OLeh : Farish A. Noor*

farisArgumentasi  saya dalam tulisan ini adalah bahwa alasan Islam dan kaum Muslim belum cukup berperan adalah karena pemahaman mereka yang eksklusif dan sempit tentang identitas dan perbedaan (difference) yang ada pada beberapa kelompok dan gerakan Islam.

Karenanya, kita memerlukan sebuah pendekatan yang berbeda terhadap keseluruhan persoalan identitas Islam dan hubungannya dengan ‘yang lain’, yaitu pendekatan yang mengenali perbedaan internal dan pluralisme di dalam umat Islam sendiri, pendekatan yang mempersoalkan identitasnya sendiri sambil menjawab keberbagaian dan perbedaan dari yang lain, dan pendekatan yang mengidentifikasi ancaman bersama yang menyatukan kita dengan yang lain.

Sebagian mungkin mempersoalkan atau bahkan keberatan terhadap pendekatan seperti itu. Alasannya adalah pendekatan tersebut sediki banyak akan ‘mengancam’ kesatuan umat, atau bahwa pendekatan itu membuat kesatuan itu rawan kritik dari luar. Keberatan ini tak berdasar, sebab, kita telah mencoba mempersoalkan dengan tepat dikotomi yang salah ini yang telah menciptakan batas-batas yang perlu diperiksa pertama kali.

Ketakutan terhadap perpecahan umat mensyaratkan kesatuan dan stabilitas umat terlebih dahulu. Hal ini adalah fiksi diskursif terbaik yang berfungsi melayani tujuan-tujuan utilitarian secara politis di masa lalu, tetapi menjadi beban bagi umat di masa kini—saat kita hidup di dunia yang multi-kultural dan plural. Apa yang diperlukan, singkatnya, adalah suatu pandangan Islam bila hudud, suatu Islam yang tanpa batas-batas dan benar-benar universal…

Apa yang kita serukan sebagai Islam bila hudud—Islam tanpa batas-batas—yang menempatkan dirinya dalam realitas kekinian yang tanpa batas (borderless), plural, multikultural, kompleks, tak adil dan tak sederajat saat ini. Kita menyerukan penolakan terhadap mentalitas dan kerangka berpikir yang sempit dan eksklusif serta mentalitas terkepung yang telah membelenggu kita dari kanal-kanal komunikasi dan kerjasama yang sangat kita perlukan.

Kita menyerukan penolakan terhadap pendekatan dialektik terhadap yang lain yang hanya bisa membingkai yang-lain dalam terminologi yang negatif sebagai musuh (atau musuh potensial) yang harus disambut dengan kecurigaan dan ketakutan. Kita juga menyerukan introspeksi dan otokritik yang akan membantu menginsyafkan kita dari sebagian mitos yang kita buat sendiri (seperti mitos tentang sebuah umat ‘sejati’, ‘asli’ dan ‘tidak terkontaminasi’ yang muncul ex nihilo).

Kita perlu menjalin chain of equivalences yang menyamakan perhatian-perhatian universal dengan perhatian-perhatian kaum Muslim dan persoalan-persoalan universal dengan persoalan-persoalan kaum Muslim. Jantung kaum Muslim tak ada darahnya bila hanya melihat tangisan kaum Muslim saja.

Jika kita tidak digerakkan oleh keadaan dan penderitaan orang lain, jika kita tidak digerakkan oleh keadaan dan penderitaan orang lain, jika kita tidak mampu merasakan kesakitan dan kebingungan orag lain, jika kita tidak bisa menuntut hak dan perlakuan yang sama bagi diri kita. Dan, kita tidak bisa mengklaim bahwa pendekatan kita adalah pendekatan yang universal terhadap Islam. Pesan universal Islam tidak dapat dan tidak akan menjadi suatu kenyataan, kecuali ia diperbolehkan berkelana melampaui wilayah dar al-Islam. Keadilan tidak berhenti pada batas persimpangan, dan keadilan tetap buta warna, buta gender, dan menutup mata terhadap pembedaan kelas.

Universalisme, yang berada di dalam jantung Islam dan pesan Islam, perlu diaktifkan kembali dan dijadikan ungkapan keimanan dalam kehidupan kaum Muslim masa kini. Perhatian kita terhadap keadilan, kesetaraan, hak dan kebebasan perlu diartikulasikan dalam konteks sebuah dunia yang tak terbatas di mana khalayak kita bukan hanya diri kita sendiri, tetapi dunia secara keseluruhan—baik di masa kini maupun mendatang.

Kita harus mengambil, mempertahankan dan mempromosikan bentuk universalisme ini sebagai bagian dari identitas kita, sebagai Muslim juga. Pastilah ada waktu ketika menjadi seorang Muslim bukan berarti hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga hidup untuk sebanyak mungkin “yang lain”. (hd/liputanislam.com)

*Dr. Farish A. Noor adalah seorang ilmuwan politik dan aktivis HAM malaysia, Peneliti dan Dosen di Center for Modern Orient Studies, Berlin, Jerman. Tulisan ini diambil dari karyanya Islam Progressif : Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, Samha : Yogyakarta, 2006.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL