bukuUlama-Sejagad-salafi-wahabiGerakan Wahabi bisa berkembang pesat di Timur Tengah karena ditunjang dengan modal yang penuh karena melimpahnya minyak di sana. “Wahabi mempunyai motif kekuasaan. Jadi, slogan pemurnian yang dibawa Wahabi sangat politis, sekaligus ekonomis, dan bekerjasama dengan penguasa, sehingga slogan pemurnian ala Wahabi bercorak otoritarianistik,” ujar Satrawi. Gerakan Wahabi, kata dia, cenderung menghabisi semua tradisi-tradisi yang ada dan menganggap kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai “kafir”. Karena gerakan ini tadinya bekerjasama dengan militer penguasa, maka ada pemaksaan, pemberantasan besar-besaran terhadap tradisi lokal.

Sejarah mencatat bahwa Wahabi dalam menerapkan pemahaman keagamaanya penuh dengan noda hitam, aksinya tidak pernah pernah lepas dari aksi-aksi kekerasan, baik doktrinal, kultural, maupun sosial. Dalam penaklukan jazirah Arab tahun 1920, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh. Selain itu, kekayaan dan para wanita dari daerah yang mereka taklukkan diambil sebagai rampasan perang. Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka.

Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eksklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita. Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai.

Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur’an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau’idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi. Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafii, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. Wahabi juga berniat menghancurkan Makam Nabi Muhammad Saw yang oleh Wahabi sendiri dianggap sebagai tindakan musyrik, karena banyaknya orang-orang berziarah dan berdoa di makam Rasulullah Saw tersebut.

Suksesnya gerakan pemurnian Islam ala Wahabi ini sendiri tak terlepas dari peran Inggris, sebagaimana menurut Abdullah Mohammad Sindi, seorang profesor Hubungan Internasional berkebangsaan Saudi-Amerika, dalam artikelnya ‘Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud‘, pemerintah Inggris turut andil dalam membidani gerakan Wahabi tersebut, dengan tujuan menghancurkan kekuatan Islam dari dalam, dan meruntuhkan Daulah Turki Ustmaniyah (Ottoman), yang waktu itu menjadi pemimpin negara-negara Islam.

Prof. Sindi merujuk ‘Hempher: The British Spy to the Middle East’, buku memoar Hempher, seorang anggota dinas rahasia Inggris yang berhasil menyusup menjadi mentor Abdul Wahab dalam ideologi dan strategi perjuangan. Untuk memudahkan tugasnya, Hempher berpura-pura menjadi seorang mualaf dengan nama Muhammad. Selama penugasan, sebagaimana yang diceritakan, Hempher pernah berdiam di Basrah, Irak, dan pada tahun 1125 H ia bertemu dan bersahabat dengan Abdul Wahhab. Sejak saat itu, mereka berdua diceritakan pula menjalin persahabatan yang dekat. Hempher mendekati Abdul Wahab dalam waktu yang relatif lama, memberinya saran, dana untuk pergerakan dan hadiah-hadiah lain yang menarik. Dengan cara yang licik ia berhasil mencuci otak Abdul Wahab, meyakinkan bahwa orang-orang Islam yang sesat mesti dibunuh, karena telah melakukan penyimpangan yang berbahaya.

Karena melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik, mereka dianggap telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, dan satu-satunya cara adalah memperbaikinya dengan “tangan” (yad) atau kekuatan. Abdul Wahab yang terobsesi dan merasa bertanggung jawab untuk memurnikan dan mereformasi Islam, membentuk sebuah aliran baru untuk menyerang dan memberantas semua kebiasaan buruk yang ada dalam masyarakat Arab waktu itu. Hempher pun berhasil membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad bin Sa’ud, penguasa Di’riyyah, untuk mendukung gerakan Abdul-Wahhab.

Brahma Chellaney, guru besar studi strategis pada Center for Policy Research di New Delhi, dan penulis Asian Juggernaut dan Water Asia’s New Battleground, dalam sebuah artikelnya menuliskan bahwa Saudi yang menerapkan Islam Wahabi, dikenal sebagai sumber fundamentalisme modern Islam yang mengekspor bentuk keyakinan tidak terkendali dengan mendukung kelompok-kelompok muslim ektremis di negara lain, yang lambat-laun mematikan tradisi Islam yang lebih liberal.

Pemahaman agama ala Wahabi ini tentu saja telah mematikan kreativitas dan ijtihad dalam beragama, begitupun juga sikap otoriter para elit agama yang berangkat dari penuhanan terhadap interpretasi atas teks yang pada gilirannya timbul anggapan bahwa tafsirannya adalah satu-satunya interpretasi yang dikehendaki oleh pembuat teks. Padahal seperti dikatakan Amin Abdullah, ketika proses pemahaman teks yang sesungguhnya bersifat interpretatif dibatasi oleh para elit agama yang mengatasnamakan tuhan, maka sebenarnya ia telah terjerumus ke dalam sifat despotisme interpretasi. Persoalan inilah yang menurut Khaled Aboel Fadhel telah dipertontonkan lembaga keagamaan di Arab Saudi yang berbasiskan Wahabi. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL