Oleh Nur el-Fikri

al-houthiSyiah adalah salah satu mazhab Islam, yang setia mengikuti dan berpegang teguh pada Ahlul Bait Nabi sesuai perintah nabi saw, “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat, yaitu Kitab Allah dan Itrati, Ahlul Baitku”.(HR Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi, dan lainnya).

Tahun 2005, di Amman, Yordania, berkumpullah ratusan ulama dari seluruh penjuru dunia, utusan negara-negara dan juga lembaga Islam internasional seperti Yordania, Mesir, Afghanistan, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Irak, Iran, Kanada, Perancis, Jerman, dan lainnya termasuk Indonesia. Mereka berkumpul untuk membangun persatuan Islam ditengah gelombang takfirisme yang menebarkan konflik sektarian, kebencian dan saling pengkafiran.

Setelah tiga hari berdiskusi, mengenalkan setiap pandangan yang jauh dari manipulasi, maka dibuatlah “Risalah Amman” yang diberkati, diantara isinya menyebutkan :

Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), dua mazhab syiah (Ja’fari dan Zaidiyah), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut mazhab-mazhab tersebut”

Perhatikan, Risalah Amman menyebutkan Syiah Ja’fari dan Syiah Zaidiyah, tidak ada “syiah” Houthi. Dalam sejarah Islam dan perbandingan mazhab, juga tidak pernah dikenal adanya “Syiah” Houthi, yang ada adalah Syiah Ali. Lalu mengapa, dalam konflik Yaman, timbullah istilah baru “Syiah” Houthi? Dari mana timbulnya nama itu? Kemungkinan terbesar penamaan ini dibuat oleh media, dan penamaan ini memiliki dua label sekaligus yaitu “Syiah” dan Houthi”.

Menurut leksikalnya, syiah artinya pengikut atau penolong, sedangkan Houthi adalah satu nama kabilah di Yaman, dengan begitu syiah Houthi berarti pengikut atau penolong Houthi. Namun, pelabelan ini tidak sesederhana itu, sebab kata syiah dalam label “Syiah Houthi” oleh media ditujukan untuk mazhab yang dianut oleh keluarga Houthi, yaitu mazhab syiah zaidiyah dan syiah itsna asyariyah. Sehingga “Syiah Houthi” bukan lagi bermakna pendukung Houthi, tetapi orang-orang syiah (Zaidiyah atau itsna asyariyah) yang melakukan “pemberontakan” menggulingkan rezim penguasa di Yaman.

Tentu pelabelan model ini tidaklah fair, sebab,jika penamaan “Syiah” Houthi itu dikarenakan kepenganutan suku al-Houthi terhadap mazhab syiah, maka mengapa tidak ada media yang menyebut “Sunni ISIS” kepada para kelompok pemberontak Suriah dan Irak, yang mana mereka adalah penganut mazhab sunni? Media tetap mempertahankan nama ISIS sebagai nama kelompok pemberontak di Suriah dan Irak ini, tanpa embel-embel mazhab

Kelompok Houthi sendiri menyebut diri mereka sebagai Ansharullah (penolong Allah) dan Syabab al-Mukmin (pemuda beriman) yang didirikan oleh Husein Badruddin al-Houthi di Yaman. Lantas mengapa media tidak menggunakan nama Ansarullah saja tanpa menggantinya dengan embel-embel “Syiah” Houthi?

Hal ini karena, seperti dikatakan oleh Joanna Thornborrow bahwa, di tempat-tempat di mana terjadi konflik sosial, sering kali juga terjadi konflik linguistik, yaitu perselisihan tentang istilah yang digunakan oleh kelompok yang satu untuk menyebut diri mereka sendiri dan menyebut lawan mereka, artinya kategori sosial atau label-label identitas seringkali dilontarkan kepada kelompok tertentu oleh kelompok lain, yang mana penggunaan label itu untuk membuat penilaian/penghakiman sosial terhadap kelompok yang dilabeli. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa labeling dapat dengan signifikan untuk menunjukkan afiliasi seseorang pada kelompok tertentu, yang sekaligus berarti bahwa orang itu tidak menjadi anggota dari kelompok lain.

Kalau kita gunakan perspektif di atas, maka penggunaan “Syiah” Houthi memiliki agenda tertentu untuk melabeli kelompok di Yaman yang menentang rezim penguasa sebagai kelompok syiah, dan karena itu tentu akan mendatangkan solidaritas masyarakat syiah dunia di satu sisi, tetapi, di sisi lain, menimbulkan permusuhan dari yang non-syiah (sunni). Ini berarti sentimen syiah-sunni dihidupkan oleh media-media untuk memilah umat Islam dalam konflik Yaman, dan karena mazhab syiah adalah mazhab resmi Iran, maka langsung maupun tidak, istilah ini mengarah pula pada timbulnya kecurigaan terhadap Iran, dan Iran tentu dengan mudah mendapat tudingan sebagai negara yang mendalangi kerusuhan di Yaman.

Misalnya situs www.islamedia, membuat tulisan berikut ini,

“Syi’ah Houtsy di yaman adalah mega proyek Iran, jika yaman sudah dalam genggaman maka perjalanan selanjutnya ke haramain mekkah-madinah (saudi) lebih mudah karena yaman berbatasan langsung secara teritorial dengan saudi. Kenapa yaman menjadi master plan Iran yang dikerjakan melalui tangan houtsiyyin?!

Rudal-rudal jelajah iran belum memiliki kapasitas yang menjangkau Saudi jika diletakkan langsung dari Iran, Pesawat-pesawat tempur Iran (sejak diembargo) tidak memiliki daya jangkau yang cukup untuk menembak target di saudi jika dilepaskan dari  pangkalan udara militer di Iran.

Ketika Yaman berhasil dikuasai, Yaman akan dijadikan jembatan dan benteng pertahanan Iran menembus Saudi, Pangkalan Udara akan dibangun dan Rudal-rudal akan diboyong ke Yaman. (lihat http://www.islamedia.com/2015/04/mengapa-syiah-houtsi-diperangi-ini.html)

Tudingan seperti ini bukanlah hal baru, sebab dalam konflik Suriah, sentimen kemazhaban juga dilontarkan oleh beberapa media, dengan menyebut Basyar Asad sebagai penganut syiah yang membunuhi sunni, padahal Basyar adalah sunni, dan kelompok pemberontak (ISIS) juga sunni, tapi lagi-lagi karena ada Iran yang memberikan bantuan, maka digambarkan seolah-olah ini konflik sektarian Sunni-Syiah. Namun seiring dengan pandainya masyarakat dan perhatian para ulama pengusung persatuan, isu-isu sektarian tersebut perlahan mulai redup. Sebagai misal, Pemimpin tertinggi Iran, Sayid Ali khamenei mengatakan “Kebangkitan Islam tidak mengenal Sunni dan Syiah serta pengikut mazhab lainnya.”

Menilik masalah ini, maka istilah “Syiah” Houthi boleh jadi digunakan sebagai sarana menuding Iran, lantas mengapa Iran yang jadi sasaran?

Dengan gampang kita bisa menjawab, yaitu ada agenda hegemoni di dalamnya, di mana, Iran yang syiah dengan maju pesatnya potensi dan aktualisasi negara dan masyarakatnya, tentu menjadi momok bagi Amerika, Israel dan antek-anteknya, termasuk Saudi Arabia, dan semua tahu Saudi teman setia Amerika dan Zionis Israel.

Hegemoni mereka atas dunia Islam mulai tergugat, mereka tersaingi dalam peta politik Islam, dan pandangan dunia Islam bergeser kepada Iran yang maju terus pantang mundur sekalipun di embargo dunia.

Saudi merasa terusik, Amerika Serikat merasa tergugat, Zionis merasa krisis, maka dikeluarkanlah jurus untuk mengerdilkan dan menjauhkan umat dari Iran dengan menimbulkan konflik setkarian “Sunni-Syiah” melalui media massa, dan sebagian umat Islam, sadar maupun tidak, ikut terpropokasi dalam pusaran konflik Timur Tengah tersebut. Ini agenda merusak persatuan umat Islam yang mulai kokoh dan utuh! waspadalah! (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL