Oleh : Farish A. Noor*

faris“Realisme dan fleksibilitas adalah hal yang terpenting di antara ciri-ciri utama metodologi Islam” (Rachid Ghannouchi)

Memperhatikan keadaan dunia secara keseluruhan dalam konteks pasca 11 september, saya merasakan kebutuhan yang sangat besar bagi kaum Muslim untuk mempelajari kembali norma-norma dan aturan-aturan tentang dialog dan komunikasi.

Meskipun penderitaan yang benar-benar menyakitkan dan brutal telah ditimpakan kepada kita, kaum Muslim belum mampu mengkomunikasikan kepedihan dan kegundahan yang dialaminya kepada dunia luar (bahkan mungkin kepada tetangga kita). Alasannya sederhana yakni kita berpikir bahwa mereka sebagai dunia luar. Pemilahan antara dalam (inside) dan luar (outside), kelompok kita (in-group) dan kelompok mereka (out-group) telah sedemikian kuat dipaksakan oleh pandangan dialektis yang telah kita timpakan kepada diri kita bahwa secara efektif kita telah mengucilkan diri kita sendiri dari umat manusia lainnya.

Ketika seorang ibu Palestina menangis di tengah-tengah puing-puing rumahnya, mencari jasad anak-anaknya yang terkubur di bawahnya, kepedihannya, bagi sebagian orang, terlihat seperti sesuatu yang agak ‘eksotik’ dan ‘tak-dapat-mengerti’.

Ketika seorang anak Bosnia memegang dadanya dan berjanji untuk membalaskan dendam kematian saudara-saudara kandungnya yang telah dibunuh oleh beberapa tentara bayaran yang kejam, tuntutannya akan keadilan malah terlihat sebagai tuntutan yang tak logis akan pertumpahan darah.

Bagaimana pun juga kepiluan kaum Muslim dipresentasikan sebagai kurang dari kemanusiaan, atau melampaui batas-batas yang bisa dimengerti. Kurang dari, lebih dari, atau selain dari kemanusiaan kaum Muslim sering dilihat sebagai makhluk yang secara radikal berbeda. Kebanyakan dari munculnya pandangan seperti ini adalah karena ke-introvert-an kita, dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana curiga dan frustrasi.

Berkaitan dengan upaya secara sengaja untuk memfalsifikasi dan merekonstruksi citra Islam dan Muslim di media global mainstream, tidak begitu banyak yang bisa kita lakukan. Meskipun protes telah dilancarkan terhadap penggambaran Islam yang reduktif, agaknya dunia masih menerima suatu arus fiksi tentang Islam dan Muslim yang instrumental yang terus membingkai kita sebagai makhluk yang secara radikal ‘lain’.

Akan tetapi kita mampu (dan saya akan menyanggah, mesti) mengambil langkah pertama dengan mengabaikan pedekatan dialektik seperti itu terhadap diri kita untuk melepaskan diri kita dari jalan buntu yang sia-sia ini. Dunia Islam berhak (dan memiliki tugas) mengkomunikasikan kemarahan, kesakitan, kefrustrasian, dan ketakutannya kepada dunia di luar dunia Islam. Akan tetapi, hal tersebut harus dilakukan dengan kecerdasan.

Pertama-tama, yang harus diupayakan adalah suatu otokritik terhadap diri kita sendiri berkaitan dengan gagasan tentang identitas dan perbedaan. Hal ini dikarenakan dunia Islam untuk waktu yang lama telah terjerat dalam jalan buntu dialektika yang dibuatnya sendiri. Kini, waktunya telah tiba bagi kita untuk menggunakan perangkat ilmu-ilmu sosial kontemporer dan teori kritis untuk memeriksa beberapa gagasan utama tentang identitas dan kepemilikan yang telah membentuk dan mewarnai politik Muslim selama sekian lama.

Dunia Islam perlu mengenali, menerima, dan bahkan merayakan pluralitas serta perbedaan-perbedaan internal di dalam dirinya. Mitos tentang dunia Islam yang statis dan homogen, tidak berdaya selamanya, harus diekspose untuk apa maknanya : suatu strategi diskursif dan sedikit lain.

Untuk terlibat dalam setiap dialog yang bermakna dengan dunia lainnya, dunia Islam pertama harus memulai dengan membuka jalan untuk melakukan dialog ke dalam diri sendiri. Ini hanya dapat terjadi jika kita belajar menerima perbedaan-perbedaan internal dalam diri masyarakat kita, dan kehadiran suara yang tak enak didengar yang ada di antara kita. Selama berabad-abad kenyataan yang heterogen di dunia Islam telah ditindas dengan sadar dan taktis oleh kelompok konservatif yang takut membiarkan suara-suara yang tak beraturan berselisih paham dan heterodoxy. Hingga hari ini ketakutan akan resiko dan ketidakmenentuan berada pada tingkatan patologis. Pluralisme di dalam Islam tidak disetujui, ditindas, ditolak dan bahkan didesak dengan alasan bahwa hal tersebut akan mengikis kesatuan dari masyarakat itu sendiri.

Akan tetapi kita akan membuktikan bahwa pluralisme merupakan sebuah fakta kehidupan dan ciri yang bisa ditemui dalam semua peradaban, kultur dan sistem kepercayaan, dan tentunya tidak untuk Islam. Untuk mengontrol energi dan suara internal ini bukan dengan menghapus atau meniadakan kehadiran mereka. Karena dengan cara tersebut mereka hanya akan bermutasi dan menyembunyikan diri mereka menjadi suara-suara sub-altern yang beragam, catatan tersembunyi yang berjumlah sangat banyak yang menambah ketidakstabilan masyarakat itu sendiri. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL