filsafatPada dasarnya tradisi filsafat memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam itu sendiri, namun tidaklah dinafikan bahwa nalar filsafat lainnya (baca: Yunani) memberikan kontribusi besar pada bangunan filsafat Islam. Karena itulah penamaan filsafat Islam merujuk pada makna kerangka perkembangan filsafat di dalam sejarah Islam. Artinya, hal ini bukan saja alasan geografis atau tokoh tetapi juga alasan substansial bahwa filsafat memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam itu sendiri.

Merujuk pada sejarah umum perkembangan filsafat, maka Yunani yang pada abad-abad sebelum masehi memiliki peradaban yang berlebih dari wilayah-wilayah lainnya. Ia telah memiliki tradisi keilmuan yang matang, yang lebih dikenal dengan philoshopia (artinya : cinta kearifan), yang menjadi akar kata filsafat dalam tradisi Islam.

Masuknya filsafat Yunani ke dalam tradisi Islam diawali oleh penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin ke wilayah-wilayah yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan besar Yunani. Wilayah-wilayah tersebut telah memiliki peradaban dengan warisan keilmuan Yunani yang maju, sehingga pada saat ekspansi kaum muslimin bersinggungan dengan tradisi keilmuan tersebut. Persinggungan ini menjadikan tantangan baru bagi kaum muslimin untuk menunjukkan citra agamanya yang positif dan menghargai secara mulia ilmu pengetahuan. Bahkan, tidak jarang doktrin-doktrin Islam yang sakral mendapatkan gugatan serius melalui nalar filsafat Yunani yang ada saat itu.

Karenanya, untuk kepentingan praktis dan pembelaan suci ini, umat Islam melakukan revolusi tradisi arab menuju tradisi Islam. Sebab, secara historis, Jazirah Arab dengan penduduk aslinya dapat dikatakan nyaris tidak memiliki warisan peradaban yang bisa dibanggakan. Namun, setelah Islam datang dengan risalah yang di bawa Nabi Muhammad saww (salallahu ‘alaihi wa alihi wasallam) telah menjadi inspirasi besar yang dapat bersaing bahkan mengungguli peradaban-peradaban yang pernah muncul sebelumnya dalam pentas dunia.[2] Berkembang dan majunya filsafat dalam pangkuan Islam melalui beberapa cara, yaitu :

  1. Mengumpulkan dan menerjemahkan berbagai literatur
  2. Mengomentari karya-karya filosof sebelumnya
  3. Menulis buku-buku filsafat secara independen dengan perenungan yang mendalam.

Dengan ketiga usaha ini, filsafat Islam membentuk jati dirinya sedemikian rupa dengan ciri khas yang independen.

Namun, sebagian orang menganggap bahwa filsafat Islam merupakan duplikat filsafat Yunani dan hanya menjadi jembatan transfer bagi dunia modern. Ini adalah kesalahan fatal dikarenakan kurang mengkaji dan memahami tradisi filsafat itu sendiri. Bagi para peneliti sejarah filsafat ataupun pengkaji filsafat, akan dengan mudah mengetahui mana yang sekedar duplikat, mana yang dikritik, dan mana yang merupakan teori baru. Filosof Iran kontemporer, Murtadha Muthhari pernah mengkritik tajam anggapan tersebut dan memberikan analisis yang mendalam untuk membuktikan eksistensi filsafat Islam di tengah filsafat lainnya. Untuk itu, Muthahhari melakukan analisis tematik terhadap kajian filsafat Yunani dan filsafat Islam, sehingga kita bisa membedakannya dengan baik. Analisis Murtadha Muthahhari pantas diperhatikan sebagai tanggapan serius terhadap anggapan tersebut.

Bagi Muthahhari, filsafat Islam secara tematik dapat dikategorikan pada empat, yaitu :

  1. Tema-tema yang tetap mempertahankan bentuk dan karakter aslinya. Contohnya, tema-tema logika (mantiq), tentang sepuluh kategori, empat sebab, klassifikasi ilmu, dan pembagian serta jumlah fakultas jiwa.
  2. Tema-tema yang dikembangkan lebih jauh oleh para filosof Islam. Proses pengembangan ini dilakukan dengan memberikan pondasi yang lebih kukuh dan mendalam. Hal ini dilakukan misalnya dengan memberikan komentar atau tambahan argumentasi. Contohnya: tentang kemustahilan ihwal kemunduran tak terbatas, nonmaterialitas jiwa, bukti bagi eksistensi Wujud Mutlak, kesatuan Wujud Mutlak, mustahilnya muncul yang banyak dari yang satu (la yasduru minhu illa wahid), kesatuan subjek dan objek ilmu (ittihad al-aqil wa al-ma’qul), dan hakikat substansial bentuk-bentuk spesipik (al-Shuwar al-nau’iyyah).
  3. Tema-tema yang tinggal namanya saja tetapi isinya berbeda. Contohnya: ide-ide platonic (mutsul aflathuni).
  4. Tema-tema utama yang hanya ada dalam filsafat Islam.Contohnya: kehakikian eksistensi (ashalah al-wujud), kesatuan eksistensi (wahdat al-wujud), eksistensi mental (al-wujud al-dzihni), hukum-hukum non eksistensi, kemustahilan kembali dari apa yang sudah tidak ada, problem ‘menjadikan’ (ja’l), kriteria kebutuhan sesuatu akan sebab, konsepsi-konsepsi yang berbeda (I’tibarat) ihwal kuiditas, konsep sekunder (al-ma’qulat al-tsanawiyah) dalam filsafat, berbagai jenis baharu dan kekal (huduts dan qadim), gerak substansial (al-harakah al-jauhariyah), immaterialitas jiwa binatang, immaterialitas barzakhi jiwa manusia di samping immaterialitas intelektualnya (tajarrud al-aqli), prinsip realitas sederhana, kebangkitan jasmani di alam barzakh, waktu sebagai dimensi keempat, dan sifat sederhananya ilmu Ilahi meski karakternya terperinci.

Analisis tematik Muthahhari di atas dengan jelas menggambarkan segi-segi filsafat Yunani yang asli, yang diubah, dan yang dikritik. Dan yang terutama, tradisi filsafat Islam yang asli yang menjadi bagian penting tradisi keilmuan di dunia ini. (hd/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL