warisanKlasifikasi Waris Beda Agama

Sebelumnya telah diketahui bahwa jumhur sahabat dan tabiin serta para ulama berpendapat bahwa orang muslim tidak mewarisi orang kafir karena adanya hadis shahih yang menegaskan hal tersebut. Namun, Mu’az bin al-Musayyab dan Masyruq dari kalangan tabi’in, dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa muslim itu mewarisi orang kafir. Dalam kaitan ini mereka menyamakan hal itu dengan perempuan orang-orang kafir yang boleh dinikahi, “Kami boleh menikahi wanita mereka, namun kami tidak diperbolehkan mengawinkan mereka dengan wanita kami, maka begitu juga halnya dengan hal warisan. [1]

Menurut fuqaha, Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan warisan kepada ahli waris yang muslim dari al-Misywar al-Ajli yang dibunuh karena murtad. Sebagian fuqaha membatasi kebolehan orang muslim mewarisi peninggalan orang kafir jika si kafir murtad, yakni asalnya beragama Islam kemudian memeluk agama lain. Yang berpendapat membolehkan ialah Abu Yusuf dan Muhammad (dua murid Imam Abu Hanifah).[2] Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa kekayaan yang diperoleh sebelum pewaris murtad adalah untuk ahli warisnya yang muslim, sedangkan kekayaan yang diperoleh setelah pewaris murtad adalah untuk baitul mal.

                Dari ulasan di atas, secara garis besar kewarisan dari orang yang berlainan agama dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Orang kafir mewarisi orang Islam

Jumhur ulama’ sepakat bahwa orang kafir tidak dapat mewarisi orang Islam lantaran lebih rendah derajatnya daripada orang Islam,sebagaimana disyaratkan dalam Alquran, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. an-Nisa : 141)

Ayat ini sebenarnya merupakan ayat yang bersifat umum dan tidak menunjuk langsung pada larangan bagi non muslim untuk menerima harta warisan dari keluarganya yang muslim. Bahkan dalam ayat ini juga sering dijadikan dalil untuk melarang perkawinan beda agama, antara laki-laki non muslim dengan perempuan muslimah. Apabila dipahami secara utuh, ayat tersebut lebih merujuk kepada orang-orang munafik, dalam hal terjadinya peperangan yang senantiasa menunggu peluang yang baik dan hanya menguntungkan bagi diri mereka.[3]

  1. Orang Islam mewarisi orang kafir

Umumnya sahabat, tabi’in dan Imam madzhab empat berpendapat bahwa orang Islam tidak dapat mempusakai orang kafir. Fuqaha Imamiyah berbeda pendapat, menurut beliau larangan mempusakai karena perbedaan agama tidak mencakup larangan bagi orang Islam yang mewarisi kerabatnya yang non muslim.

Senada dengan hal ini adalah pendapat ulama kontemporer, Yusuf Qardhawi yang setuju dengan pendapat mazhab imamaiyah ini, meskipun jumhur ulama tidak menyetujuinya. Beliau menuliskan dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer :

“Adapun orang-orang murtad, warisannya dapat diwarisi orang-orang muslim. Jika ketika ia murtad ada keluarganya yang muslim meninggal, ia tidak mendapatkan warisan. Karena ketika  itu ia berarti tidak membantu si muslim. Sedangkan kalau ia masuk Islam lagi sebelum pembagian warisan, hal ini akan mengakibatkan pertentangan di kalangan orang-orang muslim sendiri.” [4]

  1. Orang kafir mewarisi orang kafir

 Imamiyah, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i beranggapan bahwa agama mereka dianggap sebagai satu agama sehingga mereka dapat saling mewarisi satu sama lain,  baik perbedaan agama dan kepercayaannya, seperti Yahudi dengan Nasrani dan Budha dengan Zoroaster. Akan tetapi Imamiyah mensyaratkan bahwa kebolehan saling mewarisi apabila diantara mereka tidak ada pewaris yang muslim. Sedangkan Imam Ahmad, Imam Malik dan Imam Marzuq (aliran Malikiyah) berpendapat bahwa mereka tidak bisa saling mewarisi, karena di luar agama Islam merupakan agama yang berdiri sendiri.[5]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada peluang sedikit pun bagi orang murtad untuk mewarisi dari harta saudaranya yang muslim. Walau pun begitu, Ibn Hazm menganjurkan bagi ahli waris yang tidak dapat mewarisi dari harta yang ditinggalkan untuk diberikan wasiat kepada mereka. Sebagaimana yang beliau ungkapkan, “Kewajiban bagi seorang muslim untuk berwasiat kepada kerabatnya yang tidak mendapatkan pusaka, baik karena budak, karena kafir atau karena terhijab dari pewarisan, karena sesungguhnya mereka tidak mewarisi, maka hendaklah memberikan wasiat bagi mereka terhadap apa yang layak bagi diri mereka, tidak ada had (hukuman) terhadap hal tersebut.” [6]

Ibnu Hazm menganjurkan memberikan wasiat kepada ahli waris yang terhalang atau tercegah menerima warisan. Mengingat wasiat diberikan tidak mesti kepada orang yang beragama Islam, namun boleh juga diberikan kepada orang non muslim. Imam Syarqawi juga mensahkan wasiat bagi pembunuh, kafir harbi, dan orang murtad.[7] (hd/liputanislam.com)

Catatan :

[1] Ibnu Rusyd al-Qurthuby, Bidayatul Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Jilid III (Jakarta : Pustaka Amani, 1989), h.414.

[2] Yusuf Qardhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Jilid I, Terj. Maman Abd. Djaliel, (Jakarta : Gema Insani Press, 1996), h. 646.

[3] M. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Jil. V (Kairo: Dar al-Manar, 1973), h. 466.

[4] Yusuf Qardhawi, “Fatwa-fatwa Kontemporer”,jil. III, Terj. Maman Abd. Djaliel, (Jakarta : Gema Insani Press, 2002), h. 850-854.

[5] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, cet. VI, (Jakarta : Lentera, 2007),  h.543.

[6] Ibn Hazm, al-Muhallâ, juz IX (Beirut : Dar al-Fikri, tt),   h. 314.

[7] Syarqawi, Hasyiah al-Syarqawi, Juz II, (Beirut : Dar al-Fikri, 1996), h.75-76.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL