muhammadKetahuilah bahwa semua orang yang mencaci Nabi Muhammad Saw atau menyalahkannya atau menyatakan ketidaksempurnaan sifat-sifatnya, dalam hal pribadi, garis nasabnya, agamanya, sifat-sifatnya yang lain, atau menyatakan secara tidak langsung terhadap hal-hal tersebut atau serupa dengan hal-hal tersebut, apakah berupa makian, hinaan atau peremehan atau merendahkannya atau menegaskan kesalahan pada dirinya atau menfitnahnya, maka hukum atas orang tersebut sepadan dengan hukum orang yang mencacinya. Yakni orang tersebut harus dihukum bunuh. Hukum dan hukuman tersebut juga menjangkau segala perbuatan serupa dengan cacian dan penghinaan. Kami tidak mempunyai keraguan untuk menegaskan pandangan ini, baik berupa pernyataan secara jelas atau secara sindiran.

Hukum dan hukuman tersebut berlaku pada setiap orang yang mencacinya, orang yang menuduhnya, orang yang bermaksud menyakitinya, menisbahkan sesuatu yang tidak pantas bagi kedudukan beliau atau membuat lelucon mengenai keluhuran tugasnya melalui perkataan yang tidak senonoh, sindiran, kata-kata yang dibenci atau melalui kebohongan, atau mencercanya lantaran penderitaan atau lantaran cobaan yang dialaminya atau dengan meremehkannya, disebabkan karena segala peristiwa yang lazim terjadi pada manusia mungkin terjadi pada dirinya. Semua ini merupakan konsensus para ulama dan imam-imam fatwa semenjak sahabat hingga sekarang ini.

Abu Bakar ibn al-Mundzir berkata bahwa sebagian besar ahlul ilmi sependapat siapapun yang mencaci Nabi wajib dihukum bunuh. Mereka antara lain Malik ibn Anas, al-Layts, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahawaih, dan pandangan ini merupakan mazhab Syafii. Qadhi Abul Fadl berkata bahwa pandangan tersebut didasarkan pada pernyataan Abu Bakar as-Siddiq. Taubat orang tersebut tidak diterima. Pandangan serupa juga disampaikan Abu Hanifah dan pengikutnya, al-Tsawri dan warga Kufah dan al-Awzai mengenai orang-orang Muslim yang melakukan perbuatan tersebut, dan mereka mengatakan bahwa orang tersebut telah murtad (keluar dari Islam).

At-Thabari meriwayatkan keterangan serupa dari Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya perihal orang yang meremehkan Nabi, yakni menyatakan diri terlepas dari Nabi atau menuduhnya seorang pendusta.

Mengenai orang yang mencaci Nabi, Sahnun berkata, “Itu perbuatan Murtad yang sama persis dengan yang diperbuat kaum zindiq”. Terdapat perselisihan pandangan apakah orang tersebut harus diperintahkan bertobat (sebagai seorang Muslim) atau sebagai seorang kafir. Apakah dia harus dibunuh dengan hukuman hadd (sebagai seorang muslim) atau sebagai orang kafir? Namun, kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama dan salaf sehubungan kebolehan menumpahkan darah (membunuh) mereka.

Sebagian menyatakan, ijma ulama menyebutkan bahwa orang tersebut harus dibunuh dan dipandang sebagai orang kafir. Namun seorang tokoh Zahiriyah, Abu Muhammad ibn Ahmad al-Farisi, menyatakan bahwa terjadi perselisihan pandangan mengenai apakah seseorang yang meremehkan Nabi dapat dipandang sebagai seorang kafir. Muhammad ibn Sahnun berkata bahwa ulama telah sepakat bahwa siapapun yang mencerca Nabi dan meremehkannya adalah seorang kafir dan dia terancam dikenai hukuman Allah, yakni hukuman bunuh.

Abu Sulaiman al-Khattabi berkata, “Saya tidak mengetahui orang Muslim yang tidak sependapat tentang keharusan hukuman bunuh atas orang yang demikian bila dia seorang Muslim. Ibnu al-Qasim meriwayatkan dari Malik sebagaimana terdapat di dalam kitab Ibn Sahnun, yakni al-Mabsuth dan Utibiyya, dan Ibn Mutharrif meriwayatkan keterangan yang sama dari Malik sebagaimana terdapat di dalam karya Ibn Habib, “Setiap orang Muslim yang mencaci Nabi Muhammad dihukum bunuh tanpa harus diperintahkan bertobat”.

Ibn al-Qasim berkata di dalam Utibiyyah, “Barangsiapa mencaci Nabi, mencercanya, menyakitinya atau meremehkannya dikenai hukuman bunuh. Masyarakat sependapat bahwa orang seperti itu harus dikenai hukuman bunuh persis sebagaimana hukuman bunuh atas para dualis. Allah menetapkan hukuman tersebut untuk menghormati Nabi dan jaga kepatuhan terhadapnya.

Dalam al-Mabsuth dari Utsman ibn Kinana kami mendapatkan ungkapan, “Setiap orang Muslim yang mencerca Nabi dikenai hukuman bunuh atau hukuman salib tanpa diperintahkan untuk bertobat. Seorang Imam dapat memilih antara hukuman salib atau hukum bunuh atas orang tersebut”. Menurut keterangan yang berbeda dari Abul Mus’ab dan Ibn Abi Uways, mereka mendengar bahwa Malik berkata, “Barangsiapa mencerca Rasulullah Saw, mencacinya, mencar-cari kesalahannya atau meremehkannya harus dijatuhi hukuman bunuh, baik dia seorang Muslim atau orang kafir, tanpa harus diminta bertobat lebih dahulu.

Asbagh berkata, “Bagaimanapun juga orang tersebut harus dikenai hukuman bunuh, apakah dia menyembunyikannya atau mengumumkannya, tanpa diminta untuk bertobat karena tobatnya tidak diakui.” Abdullah ibn Abdul Hakam adalah orang yang menyampaikan pendapat tersebut dan bahwa Thabari menyampaikan keterangan serupa dari Malik.

Salah seorang ulama mengatakan telah terjadi kesepakatan bahwa barangsiapa mencerca salah seorang Nabi dengan menggunakan ungkapan seperti “celaka dia” atau apapun yang serupa dengan itu, maka orang tersebut dikenai hukuman bunuh tanpa diminta bertobat.

*Sumber : Kitab As-Syifa karya Qadhi Iyadh.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*