HAMKonflik dan kerusuhan antar agama seakan menjadi menu sehari-hari. Kota Yerussalem tidak dapat dilepas sama sekali dari hubungannya dengan tiga agama monoteistik yang paling berpengaruh saat ini. karenanya, setiap hari dikunjungi para peziarah dari seluruh dunia untuk “datang lebih dekat” kepada Tuhannya.

Orang Yahudi dengan khidmat berdoa sambil menyentuh Dinding Ratapan dengan haru, yang diyakini sebagai bekas candi Sulaiman. Orang Kristen tumpah ruah untuk melihat gereja suci Sepulchre yang didalamnya terlihat karang Golgota, tempat Yesus disalib. Sementara ribuan kaum Muslim melafalkan takbir, tahlil dan tahmid lima kali sehari di Masjid Al-Aqsha yang diyakini telah menjadi tempat Nabi Muhammad ketika Mi’raj. Tetapi di luar kegiatan itu, mereka selalu berperang di jalur Gaza dan tepi barat dataran Golan. Dan konflik agama tersebut kemudian berbalut dengan konflik antar suku, ras, golongan yang dipicu oleh perebutan kekuasaan, ekonomi dan ideologi.

Tentunya peristiwa konflik dan kerusuhan antar agama yang bersifat laten menjadi paradoks dengan pesan moral semua agama. Karena semua agama pada awalnya meminta pemeluknya untuk bersifat dan bersikap baik, santun dan bersahabat dengan semua entitas lainnya. Karena itu perlu ada kritik dan reevaluasi terhadap keberagamaan kita. Mungkin ada yang salah dalam kita beragama.

Dengan alasan diatas dan di tengah arus globalisasi, tata ruang keagamaan kembali harus di format ulang. Sebab hari-hari kita tak lagi hanya milik private. Batas-batas regional, kultural bahkan ideologi kian menipis, bahkan cenderung sirna dan musnah. Begitu pula batasan keagamaan. Ia pun mengalami perubahan signifikan. “Agama suku” yang dulunya sangat terpencil, dengan datangnya globalisasi menjadi dapat akses oleh siapa, kapan dan dari mana saja. Wajar bila kemudian, para agamawan resah apabila agamanya (akan) tercampur dan dikotori oleh norma dan nilai serta ajaran agama lain. Karena efek terbesar dari globalisasi adalah bercampurnya segala tanpa pandang bulu. Sebab dengan adanya globablisasi, dialog intra agama akan diwarnai dengan dialog antar agama, budaya, iptek, ideologi, bahkan paham ateisme yang tentu saja saling mempengaruhi.

Karena itu sejak dekade terakhir, mualilah dicari model-model agama dan kepercayaan yang lebih Universal seperti New Age (Guenon, 1987). Sebuah agama yang pada dasarnya menjadi titik tolak dari keseluruhan agama. Sebuah agama yang “aman” memasuki ranah globalisasi. Agama yang tak lapuk dan tak lekang diterpa bermacam godaan. Agama yang melandaskan/mematrialisasi dirinya pada prinsip keseteraan antar theoekoantropocentrism (Tuhan-Alam Manusia). Agama yang tidak mementingkan salah satu di antara tiga komponen alam raya. Semau sejajar dan mutualisma.

Di Yogyakarta misalnya ketika dilangsungkan Konferensi Agama-agama Ibrahim (23 Agustus 2000) dirumuskan sebuah ikrar bersama yang berbunyi:

“Marilah kita sama-sama berprinsip, tidak ada Tuhan seseorang lebih tinggi dari Tuhan orang lain. Tidak ada Nabi seseorang lebih hebat dari Nabi orang lain. Tidak ada Agama seseorang lebih baik dari Agama orang lain. Tidak ada Kitab suci seseorang lebih komplit dari Kitab Suci orang lain. Tidak ada Tempat Suci seseorang lebih suci dari Tempat Suci orang lain. Tidak ada Waktu seseorang lebih spesial dari Waktu orang lain. Dan tidak ada orang lebih tinggi dari orang lain.

Tentunya komitmen itu merupakan sebuah perjanjian radikal antar para pemeluk agama. Sebab bila kita cermati secara seksama, fenomena keagamaan yang kita alami banyak memberikan kesan paradoksal. Setiap agama besar dunia, terutama aspek esoteriknya, menawarkan jalan pengembaraan spiritual yang sangat sejuk, indah, dan janji untuk bisa bersatu dengan Dia. Namun ketika agama menjelma menjadi sebuah institusi, hal ini tidak bisa dihindarkan, masuklah berbagai muatan kepentingan dan keluh-kesah pemeluknya yang merasa kalah serta terancam dalam persaingan horisontal guna memperebutkan hegemoni politik dan ekonomi.

Kesalahan manusia dalam beragama-dengan menuduh agama lainnya salah dan menganggap orang yang tidak beragama kafir- sesungguhnya bertentangan dengan teks Alquran (QS. Al-Baqarah 2: 256 dan QS. Yunus 10: 99). Kedua ayat itu apabila diteliti secara seksama mengindikasikan bahwa Tuhan mempercayai siapapun-dengan akalnya- akan percaya dan beragama. Karena itu, Tuhan pun (seakan) tidak menghendaki semua manusia untuk beriman.

Dengan demikian prinsip kebebasan beragama adalah kehormatan bagi manusia dari Tuhan dikarenakan Tuhan mengakui hak manusia untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Prinsip kebebasan beragama bahkan untuk tidak beragama menjadi sendi bagi kehidupan sosial politik yang selaras dengan HAM. Prinsip itu dijabarkan oleh Thomas Jefferson yang beragama deis dan menolak agama formal menjadi prinsip-prinsip uniterianist-universalist dengan menempatkan adanya wujud Yang Mahatinggi.

Tetapi, di luar segalanya isu konflik antar agama yang dibumbui oleh berbagai isu lainnya, haruslah dilihat berdasarkan kacamata yang arif. Terutama dengan kacamata hak asasi manusia (HAM)-lebih khusus yang berhubungan dengan kebebasan beragama serta berbeda bahkan tidak beragama- layak dipertimbangkan oleh kaum Muslim. Mengingat seluruh manusia dan kemanusiaannya adalah universal. Sebuah gejala sejarah yang unik tetapi konstan. Yang dengannya, kita dapat merujuk dalam rangka belajar dari suatu masa untuk menapak pada masa yang lainnya. Suatu masa yang harus dilewati dengan berbagai kemanusiaan. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Tulisan Islam dan HAM ini disadur dari buku Bahasa Politik Al-Quran karya M.Yudhi Haryono.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL