PancasilaHari ini, 1 Juni dikatakan sebagai hari lahirnya Pancasila. Pancasila merupakan dasar, falsafah, dan pedoman Negara Indonesia yang berisi lima sila universal yang memayungi masyarakat Indonesaia. Jika dicermati, kelima sila ini berisikan wawasan kemajemukan yang khas Indonesia, baik dari perspektif keagamaan, kemanusiaan, kenegaraan, dan kebangsaan. Pancasila telah menjadi barometer dan rujukan bagi hubungan lintas kultural masyarakat Indonesia. Sebab, pancasila merupakan rajutan indah yang dibentuk pada pendiri republik ini dari hasil perenungan mendalam dari berbagai kultur yang ada di Indonesia.

Pada sila pertama misalnya, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika kita mengkaji perbandingan agama, maka dalam komunitas Muslim, ke-esaan Tuhan (tauhid) menjadi titik sentral keyakinan agama, yang seluruh bangunan pokok keyakinan lainnya (ushuluddin) berputar pada titik lokusnya. Namun, jika kita mengangkat tema ini, ke wilayah perspektif keagamaan yang pancasilais, maka ke-esaan Tuhan, bukanlah milik eksklusif agama tertentu (seperti Islam), tetapi juga milik agama-agama lainnya yang ada di Indonesia. Walaupun begitu, perbedaan tafsir bagi pemaknaan ke-esaan Tuhan tersebut, tetaplah menjadi konsumsi eksklusif setiap agama. Jadi, dalam kemajemukan kultural di Indonesia Raya, semua sistem keyakinan dan kebudayaan dibiarkan berkembang secara alami dan ilmiah dan tidak boleh ada dominasi pemaksaan dari yang satu kepada yang lainnya.

Setiap agama dipandang penganutnya sebagai aturan yang membentuk seluruh elemen komunitasnya. Karena, agama pada dasarnya tidak muncul secara vakum budaya, maka ia memiliki andil besar bagi pembentukan kebudayaan. Artinya, sejak awal penyebarannya, agama selalu berinteraksi secara struktural dengan kultur setempat dan kemudian beradaptasi pula dengan kultur-kultur di sekitarnya. Hasil interaksi tersebut menjadikan agama, mampu mengadaptasi sekaligus menyeleksi dimensi kultural yang ada dari realitas sosial, bahasa, ataupun budaya yang dikembangkan oleh masyarakat. Kemudian dengan kemampuan kreativitasnya, agama selanjutnya melakukan transformasi kulturalnya yang khas. Pada titik ini, agama membawa individu, masyarakat, dan kawasannya menuju transformasi sosial yang kompleks.

Jika kita perhatikan dari perspektif historis, nyaris seluruh proses pengislaman berbagai daerah menerapkan sistem interaksi agama dan budaya, termasuk di Indonesia. Dalam Islam misalnya, sudah sangat terkenal kisah wali songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa dengan menggunakan tradisi jawa yang ‘berbau’ tradisi agama Hindu dan Budha, sehingga dalam beberapa studi disebut dengan ‘Islam Kejawen’. Adapun dalam komunitas etnis melayu, sangat kental dengan pakaian yang menggunakan tudung (kerudung) dan selendang (kain panjang yang diletakkan di atas kepala) atau songkok (semacam tutup kepala seperti topi) bagi perempuan. Dan hal itu sudah dianggap sesuai dengan ajaran Islam.

Di sisi lain, seseorang dikatakan religius jika ia mengamalkan dan menerapkan ajaran agama yang dianutnya dengan semaksimal mungkin. Begitu pula, seseorang dikatakan pancasilais jika dia memahami dan hidup dengan nilai-nilai pancasila dan bhineka tunggal ika. Karena fakta menunjukkan bahwa agama yang dianut masyarakat adalah beragam, maka setiap komunitas agama selayaknya mengamalkan ajaran agamanya tanpa ada paksaan, tekanan, dan intimidasi. Jika hal ini dapat direalisasikan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, maka bukanlah angan-angan jika kita mengharapkan terbentuknya masyarakat religius yang berwawasan pancasilais atau sebaliknya masyarakat pancasila yang berwawasan religius. 

Memang, ada satu hambatan penting bagi agama-agama missionaris seperti Islam, Katolik dan Protestan. Sebagai agama Missionaris, Islam, Katolik dan Potestan selalu mengajukan klaim kebenaran (truth claim) dan keselamatan (salvation claim) sepihak, sehingga senantiasa menyebarkan dan melakukan intrik-intrik untuk melakukan islamisasi atau kristenisasi, dengan alasan demi keselamatan seluruh manusia. Namun, wawasan multikultural dan pluralitas dewasa ini, memberikan kesadaran kepada setiap penganut agama tidak layak menjadikan eksklusifitas keagamaanya “menghakimi” agama lainnya dengan tekanan dan intimidasi, baik fisik maupun psikis. Karena itu, jika proses missionaris ini dilakukan tanpa memegang nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan rasional, sangat mungkin akan terjadi gesekan dan benturan antar penganut agama.

Untuk itu, mengaktualisasikan kembali nilai-nilai pancasila yang universal sebagai sarana pembentukan masyarakat religius yang menghargai kemajemukan tetap harus diiringi dengan penguatan pada keyakinan agama yang dianut oleh masing-masing komunitas, terutama pada dasar-dasar agama yang absolut dan ajaran agama tentang kemanusiaan yang memberikan inspirasi bagi teologi kerukunan. Ini adalah salah satu agenda besar pendidikan agama, untuk menggali doktrin-doktrinnya, yang mengajarkan toleransi, sikap moderat, terbuka, dan siap berdampingan dengan berbagai agama yang ada dengan prinsip tetap saling menghargai antar sistem keyakinan tersebut.  Begitu pula, sila-silayang terdapat di dalam Pancasila, memberikan kepada kita wawasan religiusitas yang berpijak pada basis nilai-nilai kemanusiaan, kenegaraan, dan keummatan (kerakyatan), untuk menciptakan masyarakat yang seimbang dan berkeadilan sosial, mereduksi konflik dengan penguatan persatuan di tengah realitas kemajemukan sistem kultural masyarakat.

Dengan demikian, pancasila sebagai falsafah negara, di bantu dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam cengkeraman Garuda, jelas sangat dibutuhkan untuk menjadi integrating force (kekuatan pemersatu) dalam fakta pluralitas kultural yang ada. Untuk itu dibutuhkan kehendak politik (political will) yang menelurkan kebijakan-kebijakan dan penegakan hukum yang mendukung proses pemasyarakatan wawasan multikultural baik dari sisi pendidikan, keorganisasian, sosial-budaya, bahkan sistem perekonomian. Jika semuanya berjalan dengan baik maka akan tercipta suatu ‘masyarakat agamis’ yang tinggal di ‘kampung pancasilais’. Semoga! Terakhir, Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2014. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL