HAM

Dalam sejarahnya, Islam dan kemanusiaan merupakan dua hal yang sering dikontraskan oleh para sarjana Barat. Bahkan Islam sendiri sering disebut sebagai agama anti-kemanusiaan, karena menempatkan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai satu-satunya yang patut disembah dan diagungkan oleh manusia yang lemah dan hina. Kekuasaan dan Kemuliaan Tuhan mengatasi seluruh dimensi kehidupan manusia sehingga nyaris tak ada ruang bagi manusia untuk menghargai sesamanya, bahkan juga dirinya sendiri.

Namun sesungguhnya apa yang dikatakan oleh para sarjana Barat itu kurang tepat, karena Islam adalah agama fitrah yang cita-citanya sejajar dengan cita-cita kemanusiaan. Jika kita ambil tiga hal yang paling menonjol dalam peradaban Barat, yaitu kemanusiaan, ilmu-pengetahuan dan teknologi, maka dasar-dasarnya harus dicari dalam Daerah Berperadaban (Ad-Da’irat Al-Ma’murah; Oikoumene), yaitu kawasan daratan bumi yang terbentang dari Lautan Atlantik di barat sampai Lautan Teduh di timur, dengan inti daratan yang terbentang dari sungai Nil di barat sampai sungai Amudarya (Oksus) di timur. Dan daerah itu adalah daerah yang peradabannya memuncak dalam peradaban Islam.

Dari segi paham kemanusiaan, pengaruh peradaban Islam dapat dilihat pada pikiran-pikiran kefilsafatan dari Giovanni Pico della Mirandola, salah seorang pemikir humanis terkemuka zaman Renaissance Eropa, ketika ia menyampaikan orasi ilmiahnya tentang harkat dan martabat manusia di depan para pemimpin gereja, ia berkata :

“Saya telah membaca, para Bapak yang suci, bahwa Abdullah seorang Arab Muslim, ketika ditanya tentang apa kiranya diatas panggung dunia ini, seperti telah terjadi, yang dapat dipandang paling menakjubkan, ia menjawab: ‘Tidak ada yang dapat dipandang lebih menakjubkan daripada manusia’.”1

Sejalan dengan pendapat ini adalah perkataan Hermes Trismegistus: “Sebuah mukjizat yang hebat, wahai Asclepius, ialah manusia.” Yang darinya kita mengetahui rahasia-rahasianya dari kitab suci, termasuk kitab suci Alquran itu sendiri. Dengan kata lain, Alquran membantu kita untuk mengetahui diri kita. Dengan pangkal tolak itu Giovanni membeberkan paham kemanusiaannya. Meskipun Giovanni kemudian dimusuhi Gereja dan karena tidak tahan kemudian bertobat, namun pandangan itu merupakan salah satu fondasi paham kemanusiaan dan keadilan di Barat, yaitu Humanisme modern.

Sebagai agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, maka Islam bukan hanya mengandung ajaran kemanusiaan, tetapi juga mewajibkan proses aplikasi bagi tumbuhnya aspek kemanusiaan yang universal dengan melihat dan mengapresiasi tradisi-tradisi lokal yang beragam. Jika Islam kita tangkap sebagai ajaran universal, maka hal itu tidak saja menghasilkan pandangan bahwa ia berlaku untuk semua tempat dan waktu.

Universalisme Islam juga menghasilkan pandangan dari arah lain, yaitu bahwa kebenaran Islam dapat didekati melalui angle berbagai pola budaya. Logikanya ialah, jika Islam itu universal, dan jika keuniversalannya menghasilkan diutusnya rasul-rasul untuk setiap bangsa dan masa, maka berarti bahwa kebenaran juga dapat ditemukan pada setiap bangsa dan masa, kapan saja dan dimana saja, sebagai warisan para Utusan Tuhan yang pernah datang ke bangsa yang bersangkutan.

Tetapi harus segera kita sadari bahwa meskipun kebenaran itu universal, namun acap kali tampil dalam penampakan lahiri yang berbeda-beda dari masa ke masa dan dari tempat ke tempat. Ini dapat diterangkan dari berbagai segi, salah satunya ialah persoalan “bahasa” dalam pengertian yang seluas-luasnya, termasuk bahasa kultural. Dan relevan dengan ini ialah penegasan dalam kitab Suci bahwa para Rasul Allah itu diutus dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing (QS. Ibrahim 14: 4). Jadi lagi-lagi penting sekali supaya kita jangan terjebak dalam formalitas rumus kebahasaan dan ekspresi kultural tentang kebenaran itu. Apalagi disebutkan dalam Kitab Suci bahwa perbedaan bahasa antara manusia, sama halnya dengan perbedaan warna kulitnya, adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah. (QS. Rum 30:22).

Oleh karena itu kebenaran Islam yang universal itu selalu memiliki kemampuan untuk beradaptasi kepada lingkungan budaya dimana ia tumbuh dan berkembang, secara otentik (setia kepada asasnya sendiri) dan kreatif (termasuk juga kritis). Dalam kajian tentang Peradaban Islam, seperti dilakukan oleh Ibn Khaldun, diinsafi sedalam-dalamnya peranan lingkungan, baik geografis, klimatologis, dan lain-lainnya yang bersifat alamiah dan fisik, maupun yang lebih penting lagi, sosio-kultural. Dalam konteks ini, nilai-nilai Unversal Islam berlaku compatible dan tumbuh dalam budaya Indonesia. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.

Positive SSL