shahib diartikan sebagai kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan dan menjaga sesuatu’. Di dalam al-Quran, hanya ditemukan derivasi dari kata ini seperti Tushahibni, shahibahuma, shahibahu, shahibatahu, ashhab, dan ashhabun, yangterulang sebanyak 97 kali. Berdasarkan penelaahan atas sejumlah ayat-ayat al-Quran, kata-kata tersebut memiliki beberapa makna, baik bermakna positif maupun bermakna negatif.

Menurut bahasa, kata ‘sahabat’ adalah musytaq (pecahan) dari kata Shuhbah, artinya orang yang menemani yang lain, tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Kata ini digunakan untuk menyatakan kegiatan persahabatan itu, baik terjadi dalam frekuensi minimal maupun maksimal. Jadi, jika seseorang menemani seseorang selama sepanjang masa, atau satu tahun, atau satu bulan, atau satu hari, atau bahkan satu jam, maka mereka telah dianggap saling bersahabat. Konsep ini dipegang oleh mayoritas ulama.

Kata Ash-Shuhbah dapat diterapkan kepada hubungan antara seorang mukmin dengan mukmin lain, antara seorang anak dengan orang tuanya yang berbeda keyakinan, antara dua orang yang bersama-sama melakukan perjalanan, antara pengikut dengan orang yang diikuti, antara seorang mukmin dengan orang kafir, antara orang kafir dengan orang kafir lainnya, antara seorang nabi dengan kaumnya yang kafir yang berusaha menghalangi dari kebaikan dan mengembalikannya pada kesesatan. Kata ini pun bermakna memiliki pengaruh, misalnya seseorang dapat terpengaruh perangainya setelah berteman dengan orang yang berprilaku buruk. Kata ini pun berarti ketundukan pada akidah Ilahi atau kesetiaan mutlak kepada pemimpin politik, seperti ketundukan keluarga nabi terhadap akidah Ilahi atau pengorbanan mereka serta kesetiaan para sahabat pada kepemimpinan Rasulullah saw.

Secara terminologi, banyak sekali pandangan ulama tentang definisi sahabat. Mengenai batasan tentang siapa sahabat itu sampai saat ini masih diperselisihkan. Mayoritas ulama mendefinisikan kata ‘sahabat’ secara luas. Misalnya, seperti dilaporkan oleh Al-Syahrazuri, dan ‘Ajaj al-Khatib, para ahli hadits menulis bahwa “Sahabat adalah setiap Muslim yang pernah melihat Nabi Muhammad saw”. Imam Bukhari menyatakan bahwa “Di antara kaum Muslimin yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw atau pernah melihat beliau, maka sudah termasuk sahabat Nabi saw”. Imam Ahmad mengungkapkan bahwa “Setiap orang yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw selama satu tahun atau beberapa bulan, sehari atau satu jam, bahkan sekedar pernah melihat beliau termasuk sahabat Nabi saw.”

Sementara itu, Ibn Hazm menulis bahwa “Sahabat adalah setiap orang yang pernah bermajlis dengan Nabi Muhammad saw, meski hanya sesaat, mendengar dari beliau meski hanya satu kata, menyaksikan beliau menangani suatu masalah dan tidak termasuk orang-orang munafik yang kemunafikannya berlanjut sampai populer dan meninggal dalam keadaan seperti itu”.

Kemudian Abu al-Muzaffar al-Sam’aniy pernah berkata bahwa “Para pakar hadits menyebut istilah sahabat untuk orang yang meriwayatkan dari nabi Muhammad saw, satu hadits atau satu kata. Lalu mereka melonggarkan pengertian itu, sehingga mereka menganggap orang yang pernah melihat sekali saja kepada nabi saw sebagai sahabat. Ini tidak lain karena kemuliaan status nabi saw. Mereka memberikan status sahabat kepada siapa saja yang pernah melihat nabi saw”.

Berdasarkan keterangan al-Waqidi, para ahli ilmu berkata “Setiap orang yang pernah melihat Nabi Muhammad saw, telah baligh, lalu masuk Islam, memahami persoalan agama, dan rela kepada beliau, maka ia dapat disebut sebagai sahabat nabi Muhammad saw meski hanya sesaat di siang hari”. Ibn Hajar al-Asqalani menulis “Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dalam keadaan beriman, hidup bersamanya baik lama atau sebentar, meriwayatkan hadits atau tidak. Begitu pula orang yang pernah melihat Nabi saw walaupun sebentar, atau pernah bertemu dengan beliau namun tidak melihat beliau karena buta”. Sementara al-Qasimi menulis bahwa “Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan nabi Muhammad SAW walaupun sesaat, dalam keadaan beriman kepadanya, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak.

Jadi, pada prinsipnya, keluasan makna sahabat di atas dapat diberlakukan dengan memenuhi dua unsur. Pertama, pernah bertemu dengan Rasulullah saw, walaupun sekejap. Dan kedua, beragama Islam sampai meninggal dunia. Alhasil, jika seseorang tidak pernah bertemu nabi Muhammad SAW, atau pernah bertemu beliau, tetapi tidak dalam keadaan beriman, atau bertemu dalam keadaan beriman tetapi meninggal dalam keadaan tidak beriman, maka ia tidak bisa disebut sebagai sahabat nabi Muhammad SAW. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL