HAMmUsaha memperkenalkan budaya Islam yang khas Indonesia kepada masyarakat umum, selain diharapkan mempunyai dampak peningkatan kesadaran kultural Islam, juga diharapkan menumbuhkan pengakuan dan penerimaan umum pada taraf internasional, khususnya taraf dunia Islam sendiri. Yaitu bahwa suatu bentuk budaya Islam seperti di negeri kita ini adalah sepenuhnya absah, dan tidak dapat dipandang sebagai “kurang Islami” dibanding dengan bentuk budaya Islam di tempat-tempat lain.

Adanya akulturasi budaya antara Islam dan masyarakat Indonesia, pada satu sisi didalam masyarakat telah mengakar budaya yang khas Indonesia. Tetapi pada sisi lain, Islam yang datang juga tidak bisa melepas dari pesan kedaerahan Jazirah Arabia sebagai tempat kelahirannya. Sehingga dalam pemahaman masyarakat susah dibedakan mana yang Islam dan mana yang budaya.

Pada tingkat pemahaman masyarakat tersebut, kita harus menjelaskan bahwa agama dan budaya tidak dapat dipisahkan walaupun ada perbedaan. Agama an sich bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat, sementara persoalan budaya-sekalipun yang berdasarkan agama- dapat berubah dari waktu ke waktu atau dari tempat ke tempat. Inilah yang dimaksud bahwa “Islam partikular” sekaligus universal.

Segi keuniversalan Islam banyak ditegaskan dalam Al-Quran bahwa agama itu berlaku untuk seluruh alam raya, termasuk seluruh umat manusia. Tentang Nabi Muhammad, disebutkan dengan jelas, “Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.” (QS. Saba’ 34: 28). Juga sebuah firman suci yang banyak dikutip, “Tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ 21: 107)…

Dalam interaksi antara Islam dan kemanusiaan (HAM) menurut An-Naim (1990) akan dijumpai tiga dimensi yang selalu menyertai kehadiran serta dialognya.

Pertama, ada keterkaitan yang luas antara budaya lokal dan HAM, dalam arti bagaimana orang mempresentasikan standar-standar tersebut. Tetapi problem ini dapat dijelaskan dengan pertanyaan: sejauh manakah universalitas HAM diterima oleh masyarakat Islam, dan sejauh mana masyarakat Islam itu diterima oleh masyarakat Internasional.

Kedua, keterkaitan legal yang ada sebelumnya di wilayah hukum personal bagi kaum Muslim.

Ketiga, ada dampak dari upaya-upaya implementasi syari’ah Islam yang lebih menyeluruh belakangan ini seiring dengan maraknya antusiasme Islam.

Problem dan tantangan Islam dalam menjawab kemanusiaan seakan sebanding dengan keinginan menjawab kekeringan spiritual akibat nilai-nilai modernitas-sekularitas. Tentunya kita harus lebih arif-bijaksana dalam memberikan telaah terhadap problema tersebut dikarenakan ada bias wilayah dalam HAM. Sebab sebagaimana yang kita ketahui, konsepsi HAM yang marak dan meluas di dunia adalah dari wilayah Barat. Di mana (Barat) selama ini menganggap dunia Islam adalah dunia yang tidak ramah, non HAM, barbaristik, danlain-lain. Ada semacam cacat bawaan dengan berkembangnya HAM Internasional, berupa bias wilayah dan bias waktu serta (masih) dioperasionalkan dengan standar ganda.

Walaupun begitu, Islam lewat pembacaannya pada Alquran sendiri, tak kurang dari beberapa ayatnya memungkinkan bagi ikut sertanya kaum Muslim dalam mencari dan menjawab problema kemanusiaan tersebut, tentunya berdasarkan sudut pandang Muslim. Sebab secara tekstual, ayat-ayat Alquran juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang riil.

Alquran memberikan beberapa etika universal berdasarkan kesamaan, kederajatan, keadilan dan persamaan kehidupan dalam seluruh entitas di dunia. Akan kita jumpai pula betapa nilai-nilai itu juga hidup dalam tradisi Muslim selama berpuluh-puluh tahun, bahkan berabad-abad. Yang dengan nilai-nilai itu, selama ini peradaban Islam berkembang dan menegakkan supremasi kemanusiaan diatas hal-hal lainnya.

Maka sungguh menjadi kepentingan kita umat Islam Indonesia untuk mewujud nyatakan ajaran-ajaran universal sehingga akan membawa berkah dan rahmah untuk kita semua. Yang diperlukan, setelah pemahaman yang benar dan tepat pula akan lingkungan budaya, dan bagaimana memenuhi tuntutan-tuntutannya yang pasti tidak terhindarkan. Disamping itu karena Islam adalah agama universal yang sejajar dengan cita-cita kemanusiaan, maka sistem politik, kebijakan, dan rasa kemanusiaan yang diterapkan di Indonesia haruslah tidak menguntungkan umat Islam saja, tetapi juga menguntungkan seluruh lapisan masyarakat, meskipun berbeda agama, suku, dan warna kulit.(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL