kiamatAda pepatah terkenal yang sering kita dengar, yaitu ‘jika ada pertemuan maka ada perpisahan’, ‘jika ada awal maka ada akhirnya’. Ungkapan ini memiliki nilai pemikiran yang dalam yang mengindikasikan adanya pasangan dalam tatanan alam semesta. Karenanya, setelah kita mengakui tentang adanya asal mula keberadaan (mabda) yang dikaji dalam pembahasan ketuhanan, maka selayaknya pula kita mengakui akhir dari keberadaan (al-ma’ad). Namun, agar keyakinan kita semakin kokoh dan utuh akan terjadinya hari akhir, maka akan diturunkan beberapa argumentasi baik secara akal maupun menurut wahyu. Penggunaan wahyu dalam hal ini, sudah dapat digunakan karena kita telah membuktikan kenabian dan kebenaran wahyu. Argumentasi-argumentasi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Burhan al-Harakah (Argumentasi Gerakan). Gerakan didefenisikan dengan keluarnya suatu potensi yang mungkin menjadi sebuah kenyataan yang dimungkinkan (khuruj min al-quwwati ila al-fi’li). Setiap gerakan punya tujuan, karena alam semesta ini bergerak dan setiap yang bergerak punya tujuan sebagai tempat terakhir atau tempat peristirahatan ketika sampai, maka berarti alam semesta yang selalu bergerak ini punya tempat peristirahatan atau tempat perhentian terakhir. Inilah yang dikenal dengan hari kiamat atau hari akhir.
  2. Burhan al-Haqiqah (Argumentasi kebenaran). Allah adalah Haq, karenanya Dia niscaya menampakkan kebenaran disamping kemunafikan dan kekafiran sebagai tempat berakhir. Jadi munculnya kebenaran secara nyata merupakan tempat berakhir alam fisik maupun metafisik. Perwujudan kebenaran ini disebut dengan hari akhir (ma’ad).
  3. Burhan al-Hikmah (argumentasi kebijaksanaan). Allah melakukan perbuatan dengan tujuan dan hikmah karena Dia merupakan wujud kesempurnaan mutlak yang tidak terbatas dan tidak membutuhkan. Karena Dia Maha Bijak maka tidak akan keluar dari-Nya perbuatan tanpa tujuan, sebab itu terjadinya hari kiamat dan adanya tujuan bagi alam penciptaan adalah dharuri (keniscayaan). Kehidupan dunia tidak mungkin merupakan tujuan akhir penciptaan manusia, karena keterbatasannya (terikat ruang dan waktu), bahkan dipenuhi berbagai macam persoalan yang menghadangnya, kemudian mati dan berakhirlah segala sesuatu? Tidak mungkin Tuhan berbuat kesia-siaan seperti ini, Karena tujuan mesti berakhir maka alam mempunyai akhir tujuan yaitu ma’ad.Allah berfirman : “Apakah kamu mengira bahwa Kami ciptakan kamu sia-sia dan kamu tidak kembali kepada Kami?(QS. Al-Mukminun : 115)
  4. Burhan al-Rahmah (argumentasi kasih sayang). Rahmat Allah adalah pemberian kesempurnaan pada setiap yang berpotensi untuk sempurna. Setiap yang berpotensi untuk sempurna, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya, karena yang dimaksud dengan rahmat Allah adalah pelimpahan kesempurnaan-Nya. Adapun prinsip kesempurnaan menghendaki, dengan rahman dan rahim-Nya, Allah swt terus menerus memberikan limpahan anugerah yang tiada henti untuk tercapainya sebuah kesempurnaan diri (al-takamul al-basyari). Dalam hal ini Allah berfirman,“Dan Allah telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan lagi kedatangannya.” (QS. Al-An’am : 12)  Kehidupan tanpa tujuan adalah kehidupan yang sia-sia, karena itu Allah mustahil melakukan kesia-siaan, karenanya tujuan utama bagi seluruh makhluk adalah kesempurnaan. Alam semesta inipun akan mengalami penghancuran untuk mencapai kesempurnaanya.Inilah yang disebut hari akhir.
  5. Burhan al-Adl (Argumentasi Keadilan). Prinsip keadilan menunjukkan bahwa setiap perbuatan mesti mendapatkan balasan yang sesuai, bagi perbuatan yang baik maupun  perbuatan yang buruk. Sedangkan di dunia ini kita sering melihat ketidakadilan berlangsung tanpa henti, maka sudah sewajarnya Allah mempersiapkan suatu masa pembalasan yang seadil-adilnya. Itulah hari akhir, yang disebut juga dengan hari pembalasan, “Apakah orang-orang yang berbuat maksiat mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan berbuat baik, sama antara hidup dan mati mereka? Sungguh buruk kesimpulan mereka”.(QS. Al-Jasiyah : 21)
  6. Argumentasi keterbatasan. Setiap yang terbatas pasti berawal dan berakhir. Karena alam ini terbatas maka ia akan berawal dan juga pasti berakhir. Berakhirnya alam dunia ini, akan memasuki alam akhirat, inilah yang disebuthari akhir.
  7. Dalil Wahyu. Secara naqliah, ada sekitar 1200 ayat Al-Quran yang berbicara tentang kebangkitan dan hari akhir dalam berbagai bentuknya, yang didukung oleh beragam penjelasan Nabi saww dalam berbagai haditsnya. Di dalam al-Quran Allah berfirman: “Allah, tiada tuhan selain Dia. Ia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan kedatangannya” (Q.S. An-Nisa: 87) banyak lagi ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang peristiwa kiamat seperti yag terdapat dalam surat Al-Qari’ah, Al-Insyiqaaq, Al-Infithaar, At-Takwir, Al-Haqqah, dan sebagainya, bahkan salah satu surat al-Quran dinamakan dengan al-Qiyamah.

Jadi dengan landasan-landasan ini, baik wahyu maupun akal (naqli dan aqli) tidak ada jalan bagi manusia untuk mengingkari adanya hari akhir kecuali karena kekerasan hati dan kepicikan akal. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL