Oleh Haidar Bagir

Haidar-BagirBerbisnis Bersama Filsafat

Bagaimana jika filsafat dipakai untuk menjalankan bisnis fotocopy? Tentu tidak sejauh itu. Tapi, filsafat dapat ditarik ke dalam bisnis. Sekarang ini, misalnya, orang makin sadar bahwa imajinasi lebih menentukan ketimbang ilmu pengetahuan. Sebenarnya ini omongan lama. Einstein pernah mengatakan, “imajinasi itu lebih penting daripada ilmu pengetahuan.” Kalau dalam dunia bisnis, kita kenal Walt Disney yang banyak berbicara tentang mimpi, sehingga terkenal dengan kata-katanya, “if you can dream it, you can do it” (jika kamu dapat memimpikannya, maka kamu dapat melakukannya). Di dalam Al-Quran, kata “mimpi” dengan vision (visi) itu sama, yaitu ru’yah. Dalam bahasa Arab, ra’a – yara berarti “melihat”. Sekarang, saya lebih cenderung melihat banyak ayat Al-Quran yang sering ditafsirkan sebagai mimpi itu maksudnya sebagai visi. Visi itu rill. Dalam bisnis, visi yang didasarkan pada imajinasi maknanya lebih penting ketimbang keterampilan-keterampilan yang lain. Nah, filsafat itu mengajak kita untuk mengasah imajinasi. Karena itu, filsafat juga bermanfaat buat bisnis.

Kalau kita baca buku tentang bisnis yang mutakhir – misalnya buku Stephen Covey, buku The Corporate Mystic, dan sebagainya – maka pasti isinya adalah mementingkan visi. Sekarang ini bisnis yang paling berkembang pesat adalah yang mempunyai visi. Alasannya sederhana: bahwa lingkungan bisnis makin lama makin cepat berubah. Jadi suatu keputusan bisnis itu umurnya pendek. Jika lingkungan sudah berubah, maka keputusan bisnis itu seringkali tidak lagi relevan. Hal ini membutuhkan keputusan bisnis yang lain. Begitu seterusnya. Oleh karena itu, bisnis yang sukses itu juga dipimpin oleh orang-orang yang bisa melihat jauh ke depan, sehingga dia tidak terpontal-pontal. Tidak reaktif dengan perkembangan zaman, tapi proaktif. Dia selalu tahu perubahan. Dia sudah siap dengan keputusan-keputusan mutakhir. Nah, filsafat itu membantu kita untuk mengasah visi.

Filsafat dan Perubahan Sosial

Filsafat juga bisa menjadi dasar untuk membentuk worldview (pandangan dunia). Pandangan dunia ini bisa diturunkan menjadi ideologi; ideologi menjadi gerakan. Jadi, filsafat itu bisa menjadi dasar bagi perubahan sosial, juga menentukan arah perubahan sosial tersebut. Misalnya, worldview Marxian akan mendorong orang untuk melancarkan gerakan yang menuju ke arah tertentu. Tapi, worldview yang spiritualistik akan mendorong orang ke arah yang lain. Kalau worldview marxistik arahnya adalah bagaimana mencapai masyarakat tanpa kelas untuk mencapai tujuan kemakmuran materialistik bagi banyak orang; namun, worldview spiritualistik diarahkan kepada kesejahteraan spiritual. Misalnya, revolusi Iran yang disimbolkan dengan penghayatan Imam Khomeini sebagai dasar gerakan. Dapat disimpulkan, jika worldview-nya marxistik, maka ideologinya marxistik, dan gerakannya pun marxistik. Tapi, jika worldview-nya spiritualistik (relijius), maka ideologinya relijius, dan gerakannya pun menjadi relijius. Jadi, filsafat itu melandasi sesuatu yang akan dicapai oleh gerakan.

Filsafat dalam Kedokteran

Lalu apakah filsafat bisa membuat orang lapar menjadi kenyang? Ya tentu tidak bisa. Apakah filsafat bisa membuat orang yang sakit menjadi sehat? Mungkin ada gunanya. Kalau kita baca textbook kedokteran modern, ternyata sudah memasukkan apa yang disebut holistic knowledge, yaitu memasukkan unsur-unsur jiwa yang bersifat mental untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebagai contoh, saya pernah menulis sebuah pengantar dalam buku “Bebas Stres dalam 5 Menit”, bahwa menurut pandangan Cartesian, seperti kata Gilbert Ryle, antara tubuh dan jiwa ini sebetulnya tidak ada hubungannya. Sehingga kata Gilbert Ryle, jiwa itu seperti ghost in the machine (hantu dalam mesin). Yang satu makhluk halus, yang satunya mesin. Tapi, sekarang pandangan tersebut telah berubah. Orang kembali kepada kedokteran tradisional, bahwa hubungan hal-hal yang bersifat ruhani (mental) terhadap kesehatan fisik sangat kuat. Menurut Ibn Sina, seorang dokter bisa dikatakan jago, ketika dia bisa menyembuhkan pasiennya tanpa diberi obat dan tanpa disentuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan forma kesembuhan di dalam tubuh pasien. Mungkin sekarang istilahnya sugesti. Hal ini menunjukkan bahwa filsafat ada hubungannya dengan soal-soal praktis.

Untuk lebih yakin lagi, coba ambil papan yang lebarnya 0,5 meter dan panjangnya 5 meter. Papan tersebut kuat dan tidak akan patah diinjak orang. Kemudian taruhlah papan tersebut di atas lantai, dan kita jalan di atas papan tersebut. Kemungkinan besar kita akan berjalan dengan mudah. Berikutnya papan yang sama ditaruh di atas jurang. Apakah kita akan dapat berjalan seperti ketika papan tersebut berada di atas lantai? Kemungkinan kita akan jatuh. Padahal papannya sama, tidak ada perbedaan. Menurut Ibn Sina, ketika papan di atas lantai, tidak ada forma (sugesti) akan jatuh. Tapi, ketika papan tersebut berada di atas jurang, muncul forma – di dalam diri kita – bahwa kita akan jatuh. Nah, jika seorang dokter bisa memberikan forma kesembuhan kepada pasiennya, pasti akan sembuh.

Sekarang dalam kedokteran modern hal ini sudah dipakai kembali. Banyak sekali contoh-contoh kesuksesan penyembuhan penyakit dengan cara-cara seperti ini. Ada pasien, yaitu seorang anak yang terserang kanker. Penyembuhannya, setiap lima menit perhari, disuruh membayangkan bahwa ada UFO dari planet lain dengan teknologi yang luar biasa dahsyat. UFO ini mempunyai senjata seperti laser, yang datang dan menembaki kanker. Setiap hari si pasien disuruh membayangkan seperti itu. Ternyata hasilnya anak tersebut sembuh.

Kesimpulan

Jadi, pada level yang berbeda, bahwa filsafat itu memang bisa memberikan pengaruh. Mulai dari induk segala ilmu; memberikan worldview, ideologi dan gerakan; kemudian bisa menjadi terapi bagi persoalan spiritual dan sebagainya. Kemudian, sebagian besar dari problem psikologis manusia itu muncul dari apa yang disebut dengan kegelisahan yang disebabkan oleh status. Misalnya, orang akan malu kalau anaknya tidak bisa masuk ITB, malu naik motor yang jelek, dan sebagainya. Nah, filsafat eksistensialisme – seperti diajarkan Sartre atau filosof lainnya – bermanfaat mendorong kita untuk introspeksi diri. Tapi, di sisi lain, di antara salah satu manfaat ajaran filsafat eksistensialisme adalah bagaimana kita hidup secara otentik, yaitu sesuai dengan bagaimana orang itu hidup, jangan ditentukan oleh orang lain.

Dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan induk dari segala ilmu, bisa menjadi dasar pengembangan worldview; bisa menjawab persoalan-persoalan kehidupan (dari mana kita datang, untuk apa hidup, dan apa tujuannya); bisa juga menjawab persoalan-persoalan praktis (ekonomi, sosial, politik). Bahkan, keterampilan berfilsafat bisa mengasah kita sehingga bisa bermanfaat untuk bisnis. Jangan lupa, filsafat itu mengajak kita untuk berpikir secara rasional. Kita dapat memecahkan berbagai masalah apapun kalau kita melihat sesuatu dengan mengatasinya melalui cara-cara yang rasional juga.

Sebenarnya filsafat mengajak kita untuk melihat persoalan sebagai suatu kompleksitas. Ketika orang terjerembab ke dalam ekstrimisme, pasti sumbernya adalah kesempitan pikiran dan ketidakmampuan melihat masalah sebagai sebuah kompleksitas. Teroris, misalnya, kenapa mereka harus berbuat seperti itu, karena teroris memahami agama secara literal. Dunianya seperti katak dalam tempurung.

Tapi, yang pasti, filsafat tidak dapat membuat orang bahagia dalam keadaan perutnya lapar, anaknya tidak bisa sekolah, dan sebagainya. Mungkin bisa diberikan landasannya, tapi tidak boleh memberikan peran yang berlebihan. (hd/liputanislam)

*Sumber http://haidarbagir.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL