Oleh : Osman Bakar

osman bakar 2Sebagai sebuah tradisi religius yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia, Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dan yang dilarang untuk dilakukan manusia, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah sebuah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dari kedua jalan itu, aspek mengetahui adalah yang lebih penting. Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama pengetahuan. Islam memandang pengetahuan sebagai cara yang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti.

Bagian pertama dari kesaksian iman Islam, la ilaaha illallah, Tiada tuhan selain Allah, adalah sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Orang Islam memandang berbagai sains, ilmu alam, ilmu sosial, dan yang lainnya sebagai beragam bukti yang menunjuk pada kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam ini. Kalimat ini adalah pernyataan yang secara populer dikenal dalam Islam sebagai prinsip tauhid atau keesaan Tuhan.

Kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah Satu dalam Esensi-Nya, dalam Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, dan dalam perbuatan-Nya. Satu konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Sebagai sebuah sumber pengetahuan, agama bersifat empatik ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos terdiri atas berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisiknya yang dalam agama disebut Tuhan. Pada kenyataannya, Alquran dengan tegas menekankan bahwa kesuatuan kosmis merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuha, “Jika di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, maka keduanya akan hancur binasa…” (Q.S. 21 : 22)

Semangat ilmiah para ilmuwan dan sarjana Muslim pada kenyataannya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan bahwa, secara religius dan historis, asal-usul dan perkembangan semangat ilmiah dalam Islam berbeda dari asal-usul dan perkembangan hal yang sama di Barat. Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan sumber religius semangat ilmiah dalam Islam ini daripada fakta bahwa semangat ini pertama kali terlihat dalam ilmu-ilmu agama.

Orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ke-3 H/9 M. Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiah dan kerangka berpikir ilmiah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektivitas, penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklassifikasian merupakan sebagian ciri yang amat luar biasa dari para ilmuwan Muslim awal sebagaimana yang dapat dilihat dengan jelas dalam kajian-kajian mereka tentang jurisprudensi (fiqh) dan hadis Nabi saw.

Kecintaan pada defenisi-defenisi dan analisis konseptual atau semantik dengan penekanan yang besar pada kejelasan dan ketetapan logis juga sangat nyata dalam pemikiran hukum seorang Muslim maupun dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan studi atas berbagai aspek Alquran, seperti ilmu tafsir. Dalam Islam, logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Bahkan para ahli tata bahasa yang pada awalnya menentang diperkenalkannya logika Aristoteles (manthiq) oleh para filosof seperti Al-Farabi, bersifat demikian karena keyakinan bahwa logika-teologis-yuridis seperti Stoics, yang dikenal sebagai adab al-jadal (seni berdebat), sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan logika mereka.

Di kalangan para filosof dan ilmuwan Muslim, logika senantiasa dipandang sebagai suatu alat berpikir ilmiah yang tak dapat dikesampingkan. Mereka juga memandang logika sebagai suatu bentuk hikmah (kebijakan), sebentuk pengetahuan yang amat diagungkan oleh Alquran. Dalam menggunakan logika, mereka sangat memperhatikan kejelasan dan konsistensi sebagaimana halnya terhadap kebenaran dan kepastian. Mereka juga menyadari fakta bahwa logika adalah sebuah instrumen bermata dua yang dapat menyajikan kebenaran maupun kekeliruan.

Logika dikembangkan oleh para filosof dan ilmuan Muslim di dalam kerangka kesadaran religius atas yang Transenden. Dalam pandangan mereka, logika, jika digunakan secara tepat oleh sebuah intelek yang tidak diselewengkan oleh nafsu-nafsu rendah, dapat membawa seseorang kepada yang Transenden itu sendiri. Sebuah fungsi nyata logika dalam hubungannya dengan kebenaran agama adalah untuk membantu menjelaskan rasionalitas dan menjelaskan seluruh konsistensi pada hal-hal yang secara lahiriah tampak tidak logis dan kontradiktif.

Beberapa ilmuwan-filosof, sepeti Al-Farabi, menulis karya-karya yang berupaya untuk memperlihatkan bahwa logika Aristotelian mendapatkan dukungan resmi kuat dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi saw. Ketika seorang ulama yang termasyhur semacam Al-Ghazali menulis sebuah karya dengan tujuan yang sama, dan dengan penuh keyakinan menganut logika Aristoteles secara bulat-bulat, lenyaplah sudah jejak-jejak penting terakhir bagi perlawanan terhadap logika dari pihak agama. Manthiq di lingkungan Islam menjadi alat yang penting bukan hanya bagi ilmu-ilmu filsafat tetapi juga bagi ilmu-ilmu agama.

Penting untuk diperhatikan bahwa al-burhan, istilah yang digunakan dalam logika Muslim untuk menunjukkan metode ilmiah demonstrasi atau bukti demonstratif, adalah berasal dari salah satu nama Alquran. Menurut Al-Ghazali, istilah Alquran al-mizan, yang biasanya diterjemahkan sebagai timbangan, merujuk antara lain pada logika. Logika adalah timbangan yang dengannya manusia menimbang ide-ide dan pendapat-pendapat untuk sampai pada pertimbangan atau penilaian yang benar.

Luasnya penggunaan logika dalam Islam tidak membawa pada semacam rasionalisme dan logisisme seperti yang kita temukan di Barat modern secara persis, karena penggunaan rasio tidak pernah dilepaskan dari keimanan pada wahyu ilahi. Para sarjana Muslim diilhami oleh kesadaran religius yang kuat akan Yang Transenden. Mereka pada umumnya meneguhkan gagasan superioritas wahyu ilahi atas rasio manusia. Demikian pula halnya, pentingnya pemikiran logis tidak mematikan semangat eksperimentasi di kalangan ilmuwan Muslim. (hd/liputanislam.com)

Sains dan tauhid*Osman Bakar adalah Profesor Emeritus dalam Filsafat Sains dan juga peneliti senior di Center for Civilizational Dialogue, University of Malaya dan Interntional Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Tulisan di atas disadur dari karya Osman Bakar, Tauhid & Sains, Bandung : Pustaka Hidayah, 2008, hal. 67-77.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL