damaiKonteks jihad sangat identik dengan mati syahid. Mencari kesyahidan dan berusaha mendapatkannya adalah sesuatu yang disyariatkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih dan jelas.

Imam Bukhari telah membuat satu bab yang dia beri judul “Bab Mengharapkan Kesyahidan”. Didalamnya Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya bukan karena beberapa orang diantara kaum muslimin yang tidak senang hatinya jika aku tinggalkan, sedang aku tidak memiliki kendaraan untuk membawa mereka, niscaya aku tidak akan melambatkan sebuah pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Allah, lalu aku hidup dan terbunuh, lalu aku hidup dan terbunuh.”

Ibnu Hajar Al-Asqallani menyimpulkan bahwa mengharapkan kesyahidan dan meniatkannya adalah sesuatu yang dianjurkan dan diperintahkan. Dia mengakatan bahwa dalam permasalahan ini terdapat hadits-hadits sahih lainnya. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Anas dari Nabi Saw. Beliau bersabda: “Barangsiapa mencari kesyahidan dengan ikhlas, maka ia akan diberi kesyahidan, meskipun kesyahidan itu tidak menimpanya.” (HR. Muslim). Artinya, dia akan mendapatkan pahala kesyahidan, meskipun tidak terbunuh.

Menurut perspektif fiqih, jihad adalah fardhu kifayah sebagaimana dikutip dalam kitab Kifayatul Akhyar, berdasarkan firman Allah Swt. Dalam QS. An-Nisa’:95, karena seandainya jihad itu fardhu ‘ain, maka akan terbengkalailah penghidupan dan pertanian, dan runtuhlah negara. Memang benar kadang-kadang terbukti apa yang mewajibkan jihad atas setiap orang.

Jihad itu terjadi karena dua hal. Pertama, menjaga batas-batas negeri dengan mengangkat sejumlah orang untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Jika mereka itu terbukti lemah, wajib pula atas setiap muslim memberikan bantuan dengan orang-orang untuk memperkuatnya memerangi musuh. Kedua, pemerintah harus memasuki negeri kafir dengan berperang sendiri, atau mengirimkan pasukan, dan diperintahkanlah kepada orang-orang Islam yang memenuhi syarat untuk keperluan tersebut. Maka kalau semua enggan melaksanakan tugas ini, mereka semua akan berdosa.

Namun begitu, apakah dosa itu merata pada semua orang, ataukah hanya tertentu kepada orang-orang yang dekat kepada Imam? Ada dua pendapat: yang tertulis dalam kitab Al-Hawi dalam Al-Mawardi dan dikoreksi oleh Al-Qadhi Abut Thayyib bahwa akibat penolakan tersebut dosanya merata pada semua orang. Sedangkan Imam Nawawi membenarkan bahwa penolakan tersebut menyebabkan dosa atas semua orang yang tidak mempunyai uzur.

Adapun orang yang diwajibkan berjihad, dikatakan oleh Syaikh Abu Syuja’ jika memenuhi tujuha syarat, yaitu : Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat, dan kuat berperang. Maka barangsiapa yang sudah terkumpul padanya sifat-sifat ini, ia termasuk orang yang wajib berjihad, dengan kesepakatan ulama.

Namun perlu diketahui, dalam Islam, jihad tidak disyariatkan atas dasar fanatisme agama kontra pengikut agama lain. Pada kenyataannya, Islam adalah agama toleran yang mengakui keberadaan agama lain dan tidak bertujuan membinasakannya. Islam juga tidak memaksakan keyakinannya atas penganut agama lain, seperti ditegaskan Al-Quran: “Tidak ada paksaan dalam beragama. Sungguh kebenaran telah jelas (dibedakan) dari kesesatan.” (QS. Al-Baqarah: 256). Alquran juga menafikan kekuasaan Nabi Saw untuk memaksakan Islam atas orang lain: “Berilah peringatan, Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan bukan penguasa atas mereka. Kecuali orang yang berpaling dan kafir. Maka Allah akan menyiksanya dengan azab berat.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21).

Karena itu, klaim para orientalis bahwa jihad Islam berasaskan pemaksaan agama adalah sebuah dakwaan yang salah dan kebohongan yang nyata. Jihad dalam Islam pun bukan seperti perang yang dikobarkan kaum imperialis yang berhasrat menguasai harta dan kekayaan umat lain. Sebaliknya, jihad disyariatkan untuk memudahkan dakwah agama Allah dan memerangi penyembahan berhala, menyebarkan kebenaran, menegakkan keadilan, dan membasmi kezaliman. Allah berfirman: “Telah diizinkan bagi orang-orang tertindas untuk mengangkat senjata, sesungguhnya Allah mampu untuk menolong mereka.” (QS. Al-Hajj: 39).

Jihad juga disyariatkan untuk membenahi agama dan aspek duniawi umat manusia. Imam Ali berkata, “Allah mewajibkan jihad dan mengagungkannya. Dia menjadikannya sebagai salah satu bentuk pertolongan-Nya serta penolong-Nya. Demi Allah, dunia dan agama tidak akan menjadi baik kecuali dengan jihad.”

Begitulah jihad dalam Islam disyariatkan untuk mencegah kerusakan dan menciptakan kedamaian di antara umat manusia. Islam adalah agama perdamaian yang menyeru para pemeluknya untuk saling mencintai sesama. Allah berfirman, “Apabila mereka cenderung kepada perdamaian, maka berdamailah dengan mereka. Bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. (QS. Al-Anfal: 61). Ketika mengutus Imam Ali ke Yaman, Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah engkau perangi seorang pun sebelum engkau menyerunya kepada Islam. Demi Allah, apabila Allah Azza wa Jalla memberi seseorang petunjuk melalui kedua tanganmu, maka itu lebih baik bagimu dari semua yang disinari matahari dan berada dalam kekuasaanmu, wahai Ali.”

Dalam perang Shiffin, Imam Ali berkata kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian memulai perang sebelum mereka memulainya terlebih dahulu... dan apabila salah seorang diantara mereka berdamai dengan kalian, terimalah tawarannya dan bersabarlah kalian.”

Jelaslah bahwa asas pergaulan muslimin dengan selain mereka adalah kasih sayang dan perdamaian. Sedangkan jihad hanyalah sebuah persoalan sekunder yang dimunculkan untuk mencegah kezaliman dan melancarkan dakwah Islam. Jihad bukan untuk membasmi orang-orang non-muslim, karena dunia ini bukan tempat pembalasan. Karena itu, apabila mereka bersedia untuk hidup damai dan menerima syarat-syarat tertentu, Islam tidak membolehkan peperangan dengan mereka. Jihad bukanlah untuk memaksa seluruh manusia memeluk Islam, karena ini bertentangan dengan sunnah Allah, “Apabila Tuhanmu berkehendak, niscaya semua orang akan beriman. Apakah engkau akan memaksa mereka untuk beriman?” (QS. Yunus: 99). Kita harus menyadari bahwa Allah menghendaki dunia ini memiliki berbagai macam agama, dan hidup dengan damai sentosa. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*