berdebatPara ulama menjelaskan perbedaan antara perdebatan yang buruk dan dilarang dengan perdebatan yang baik dan dianjurkan. Perdebatan yang buruk, menurut mereka, di antaranya adalah perdebatan yang mengandung hal berikut :

  1. Berdebat dengan sikap sombong terhadap kebenaran, yakni tidak berniat karena Allah dan tidak berniat untuk mencari kebenaran, melainkan hanya untuk mencari popularitas, menampilkan kepandaian, serta menjatuhkan kehormatan salah satu pihak yang terlibat dalam perdebatan. Allah berfirman, “Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang kafir. Karena itu janganlah kamu terkecoh dengan berbagai aktivitas mereka di berbagai negeri.” (Q.S. Ghafir : 4)
  2. Berdebat untuk menolak atau meruntuhkan kebenaran dan membela kebatilan. Allah berfirmaan, “Dan mereka berdebat dengan kebatilan yang dengannya mereka meruntuhkan kebenaran” (Q.S. al-Mukmin: 5)
  3. Berdebat tanpa ilmu pengetahuan sehingga hanya akan terjerumus pada dusta dan fitnah. Alquran mengatakan, “Beginilah kamu, semestinya kamu berdebat dalam apa yang kamu ketahui, maka mengapa kamu berbantahan tentang apa yang kamu tidak berilmu padanya?” (Q.S. Ali Imran : 66). Ibnu Abdil Barr berkata bahwa para ulama menyatakan tidak sah berdebat dalam rangka menampakkan kebenaran di antara dua orang yang berdebat, melainkan jika keduanya hampir sama kedudukan dalam ilmu, agama, tingkat pemahaman, akal dan keadilan. Kalau tidak demikian, yang terjadi hanyalah saling meragukan dan saling berbohong.
  4. Berdebat tentang hal-hal yang sudah sangat jelas, gamblang, dan terang (badihi), sehingga tidak ada gunanya jika diperdebatkan. Allah berfirman, “Mereka mendebat kamu dalam perkara kebenaran setelah jelas kebenaran itu” (Q.S. Al-Anfal : 6)

Adapun perdebatan yang baik dan sesuai dengan anjuran Allah swt jika perdebatan itu memenuhi hal-hal berikut ini :

  1. Berdebat harus diniatkan ikhlas untuk mendapatkan keridhaan Allah swt dan mencari kebenaran. Apabila telah jelas, sebaiknya ikut dan terimalah kebenaran itu. Alquran menyebutkan, “Orang yang mendengarkan berbagai pembicaraan, dan mengikuti yang paling baik di antaranya”. Ibnu Abdil Barr berkata, “Perdebatan harus dilakukan karena menginginkan keridhaan Allah, dan harus menerima dari perbedaan itu, apa yang jelas kebenarannya.”
  2. Asas yang mendasari perdebatan itu adalah hujjah (argumentasi, teori, dan dalil). Allah berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya hanya bagi Allah hujjah yang dapat membantah segala keraguan.” (Q.S. al-An’am : 149)
  3. Berdebat dilakukan dengan adab sopan santun, lemah lembut, dan tidak mencaci maki. Alquran mengatakan, “Dan berdebatlah kamu dengan mereka dengan cara yang baik” (Q.S. an-Nahl: 125); “Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Q.S. Thaha: 44)
  4. Berdebat dilakukan kedua belah pihak yang hampir sama derajat keilmuannya, keadilan, ketakwaan, menggunakan hujjah yang kuat untuk menentang kebatilan, sehingga perdebatan itu berjalan dengan baik dasar, tujuan, metode dan etikanya, dan akan terjadi pemisahan antara hak dan batil. Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim as, “Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat (dengan ilmu dan hujjah)” (Q.S. Al-An’am: 83)
  5. Ada keyakinan bahwa berdebat tidak akan merusak pemahaman yang benar dari orang yang berdebat. Dan diyakini pula bahwa berdebat itu mendatangkan maslahat yang besar bagi kaum muslimin dan menolak mafsadah (kerusakan) yang dikhawatirkan akan menimpa kaum muslimin. Berdebat itu juga dilakukan dengan harapan agar orang yang diajak berdebat mendapatkan petunjuk dari Allah dan dia sangat membutuhkan keterangan tentang ilmu agama agar ia terbuka untuk meluruskan pemahaman dan amalnya. Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim as, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabb-nya karena Allah telah memberikan kepada orang itu keuasaan. Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Rabb-ku ialah yang menghidupkan dan mematikan’. Orang itu pun berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, oleh karena itu terbitkanlah ia dari arah Barat’. Maka terputuslah (hujjah) orang kafir itu dengan kebingungan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Baqarah : 258)

Dengan patokan-patokan di atas, maka ketika kita melakukan perdebatan atas suatu persoalan, maka janganlah bicara dengan sembarangan dan asal-asalan, melainkan dengan susunan pemikiran yang jelas dan berdasarkan fakta yang akurat, diungkapkan melalui kata-kata yang tepat, kalimat yang selaras, alur pikir yang sistematis dan logis, serta didasarkan pada argumentasi dan alasan pendukung yang kuat. Dengan begitu setiap kata dan kalimat serta konsep dan argumentasi yang dibuat seseorang, memiliki landasan konseptual logis yang kuat, sehingga kekuatan dari setiap uji argumentasi yang diajukan kepadanya. Pada level yang lebih praktis, perdebatanituakan berfungsi sebagai arena pengujian kemampuan yang mencerminkan iklim demokratis, kreativitas, etis dalam berpikir dan menimbang prestasi seseorang, dengan berbagai konsekuensinya, diukur oleh kemampuannya, bukan oleh yang lainnya. Melalui perdebatan, kemampuan seseorang atau tingkat keilmuan seseorang akan terlihat, serta dapat dibandingkan. Seseorang akan diakui memiliki kualitas jika ia mampu melakukan perdebatan secara baik pada bidangnya sehingga ia layak menduduki jabatan tertentu.

Untuk itu, dalam berdebat dan membantah ucapan orang lain bisa dilakukan dengan tiga cara berikut ini :

  1. Bantahan atas kalimatnya, dengan cara menampakkan kesalahan tata bahasa atau penempatannya.
  2. Bantahan atas maknanya, misalnya dengan mengatakan, “Tidak benar apa yang kau katakan. Kau keliru karena sebab ini dan itu.”
  3. Bantahan atas maksudnya, seperti ucapan, “Benar yang kau katakan, tetapi ucapanmu itu karena kecenderungan tertentu, nukan karena kebenaran.”

Demikianlah, dalam kehidupan ini, manusia tidak selalu sepaham dan sependapat tentang berbagai persoalan, seperti persoalan negara, ekonomi, sosial budaya, politik, hukum, bahkan agama. Karena itu mucnullah berbagai perdebatan menyangkut beragam hal tersebut. Agar terbangun perdebatan yang memicu perkembangan ilmu bukan memicu terjadinya konflik, maka perdebatan harus dijadikan usaha atau teknik adu pendapat yang dibangun di atas hujjah dan susunan pikiran yang premis-premisnya disusun secara baik yang diterima secara umum kebenarannya agar dapat mengalahkan lawan bicara untuk menrima kebenaran yang ada, bukan dilakukan secara ngotot dan berkeras kepala dalam mempertahankan pendapat sendiri. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL