Oleh : Osman Bakar

osman bakar 2Lama sebelum Roger bacon memperkenalkan dan mempopulerkan metode eksperimen ke dunia sains Eropa, studi-studi empiris tentang alam, yakni studi-studi yang didasarkan pada observasi dan eksperimentasi, sudah tersebar luas di dunia Muslim. Studi-studi seperti itu tentu dilakukan oleh orang-orang Islam dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang pernah diupayakan dalam seluruh peradaban sebelumnya. Banyak sejarahwan sains Islam kontemporer terkagum-kagum pada apa yang mereka sebut sebagai karakteristik semangat modern dalam pendekatan empiris orang Islam pada kajian tentang alam.

Ilmuwan-ilmuwan Muslim terkemuka seperti ar-Razi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Haytsam, Az-Zahrawi, Nashiruddin ath-Thusi, Quthbuddin asy-Syirazi, dan Kamaluddin al-Farsi, untuk menyebut beberapa nama, dikenang antara lain karena kekuatan observasi dan kecenderungan eksperimental mereka seperti yang terlihat dalam kajian-kajian ilmu alam mereka yang luas, termasuk ilmu kedokteran. Banyak karya yang telah ditulis tentang prestasi yang dicapai para ilmuwan ini di bidang eksperimental. Yang patut menjadi perhatian utama bukanlah pembahasan tentang prestasi yang dicapai orang Islam dalam eksperimentasi itu sendiri, tetapi dalam hubungannya dengan kesadaran religius dan spiritual mereka.

Sebagaimana luasnya penggunaan logika tidak membawa pada rasionalisme sekuler yang memberontak terhadap Tuhan dan agama, demikian pula luasnya praktik eksperimentasi tidak menggiring pada sebuah empirisme yang memandang pengalaman inderawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Epistemologi (teori pengetahuan) Islam tradisional memberikan semua pengamanan yang diperlukan untuk mencegah penyimpangan filosofis semacam itu. Islam adalah agama kesatuan (tauhid) dan keseimbangan (i’tidal). Dengan demikian, ia menegakkan gagasan hierarki dan kesatuan pengetahuan dan cara-cara untuk mengetahui. Semua jalan yang mungkin untuk menuju pengetahuan diakui dengan sewajarnya, dan masing-masing disesuaikan dengan tempat dan fungsinya yang absah dalam skema epistemologis Islam.

Pemikiran logis, analisis matematis, observasi, eksperimentasi, dan bahkan interpretasi rasional terhadap Kitab Suci semuanya memiliki peran yang sah dalam upaya ilmiah para ilmuwan Muslim awal. Selama orang Muslim berpegang dengan setia pada semangat tauhid yang sejati, menerapkan keimanan tersebut pada gagasan tentang hierarki dan kesatuan pengetahuan, mereka terbebas dari kemalangan dan situasi intelektual yang berbahaya di mana suatu cara untuk mengetahui dikukuhkan dengan mengorbankan cara yang lain, atau keabsahan sebagian cara dinafikan demi menegakkan keunggulan cara-cara yang lain.

Selaras dengan perinsip tauhid, orang Muslim meyakini bahwa hanya Tuhanlah yang Mutlak dan bahwa semua yang lain adalah nisbi. Sebagai Kebenaran Mutlak (al-Haqq), Tuhan merupakan sumber dari semua kebenaran lain yang, meski demikian, mengakui adanya suatu hierarki atau tingkat-tingkat kenisbian. Tingkat-tingkat kebenaran relatif ini diketahui manusia melalui berbagai cara. Menurut Islam, manusia telah dilengkapi dengan semua fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui yang memampukan dirinya untuk mengetahui semua yang perlu diketahuinya. Alquran mengatakan, “Dia (Tuhan) Yang membuat segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya dengan sebaik-baiknya. Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. 32: 7-9)

Dengan demikian orang Islam diperingatkan oleh Alquran bahwa semua fakultas pengetahuan yang dimiliki manusia—yakni pancainderanya, perasaan-perasaan internalnya seperti fakultas pengingatan dan daya khayal, fakultas rasional dan spiritual, yakni akal dan hati—adalah pemberian Tuhan yang berharga baginya yang karenanya ia mesti bersyukur. Bersyukur pada Tuhan bukan hanya dengan mengenal asal-asul ilahiah dari segala fakultas pengetahuan ini, tetapi juga dengan menggunakan setiap fakultas itu secara sah sesuai dengan hakikat dan fungsinya yang tepat. Penggunaan yang sah atas setiap fakultas menghendaki adanya pengenalan yang baik tentang wilayah kompetensi dan batas-batas yang wajar. Sebagaimana ditekankan dengan jelas dalam ayat Alquran di atas sebagai komponen manusia telah dibuat oleh Tuhan “dalam bentuk yang paling baik”.

Pentingnya pengalaman inderawi sebagai sebuah sumber pengetahuan empiris tentang dunia sangat banyak ditekankan oleh orang Islam. Tetapi mereka juga menekankan fakta bahwa indera fisik, sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan, memiliki keterbatasan-keterbatasan tersendiri. Di sinilah datangnya intervensi kesadaran religius. Sistem kepercayaan orang Islam mengajarkan bahwa ada fenomena-fenomena dan realitas-realitas yang berada di luar jangkauan kemampuan indera fisik sekalipun dengan bantuan instrumen-instrumen teleskopik dan mikroskopik yang paling canggih dan hebat. Fenomena-fenomena dan realitas-realitas non-fisik ini menghendaki penggunaan fakultas pengetahuan non-fisik yang sesuai. Realitas fisik hanyalah sebuah aspek dari realitas keseluruhan. Ia dipandang oleh seorang Muslim sebagai realitas tingkat terendah, sementara yang tertinggi adalah Tuhan.

Bahkan pada tingkat realitas fisik, kesadaran religius seorang Muslim mempengaruhi sikapnya terhadap realitas dan kajian ilmiahnya terhadap realitas tersebut. Seorang Muslim tahu bahwa dunia fisik tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri. Dunia fisik, sebagaimana dunia-dunia yang lain, memperoleh eksistensinya dari Tuhan. Ia selalu terkait dengan Tuhan. Pada saat ia terlepas dari Tuhan, seketika itu pula ia lenyap. Deisme adalah suatu yang tak dikenal dalam pemikiran Islam. Orang islam tak pernah menerima gagasan alam semesta sebagai sebuah jam dan Tuhan adalah sang pembuat jam yang, setelah menciptakan jam hingga selesa dan sempurna, membiarkannya berjalan sendiri.

Semangat observasi dan eksperimentasi Muslim dibentuk oleh kesadaran religius ini. Bukanlah keraguan religius dan skeptisisme yang mengilhami kisah sukses sains eksperimental Muslim. Sebaliknya, semangat eksperimental Muslim diilhami oleh keyakinan tentang Tuhan sebagai Yang Absolut dan sebagai sumber dari semua kebenaran.

Orang Islam melakukan observasi dan eksperimentasi dengan keyakinan yang teguh bahwa mereka berusaha untuk mencari tahu sebuah aspek dari realitas Tuhan. Menurut filosof Muslim abad ke-12, Suhrawardi, dunia tak lebih dari pengetahuan Tuhan tentang dunia. Mengenal dunia, oleh karena itu, berarti mengetahui pengetahuan Tuhan tentang dunia. Keyakinan orang Islam bahwa kebenaran atau pengetahuan apa pun yang mereka temukan tentang alam tidak dapat dipertentangkan dengan ajaran Kitab Suci adalah berasal dari ajaran Kitab itu sendiri. Alquran mengimbau orang-orang yang beriman untuk mengamati tanda-tanda Tuhan yang termanifestasi di alam semesta, dalam jiwa-jiwa manusia, dan pada lembaran-lembaran sejarah manusia dan masyarakat, “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala penjuru bumi dan dalam jiwa-jiwa mereka sendiri, hingga jelas kebenaran itu bagi mereka…” (Q.S. 41: 53). Alquran juga mengimbau mereka untuk membuktikan semua klaim kebenaran dan pengetahuan untuk memastikan bahwa keadilan telah ditegakkan dan bahwa keraguan membukakan jalan bagi kepastian. (hd/liputanislam.com)

Sains dan tauhid*Osman Bakar adalah Profesor Emeritus dalam Filsafat Sains dan juga peneliti seniordi Center for Civilizational Dialogue, University of Malaya dan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Tulisan ini disadur dari buku Tauhid & Sains, Bandung : Pustaka Hidayah, 2008.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL