bukuUlama-Sejagad-salafi-wahabiDi sebuah dusun terpencil bernama Di’riyyah, Najd (Nejed), Jazirah Arab, Abdul Wahab mencetuskan sebuah paham yang mengakui pengikut ahl as-Salaf, oleh pengikutnya diberi nama al-Muslimun, atau disebut juga al-Muwahhidun, yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan ketauhidan Allah SWT. Namun, paham tersebut lebih dikenal sebagai Wahabi, istilah yang diberikan karena melihat adanya perbedaan cara yang jelas dengan Salafiyah. Pemahaman literal  Wahabi tersebut akhirnya mengeklusif dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam (takfirisme).

Menyebut Wahabi tidak bisa dilepaskan dari gerakan salafiyah yakni kelompok yang memahami agama sebagaimana orang terdahulu (shalafus shalih), sebagaimana yang dimaklumi Wahabi adalah sekte Islam yang kaku dan keras, sekte ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu kepada teks literal terhadap al-Qur’an maupun Hadist. Inilah yang menjadikan sekte Wahabi ini menjadi sangat anti tradisi, menolak tahlil, ziarah kubur, maulid Nabi Muhammad Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. Gerakan Salafiyah yang paling sukses secara politik adalah gerakan Islam militan yang dikenal sebagai Wahabi, didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab ibnu Sulaiman at-Tamimi (1703-1791).

Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab, lahir pada 1703 M/1115 H di Uyainah (Najd,Saudi Arabia). Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal, yangdalam perjalanan sejarahnya, harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. Sulaiman bin Abd Wahab yang merupakan kaka dari Muhammad bin Abdul Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut dalam kitab as-Sawaiq al-Ilahiyah fi ar-Rad al-Wahabiyah.

Tentu saja, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. Pemahaman keagamaan inilah yang menandakan bahwa sekte Wahabi ini tidak menggunakan standar akal dalam memahami Islam, mereka menolak filsafat, tasawuf atau irfan. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.

Menurut Faisal Djindan, paham Wahabi sering disebut sebagai neo-Khawarij, yaitu paham yang timbul pada awal abad lahirnya Islam, persisnya di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ciri mencolok dari paham ini adalah penuh kesalehan dan kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah formal, pemahaman agama secara harfiah (tekstual), dan berlaku hitam-putih dalam pemahaman keagamaan yang berakibat mudah menuduh kepada yang selain mereka sebagai “kafir”, “sesat”, “ahli bid’ah”, dan sebagainya.

Gerakan Wahabi pada awalnya adalah gerakan pemurnian (puritanisme) terhadap ajaran Islam yang mulai kehilangan elan vitalnya. Namun, pada titik tertentu, aktivis gerakan tersebut melakukan penyebaran ide dan gagasan baru tersebut dengan cara memaksakan dan mengabaikan konsep Islam yang rahmatan lil ‘alamin.Seorang pengamat dari Universitas al-Azhar, Kairo, Hasibullah Satrawi mengatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahab sebagai pendiri sekte Wahabi ini menyebarkan pemikirannya dengan menggunakan tangan kekuasaan Raja Saudi yakni Ibnu Saud saat itu. Oleh karena itu paham Wahabi menjadi ajaran yang kuat dan mayoritas di Negara  Arab Saudi.

Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir’iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid’ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL