HAM 2Kesebelas, “hak untuk bekerja.” Alquran menyarankan seseorang untuk beribadah, tetapi dengan tidak melupakan tugas kerja selama di dunia. Tugas itu juga setingkat mulianya dengan beribadah. Bahkan beribadah dan bekerja dalam Islam harus seimbang. Sikap itu dapat dilihat dalam QS. Al-Baqarah: 105 & 286, Al-Mulk: 15.

Keduabelas, “hak memperoleh kesempatan yang sama”. Alquran menjamin setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam setiap hal tanpa pandang bulu. Alquran sangat tidak menyukai setiap soal yang dilewati dengan unsur-unsur non-kwalitatif (KKN). Hal ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 275, Ali Imran: 130, An-Nisa’: 161.

Ketigabelas, “hak memiliki harta pribadi”. Seseorang dijamin haknya untuk memiliki harta, dengan catatan tidak berlebihan dan diamalkan untuk berjuang di jalan Tuhan. Karena itu Islam melarang seseorang hidup dalam kemiskinan, sebab akan mendekatkan diri pada kekufuran. Dengan begitu, harta pribadi seseorang harus cukup. Hal ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 29 dan An-Nisa’: 29.

Keempatbelas, “hak menikmati hasil atau produk ilmu.” Setiap orang mempunyai otak yang dapat dan harus dipergunakan untuk menerima ilmu, memproduksi ilmu dan menyebarkannya. Karena itu setiap orang Islam punya hak yang sama dalam pengolahan dan penikmatan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Hal ini terdapat dalam QS. Al-Ahqaf : 19, Al-Qashas: 77.

Kelimabelas adalah “hak menjadi tahanan dan narapidana”. Siapa saja yang dianggap bersalah berhak mendapat perlindungan sampai adanya pengadilan yang memtutuskan perkaranya. Dan sebelum itu, dia berhak menjadi narapidana atau tahanan yang dijamin keselamatannya dari siapa pun. Hal ini terdapat dalam QS. Al-Mumtahanah: 8, An-Nahl: 125.

Beberapa ayat diatas sesungguhnya bukan satu-satunya yang dapat diapresiasi oleh kaum Muslim dalam menghadapi isu-isu HAM. Karena dalam teks bahasanya, Alquran memang menitikberatkan pada kemanusiaan serta dilengkapi oleh hadits yang juga tak kalah penting kedudukannya dalam Islam. Nurcholish Madjid menyebutnya bahwa etika Alquran sesungguhnya adalah “etika kemanusiaan” sehingga bersifat antroposenstrisme. Karenanya agama Islam pun menurutnya adalah “agama kemanusiaan.” Sehingga menjadi penting bagi umat Islam untuk berjuang meningkatkan kedaulatan rakyat yang menyangkut perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia. Sebab kedaulatan rakyat tidak mungkin tegak tanpa adanya hak-hak asasi (HAM) yang dijamin dalam undang-undang.

Dogma dan bukti bahwa agama Islam adalah agama kemanusiaan dapat dilihat pada adanya pengakuan bahwa manusia adalah bersifat fitrah, dan hanif. Dua sifat yang dalam agama Islam selalu ditekankan untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh kaum muslim. Kepada siapa saja dan kapan saja.

Tetapi, sekali lagi kaum Muslim ketika berhadapan dengan HAM yang lahir dan diasuh di Barat akan menemukan tiga soal yang signifikan.

Pertama, apakah Barat memang dengan sendirinya Universal, sehingga setiap produk sosio kulturnya-dengan sendirinya-dapat berlaku untuk setiap orang, waktu, dan tempat.

Kedua, apakah Barat itu sedemikian uniknya, sehingga apapun yang ada disana tidak dapat ditiru dan kita tidak boleh belajar dari mereka?

Ketiga, ini tentunya berhubungan dengan sikap jantan kaum Muslim, dapatkah kita membangun kembali HAM ala Islam yang memang mempunyai watak dasar kemanusiaan. Ini menjadi penting, sebab sejarah Islam adalah sejarah yang gagal dalam menegakkan hukum yang berdimensi humanitas. Penegakan hukum dalam Islam senasib dengan penegakan egalitarianisme yang sangat menyedihkan, bahkan hilang pada dekade terakhir. Dan dapat disebut ide dan gagasan yang berpindah ke peradaban lainnya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL