chapraSudah lebih satu dasa warsa Indonesia memasuki era reformasi, tetapi angin segar reformasi ternyata tak sesuai dengan harapan masyarakat. KKN merebak, birokrasi memburuk, konflik agama meningkat, kekerasan seksual bertambah, dan sederetan persoalan bangsa masih menunggu untuk diselesaikan. Mengapa bisa begitu? Kita berharap reformasi memberikan perubahan bagi kehidupan individu dan masyarakat yang lebih baik, tapi kenyataannya kita sedang menuju jurang kehancuran. Apa yang salah sebenarnya?

Untuk menjawabnya cukup menarik mengupas pemikiran Dr. Umer Chapra tentang perlunya reformasi dalam segala bidang, tetapi dari semua aspek tersebut, menurut Chapra, reformasi harus di mulai dari reformasi moral manusia, bukan politik atau ekonomi. Beliau menegaskan :

“Seruan untuk reformasi menyeluruh di negara-negara muslim untuk membalik siklus daur sebab-akibat, yang terjadi karena berakhirnya praktik akuntabilitas politik dan intensifikasi undang-undang otoriter, secara otomatis memunculkan pertanyaan tentang dari mana harus memulai. Maka titik mulai yang terbaik adalah titik di mana Rasulullah saw pernah memulainya, yakni reformasi manusia, karena manusia berperan sebagai lokomotif dari maju mundurnya peradaban.”

Reformasi manusia bagi Chapra diarahkan pada reformasi moralnya, dikarenakan cara itulah yang menjadikan manusia bisa berubah lebih baik dan menjadi sumber rahmat tidak saja bagi masyarakat mereka sendiri, namun juga bagi manusia seluruhnya, sejalan dengan misi Rasulullah saw yang termaktub dalam Alquran, “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al-Anbiya : 107).  Untuk maksud tersebut maka perlu dilakukan perubahan radikal terhadap karakter, kebiasaan, motivasi, dan mentalitas mereka dengan memberikan perhatian yang lebih terhadap pembinaan dan pendidikan moral. Singkatnya, reformasi moral adalah titik awal untuk bangsa yang maju dan berperadaban. Sebab manusia yang baik akan mengelola bangsa dan negara dengan baik pula. Sistem yang baik tanpa manusia yang baik akan sia-sia saja.

Sembari mengkritik kemajuan Barat, Chapra menyayangkan bahwa dunia Barat yang sekuler, memandang reformasi moral adalah hal yang tidak diperlukan, dan anehnya negara-negara muslim menjadikan Barat sebagai kiblat kemajuan. Padahal, dikarenakan tidak adanya perhatian yang serius pada moral manusia, mengakibatkan kemajuan dunia Barat dalam bidang sains dan teknologi, menghasilkan kehancuran pada mental manusia yang dapat dilihat dari merebaknya pola hidup konsumerisme dan hedonisme, yang mementingkan kesenangan sesaat. Sains dan teknologi  yang mereka kembangkan tidak dibarengi dengan perkembangan moral  yang memperhatikan dimensi kemanusiaan dan keagamaan, sehingga manusia terasing dari dirinya sendiri dan jiwa mereka tergannggu. Hal ini juga diindikasikan oleh para pemikir Barat yang tercerahkan. Misalnya, Krober mengatakan, “Saya tidak melihat seorang akan mencapai sebuah ketinggian sains, filsafat, atau seni, baru kemudian agama.” Schweitzer menekankan bahwa jika fondasi moral lemah, maka peradaban akan terpuruk, meskipun arus intelektual dan kreativitas berjalan kuat di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, kontrol moral atas perilaku manusia jauh lebih penting dibanding kontrol atas lingkungannya.

Begitu pula, Arnold Toynbee berpendapat bahwa kebutuhan non-alamiah manusia yang telah diberikan sains, hampir-hampir menjadi tidak penting bagi manusia dibandingkan dengan keterikatannya terhadap dirinya sendiri, kepada sesama manusia, dan terhadap Tuhan. Nigel Lawson, seorang konselor dan bendahara Inggris tahun 1983-1989, menekankan bahwa, tidak ada satupun kekuatan ekonomi dan politik yang sanggup bertahan tanpa adanya landasan moral. Friedman, seorang profesor dari Harvard, juga berargumen dalam buku terbarunya bahwa perkembangan moral bergandeng tangan dengan perkembangan ekonomi, masing-masing saling mendukung. Bahkan bukti empiris menunjukkan dampak positif dari keberagamaan atas bentuk-bentuk hasil yang lain. Ini merupakan sebuah bukti nyata dari pandangan keagamaan yang telah dipersembahkan oleh Ibnu Khaldun dan para sarjana Barat. Namun demikian, gerakan pencerahan Barat hanya menghasilkan kesuksesan yang fana, dan olehnya, sambutan akan hadirnya pandangan keagamaan kian hari semakin mendapatkan momentum.

Jadi, fakta dan pendapat di atas menunjukkan bahwa hanya dengan moral keagamaanlah kita mampu memperkuat kualitas karakter yang dibutuhkan bagi keberlangsungan pembangunan dan realisasi  visi keadilan Islam, persaudaraan, dan kesejahteraan umat seluruhnya. Kesejahteraan tidak mungkin bisa terwujud apabila masing-masing individu hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki niat untuk berkorban bagi kesejahteraan umat manusia. Begitu pula, moral keagamaan mengajarkan manusia tentang tanggungjawab, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Artinya, moral keagamaan menanamkan perspektif jangka panjang terhadap kepentingan pribadi (self interest) manusia agar tidak berhenti hanya pada kepentingan duniawi yang semua, tetapi ada kepentingan dan kehidupan yang lebih abadi dan hakiki yakni kehidupan di akhirat.

Demikian pula, moral keagamaan mengajarkan bahwa tanggungjawab sosial, lebih besar maslahat dan manfaatnya dari tanggungjawab pribadi. Dengan visi ini, manusia akan siap mengorbankan kepentingan duniawinya demi kepentingan akhirat, kepentingan pribadinya demi kepentingan masyarakat luas. Oleh karena itu, upaya peningkatan moral dan kesadaran seseorang menjadi suatu keharusan. Dalam kaitan ini, Alquran dengan jelas menyatakan peran pentingnya iman, reformasi moral, dan keadilan terhadap maju dan mundurnya masyarakat. Sejarah juga dipenuhi dengan deretan kisah di mana sebuah masyarakat mencapai puncak kejayaannya dari hasil reformasi moral. Kemajuan intelektual dan ekonomi mengikutinya kemudian. Reformasi moral ini bagi Chapra adalah reformasi yang pernah dilakukan oleh para nabi, seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan juga tentunya Nabi Muhammad saw.

Namun, Chapra mengingatkan bahwa kualitas moral seseorang akan sulit ditingkatkan tanpa disertai dengan penegakan keadilan seperti diakatakan oleh Al-Mawardi (w. 450 H/1058 M) bahwa tidak ada yang sanggup merusak dunia dan moral manusia lebih cepat daripada ketidakadilan. Sayangnya, keadilan yang menjadi karakteristik khusus ajaran Islam berangsur musnah dari negara-negara muslim. (hd/liputanislam.com)

*Diolah dari karya Dr. M. Umer Chapra, Peradaban Muslim : Penyebab Keruntuhan dan Perlunya Reformasi, Amzah : Jakarta, 2010.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL