iptek russia-vs-usa“Sekiranya Anda memperhatikan dengan teliti, niscaya Anda  mengetahui bahwa seandainya ada seorang ilmuan menemukan sesuatu yang baru atau seorang ahli psikologi mahir, maka kekuatan politik yang berkuasa akan segera berusaha mendapatkan dan memaksanya untuk bekerja demi kepentingan mereka. Tidak ada pilihan lain bagi sang ilmuan itu. Mungkin contoh yang paling tepat dalam hal ini adalah para ilmuan ahli nuklir. Di manapun di dunia ini, jika ada seorang ilmuan ahli nuklir terkemuka ditemukan, maka kekuatan politik dunia akan segera mendatangi dan menawannya agar dia menyerahkan pengetahuannya kepada mereka atau terkadang dengan maksud agar pihak musuh tidak bisa memanfaatkannya. Kekuatan politik itu memberikan suatu program kepada sang ilmuan, dan mereka meminta kepadanya untuk bekerja sesuai dengan program mereka. Ia tidak boleh keluar atau menyimpang dari program yang telah ditetapkan. Bahkan ia tak punya hak hidup kecuali menekuni program itu. Mereka kehilangan kebebasan. Inilah mengapa bisa kita katakan bahwa saat ini adalah masa ilmu pengetahuan yang terpenjara. Terpenjara oleh kekuasaan dan kekuatan yang memerintah umat manusia. Abad ini adalah abad di mana ilmuan dan ilmu pengetahuan dijadikan alat bagi mencapai cita-cita para penguasa”.

“Dari sini kita memahami bahwa di samping mempunyai kemajuan dan perkembangan, manusia juga mempunyai kemungkinan untuk menyimpang. Para guru akhlak/etika telah memberitahukan kepada kita sejak berabad-abad yang lalu tentang hal ini. Mereka mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang dikuasai seseorang tidak menunjukkan bahwa ia akan menggunakannya demi kepentingan dan kesejahteraan umat manusia. Sebab, mungkin saja. Ada seorang berilmu yang memanfaatkan ilmunya demi kepentingan syahwatnya. Atau kerja keras para ilmuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi dieksploitasi oleh sekelompok orang untuk maksud-maksud kejahatan dan ambisi kekuasaan.” (Muthahhari, 1996: 34)

Gambaran Murtadha Muthahhari di atas menunjukkan dinamika antara iptek dan kekuasan, yang mana pada saat ini kekuasan mendominasi iptek, dan iptek pun menjadi alat kekuasaan. Kekuasaan menjadi raja, sedangkan iptek menjadi panglima. Betapa banyak kekuasaan politik yang ditegakkan di atas kekuatan iptek. Negara adidaya di dunia yang dinilai dari kekuatan senjata, juga manifestasi dari kekuatan iptek. Israel menggempur Palestina juga ingin menunjukkan kecanggihan iptekya dalam peperangan. Perlombaan senjata antara Amerika dan Rusia untuk saling mengentarkan musuh-musuhnya, juga di nilai sebagai perlombaan para ilmuwan dalam meningkatkan kualitas pengetahuan mereka. Beragam penemuan dan penelitian yang dilakukan disponsori oleh elit-elit pengusaha atau elit penguasa. Dan tentunya kedua elit ini lebih memperhatikan sisi ekonomi dan kekuasaan mereka dalam mendukung aktivitas saintis. Karena itulah, iptek sebagai pelayan kekuasaan memang telah menjadi fenomena abad ini.

Itulah mengapa sejak masa Yunani kuno hingga saat ini para filosof melihat bahwa kekuasaan tidaklah layak berada di tangan para individu ambisius yang dikendalikan oleh nafsu syahwatnya. Kesejahteraan hanya akan terjadi, jika para intelektual menjadi  pemegang dan pengendali kekuasaan (Aristokrasi). Dalam ungkapan Plato, dunia tidak akan melihat kebahagiaan, kecuali bila orang-orang ahli ilmu dan hikmah menjadi penguasa, dan para penguasa menjadi orang ahli hikmah dan ilmu pengetahuan. Selama para ahli hikmah dan pengetahuan berada pada satu tingkatan, dan para penguasa berada pada tingkatan lain, maka selama itu pula kebahagiaan tidak akan dapat dirasakan oleh dunia.

Jadi, dalam dunia politis, yang mana manusia merupakan makhluk terbaik hasil kreasi Tuhan, dijadikan sebagai pengemban amanah untuk memakmurkan jagat raya. Kemakmuran hanya didapatkan dengan sistem amanah bukan kekuasaan. Amanah ini didasarkan pada kepercayaan dan tanggung jawab, sedangkan kekuasaan diazaskan dengan kepemilikan dan kebebasan. Karenanya, pengelolaan semesta dengan amanah akan menghasilkan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik alam semesta, sedangkan pengelolaan berdasarkan kekuasaan dan kepemilikan hanya akan memberlakukan alam sesuai dengan keinginan dan kesenangan. Sebab itu, politik yang amanah akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana menuju kemaslahatan jagat raya termasuk mengantarkan manusia pada kesempurnaannya.

Secara jujur mesti diakui bahwa manusia mengharapkan kesempurnaan diri. Dengan fitrah ini, manusia mencari sarana untuk mencapai hasrat kesempurnaan tersebut. Apa sarana tersebut? iptek, etika atau kekuasaan (politik)? Jawaban idealnya bukanlah salah satunya, melainkan ketiganya. Kalau begitu, konsekuensi semestinya dari fitrah kesempurnaan adalah keterpaduan sains, etika dan kekuasaan. Artinya semakin orang berpengatahuan maka semakin baik pula dirinya, sehingga ia menggunakan kekuasaan dengan dasar keadilan.

Kalin (dalam Peters, 2006: 78) menyebutkan bahwa Banyak para ahli membuktikan bahwa sains dan teknologi tidak bersifat netral. Tetapi, sebagian besar ilmuwan saat ini meyakini netralitas sains. Karena sains merupakan suatu upaya yang bebas nilai, maka perbedaan antara pelbagai tradisi ilmiah, sepenuhnya timbul pada tingkat justifikasi, bukan pada tingkat eksperimen dan cara kerja. Jadi, ketika seorang saintis, baik Muslim, Kristen, Hindu, atau ateis mengamati komponen kimiawi mineral, mereka akan melihat sesuatu yang sama, bekerja pada perangkat elemen yang sama, menurut perangkat kondisi yang sama, dan akan sampai pada kesimpulan yang sama. Aplikasi praktis temuan-temuan ini pada berbagai bidang dan teknologilah yang membuat perbedaan.

Seperti halnya sains, teknologi juga bersifat netral, kata Henry Steele Commager. Manusialah yang menerapkannya, dan manusialah yang bertanggungjawab atas teknologi—manusia yang bekerja sendiri, atau melalui perusahaan atau pemerintah. Teknologi merupakan sarana utama untuk kemajuan atau bagi kematian, begitu manusia telah memilih menggunakannya. Kita tidak punya pilihan selain mengendalikan teknologi. Jika kita tidak mengendalikannya, maka teknologi akan menguasai kita.

Jadi, seandaipun kita sepakat ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat netral dan bebas nilai, maka kita harus tetap memperhitungkannya disaat mempergunakannya dalam kehidupan ini. Sebab, sifat netralnya tersebut membuat sains dan teknologi bisa digunakan oleh siapa saja dan untuk apa saja, kebaikan atau keburukan. Ini berarti, sains dan teknologi sangat bergantung pada sifat manusia yang menggunakannya. Jika manusianya berpegang pada nilai-nilai mulia, maka sains dan teknologi akan berjalan menuju arah kemajuan peradaban dan kesejahteraan manusia. Inilah diantara sisi positifnya.

Namun jika sains dan teknologi dikuasai oleh para manusia-manusia rakus dan haus kekauasaan maka ianya akan menjadi alat politisasi untuk melestarikan kekuasaanya yang merusak. Misalnya, teknologi nuklir. Teknologi merupakan hasil kemajuan sains dalam analisanya terhadap semesta. Krisis energi yang dialami manusia, bisa teratasi dengan adanya energi nuklir. Inilah manfaat positifnya. Namun, tatkala para penguasa dunia yang haus kekuasaan memaksa para ilmuan untuk membuat senjata dan bom nuklir dansaat kekuatan itu berada di tangan mereka, makadengan senjata itu, ia mengancam dan menakut-nakuti siapa saja yang hendak menghirup udara kebebasan. Di sini, kemampuan manusia untuk mencipta iptek telah menjadi tawanan orang-orang yang haus kekuasaan. Pada titik ini, ilmu dan teknologi tak mendapatkan kebebasannya.

Jadi, iptek yang mendapat kehormatan menjadi pangeran abad ini, ternyata tidak menemukan kebebasan yang dibanggakannya. Sebab ternyata sains tetap tak mampu menembus kekuasaan politik dunia. Para pengambil kebijakan saat ini, ternyata bukanlah para intelektual, tetapi para politisi. Dalam kondisi ini, iptek menjadi pelayan politik, yang akhirnya iptek sebagai sarana untuk mengambil dan mempertahankan kekuasaan. Karena kekuasaan di dunia ini tak selamanya dipegang oleh manusia-manusia bijak, maka penggunaan iptek yang destruktif menjadi ancaman serius kemanusiaan. Karena itu, tidak hanya pengembangan iptek, kepribadian dan mental para penguasa juga hal penting untuk mendapat perhatian serius agar peradaban dunia mengarah pada progresifitas yang menjanjikan. Untuk itulah memperhatikan dinamika iptek, kekuasaan dan mentalitas menjadi agenda utama manusia abad ini.   (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL