Sparated by decades of hostility, Israelis and Palestinas both claim that Jerussalem belongs to them. The question could diipen the rift and make peace and coexitence immpossible.

HAMTidak ada peristiwa yang lebih tragis bagi dunia Barat dan Islam ketimbang permusuhan yang sekarang berlangsung dalam keluarga agama-agama Ibrahim, walau sesungguhnya anak-anak keluarga itu—Yudaisme, Kristen, dan Islam—memiliki dalil-dalil dasar monoteisme Ibrahim yang sama dan prinsip-prinsip etis yang bersumber darinya.

Salah satu isu terpenting yang kemudian menjadi perennial problem bagi umat Muslim adalah tentang Ahl-Kitab. Isu ini selalu diawali dengan sebuah pertanyaan tentang bagaimanakah sikap Alquran terhadap Ahl-Kitab, kemudian bagaimanakah cara terbaik dalam melakukan dan memperlakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena persoalan agama selalu berkait dengan tiga dogma (doktrin) yang terkesan ambivalen. Ketiganya yaitu doktrin tentang janji keselamatan, agama paling sempurna dan umat terbaik.

Masing-masing agama mengatakan pada kaumnya bahwa agama yang mereka peluk adalah agama yang menyelamatkan, agama yang paling sempurna (menyempurnakan agama sebelumnya-paralel) atau agama terakhir dan juga menawarkan bahwa mereka adalah umat pilihan, umat terbaik (the choosen people). Dari ketiga doktrin ini, hubungan antar agama, terutama Abrahamic Religions kemudian seakan mendapat amunisi untuk berkonflik satu sama lainnya. Apalagi di tengah ranah global yang kemudian melahirkan banyak agama lainnya. Karena ternyata ada agama yang lebih tua, atau baru lahir. Kesemuanya membutuhkan pengakuan dan eksistensi yang terkadang menimbulkan problema didalam hubungan antar agama.

Kata Ahl-Kitab disebut sebanyak 31 kali dalam Alquran, dan terdapat dalam sembilan surat. Delapan surat masuk kategori Madaniyah dan satu surat Makiyah. Dalam surat Al-Ankabut 29: 46, Allah meminta kita untuk berinteraksi, berkawan, dan bermasyarakat secara baik dengan para ahl-Kitab yaitu yang beragama Yahudi dan Nasrani. Dalam konteks ini ahl-Kitab masih setara dengan kaum Muslim.

Tetapi ketika memasuki wilayah surat-surat Madaniyah, wajah dan teks Alquran mulai mengklasifikasi ahl-Kitab secara lebih detail. Misalnya, orang Yahudi-Nasrani dianggap telah menyelewengkan agama sebelumnya (QS. Al-Maidah 5: 15, Ali Imran 3: 70-71, 75, 110). Mereka juga menuduh umat Islam yang telah menyimpang (QS. Al-Maidah 5: 59). Mereka juga sering disebut sebagai umat yang banyak bertanya QS. Al-Baqarah 2: 40-141, mereka juga selalu tidak senang (ridha) terhadap umat Islam (QS. Al-Baqarah 2: 120).

Sebaliknya sedikit sekali ayat Alquran yang memotret kebaikan dari kaum ahl-Kitab. Misalnya, mereka ada yang tekun dan konsisten pada agamanya (QS. Ali Imran 3: 113). Ada yang mau mengikuti Muhammad saw. (QS. Ali Imran 3: 110). Ada yang dapat dipercaya (QS. Ali Imran 3: 75), lain-lain. Dengan demikian beberapa surat yang bercerita tentang ahl-Kitab dapat disimpulkan menjadi enam yaitu:

  1. Ahl-Kitab dapat merujuk pada agama Yahudi,
  2. Merujuk pada agama Nasrani,
  3. Merujuk pada agama Yahudi dan Nasrani,
  4. Merujuk pada agama lain, semisal kaum Sabiin, Majusi, dan agama lainnya di luar Islam,
  5. Berisi peringatan kepada mereka,
  6. Berisi kecaman,
  7. Berisi pujian kepada mereka.

Begitu beragamnya keterangan Alquran tentang ahl-Kitab melahirkan beragam pula komentar dan tafsir atasnya. Mulai dari siapa saja yang dapat dikatakan ahl-Kitab sampai bagaimana hubungan antara kita dengan mereka, bahkan bagaimana nasib mereka di kemudian hari. Persoalan ini menjadi perdebatan yang panjang dan melelahkan. Masing-masing pihak mempunyai pendapat dengan argumentasinya pula.

Namun secara umum sikap terhadap ahl-Kitab dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang mengkafirkan (kufur dan musyrik, QS. Al-Bayyinah 98: 1) seluruh ahl-Kitab dalam segala konteks dan kompleksitasnya. Kedua, mereka yang masih melihat sisi-sisi positif dari ahl-Kitab sehingga dalam hal-hal tertentu kita boleh berhubungan dengannya. Ketiga, mereka yang melihat ahl-Kitab sama dan sebanding dengan kita kaum Muslim dalam segala hal.

Dengan demikian posisi ahl-Kitab dalam Alquran berada dalam keterjepitan antara kafir dan musyrik. Dan karena kedudukan itu kaum muslim di hadapkan pada posisi yang dilematis. Satu sisi kaum ahl-Kitab dianggap sebagai orang yang suka melanggar janji, melanggar hukum Tuhan, tidak mau bersyukur atas nikmat Tuhan, bersikap materialis dan spiritualis yang berlebihan serta fanatik pada kesukuan (tribal), tetapi di sisi lain kita disuruh untuk berbaik sangka, bersahabat bahkan dibolehkan berinteraksi sosial dengan mereka. Akibatnya dalam penafsiran Alquran dilema yang muncul adalah berkenaan dengan bagaimana hukumnya pernikahan dengan mereka, bagaimana serta bagaimana makanan dan sembelihan mereka.

Begitu sulit, unik dan ambigunya keterangan Alquran maka, di negara asal agama tersebut yaitu Palestina dengan ibukota Yerussalem hubungan ketiga agama belum sampai pada keadaan yang harmonis. Ketiga agama tersebut belum sampai pada keadaan yang harmonis. Ketiga agama tersebut sebenarnya berakar pada tradisi Nabi Ibrahim yang sama, tetapi dalam perkembangan sejarahnya agama-agama itu tidak damai dan mesra, bahkan bertempur. Dan masing-masing pihak mengklaim sebagai agama yang paling benar. Sedangkan agama selainnya salah dan harus dimusuhi (menjadi ladang dakwah). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL