ilmuwan-muslimDalam memajukan umat Islam, kita tidak cukup hanya membangun lembaga pendidikan. Tetapi yang terpenting adalah ‘soft ware’ pendidikannya yaitu kerangka keilmuan yang diajarkan di sebuah lembaga pendidikan. Karena itu, diperlukan komitmen dan respon yang bertanggung jawab untuk merumuskan kerangka keilmuan yang berwawasan Islam sebagai upaya integrasi keilmuan dan keagamaan yang selama ini mengalami dikotomi yang membahayakan. Untuk itu, integrasi keilmuan dan keagamaan tersebut harus menyentuh wilayah pribadi, masyarakat, lembaga, dan seluruh aspek lainnya yang menjadikan pendidikan Islam beroperasi dengan penuh dinamika dan progresifitas.

Dalam hal ini, sudah semestinya, kerangka keilmuan Islam kembali dirumuskan secara sistematis berdasarkan pada landasan filosofis dan kemudian bergerak merumuskan landasan metodologisnya. Landasan filosofis bergerak dalam tiga bagian yakni ontologis, epistemologis, dan axiologis. Sedangkan metodologis bergerak dalam tiga tahap. Pertama, mengkonstruksi bangunan ilmu berdasarkan konsep iptek yang valid. Kedua, menghimpun-menyusun-menelaah ayat al-Quran dan hadits yang relevan. Ketiga, memunculkan teori atau konsep dasar tentang berbagai hal keilmuan dalam Islam.

Dengan memperhatikan beberapa hal-hal di atas, jelaslah bahwa kita membutuhkan proses islamisasi sains yang lebih intensif. Namun untuk tidak terjebak dalam kontra yang berkepanjangan seputar peristilahan “mengislamkan ilmu”, sebaiknya menggunakan ungkapan ‘Iptek yang berwawasan Islam’. Meskipun dengan istilah ini, masih ada kesan bahwa ilmu tidak netral dan mengotomisasikan ilmu agama dan ilmu non agama menjadi dua domain yang saling mandiri. Namun istilah tersebut, lebih menunjukkan pada alasan bahwa,      jika ilmu itu bebas nilai, maka ilmu akan bergerak ke arah yang tidak bisa terkendali, dan dampaknya akan dapat menghancurkan manusia dan membuat dehumanisasi. Sebab, landasan filsafat Barat tentunya melihat ilmu itu tidak terkait dengan nilai. Sedangkan ilmu menurut pandangan Islam tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitannya dengan nilai. Oleh karena itulah, dalam landasan axiologi, Iptek itu mesti berwawasan nilai-nilai, dan Nilai-nilai itu tentu berwawasan Islam

Peranan pendidikan Islam dalam kehidupan pengembangan beragama yang merespon berbagai problema manusia dan upaya penciptaan masyarakat madani. Pendidikan Islam juga befungsi untuk meningkatkan kualitas hidup baik material maupun spiritual manusia. Agar terciptanya hal tersebut, pemberdayaan lembaga pendidikan Islam, baik pesantren, madrasah, ataupun perguruan tinggi harus dimaksimalkan ditambah dengan peran serta organisasi dan pusat-pusat kajian Islam.

Selain itu diperlukan juga usaha merekonstruksi makna ulama. Kita secara umum, biasanya menganggap ulama sebagai orang yang ahli dalam ilmu-ilmu keislaman, yang berkutat dengan al-Quran dan sunnah, yang memberikan fatwa-fatwa keagamaan. Akan tetapi, pada dasarnya ulama tidak hanya sebatas pengertian tersebut, karena secara generic kata ulama adalah bentuk jamak dari ‘alim sebagai sighah mubalaghah yang berarti orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sesuatu. Dengan mensitir al-Quran dan sunnah serta perkembangan penggunaan kata ulama dalam sejarah Islam, Prof. Haidar Daulay pernah menyampaikan dan menarik kesimpulan bahwa makna ulama disesuaikan dengan perkembangan zaman. Saat sekarang ini, menurut beliau, kita harus mendudukkan peristilahan ulama sesuai dengan profesi yang sebenarnya, yakni tidak hanya untuk orang yang mendalami ilmu-ilmu agama saja, tetapi juga bagi yang mendalami ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial, ilmu alam, dan humaniora dapat digolongkan kepada ulama asalkan memiliki landasan iman, islam dan ihsan serta khashyah (takut) kepada Allah swt. Singkatnya, ilmuan atau saintis dapat juga disebut ulama, karenanya sudah sepatutnya kita memberikan perhatian lebih kepada usaha para ilmuan bukan hanya usaha para agamawan. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL