Oleh : Ja’far Umar

murji'ahKonsep Iman dan Dosa Besar Menurut Murjiah

Kata Murji’ah ini mempunyai dua pengertian. Pertama, Murji’ah berarti penangguhan. Dan kedua, murji’ah berarti memberi harapan. Pengertian pertama lebih tepat digunakan untuk menyebut suatu kelompok Muslim priode awal karena mereka menangguhkan perbuatan dari niat dan balasan. Pengertian kedua menjelaskan bahwa iman tidak terganggu karena berbuat maksiat, sebagaimana ketaatan tidak terpengaruh karena kekafiran. Sebagian pendapat menyatakan bahwa kata ‘irja bermakna penangguhan hukuman kepada orang yang berbuat dosa besar sampai kiamat (Asy-Syahrastani,2005:174-180).

Kaum Murji’ah ini berpandangan bahwa dosa besar tidak merusak keimanan, sebagaimana ketaatan tidak memberi manfaat bagi orang-orang kafir. Di antara pendukung ini berpendapat bahwa persoalan pelaku dosa besar diserahkan kepada Allah SWT pada hari kiamat(Abu Zahrah,1996 :143). Dikatakan bahwa pelaku dosa besar itu masih memiliki harapan untuk memperoleh ampunan dari Allah SWT. Bisa saja Allah SWT mengampuni pelaku dosa besar sehingga Allah SWT memasukkan pelaku dosa besar itu ke dalam surga. Sebaliknya, bisa saja Allah SWT tidak memberi ampun kepadanya sehingga Allah SWT memasukkannya ke dalam neraka. Kendati demikian, Allah SWT memiliki wewenang untuk memberikan karunia kepada pelaku dosa itu untuk dapat masuk surga. Menurut paham Murji’ah, bahwa pelaku dosa besar akan masuk neraka secara sementara sesuai dengan dosa yang diperbuatnya, sesudah itu pelaku dosa tersebut akan masuk surga (Suma,2002 : 347-348).

Ja’far Subhani menuliskan bahwa bagi kaum Murji’ah, amal tidak termasuk dalam keimanan, karena itu orang beriman tidak melakukan dosa besar, sebagaimana imannya para malaikat dan para nabi. Karena hal itu sesuai dengan semboyan mereka yakni mendahulukan iman dan menangguhkan amal. Kaum Murji’ah menafsirkan iman sebagai cukup dengan sekedar pengakuan kalimat syahadah secara lafal, yakni ma’rifah al-qalbiyah, ma’rifat kepada Allah secara hati. Karena itu, ketika orang beriman melakukan maksiat atau dosa besar, maka Allah SWT tidak akan mengazab mereka dan mereka tidak akan masuk neraka karena neraka hanya diperuntukkan bagi orang-orang kafir saja (Subhani,1997 : 47-48).

Dengan kata lain, menurut kaum Murji’ah bahwa iman hanyalah pengakuan (iqrar) atau keyakinan hati dari pada amal dalam bentuk perbuatan. Perbuatan tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan seseorang itu muslim atau kafir. Iman juga bersifat konstan, tidak bertambah dan tidak berkurang (laa yadzidu wa la yanqus)(Suma,2002, : 347-348; al-Asy’ari, 1998: 196-204).

Lebih jelas tentang status pelaku dosa besar ini, setidaknya kaum Murji’ah terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama menempuh pola sikap menangguhkan persoalan terhadap pelaku dosa besar. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar ditangguhkan kasusnya, dan diserahkan kepada Allah SWT. Mereka menahan diri dari memperbincangkan pertentangan politik karena dasar pertentangannya adalah hukum kafir yang dijatuhkan golongan Khawarij terhadap semua orang yang berbeda pendapat dengan mereka.

Kelompok kedua tidak hanya bersifat pasif terhadap pelaku dosa besar, lebih dari itu mereka menetapkan bahwa dosa tidak membahayakan iman. Mereka berpandangan bahwa iman adalah pengakuan, pembenaran, keyakinan, dan pengetahuan. Perbuatan maksiat tidak membahayakan iman. Iman terpisah dari perbuatan. Di antara kelompok ini malah ada pula bersikap ekstrim dengan beranggapan bahwa keimanan adalah keyakinan hati. Dengan demikian, jika seseorang menyatakan kekafiran dengan lidahnya, menyembah berhala, bergabung dengan Yahudi dan Nashrani di wilayah Islam, menyembah salib, lalu orang tersebut mati dalam keadaan seperti itu, maka orang tersebut tetap disebut seorang mukmin, yang imannya sempurna di sisi Allah SWT serta termasuk ahli surga(Abu Zahrah, 1996 : 145-146).

Para pemuka aliran Murji’ah berbeda pendapat tentang persoalan pengampunan Allah SWT atas pelaku dosa besar karena melakukan tobat. Sebagian pemuka menjelaskan bahwa pengampunan Allah SWT atas pelaku dosa besar karena melakukan tobat itu merupakan suatu karunia-Nya yang bisa saja terjadi, tetapi hal ini bukan merupakan suatu kewajiban-Nya. Sebagian lagi mengemukakan bahwa pengampunan Allah SWT atas pelaku dosa besar karena melakukan tobat itu merupakan suatu kewajiban-Nya (Al-Asy’ari,1998: 215). (hd/liputanislam.com)

*Ja’far Umar adalah kandidat doktor UIN Sumatera Utara

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL